Kearifan lokal cegah paham Radikal dan Terorisme

106

Oleh: Rommi Preno Pasaribu S.Pd

Sebelum memulai tulisan ini, Penulis terlebih dulu ingin menyampaikan sekilas mengenai pengertian judul karya tulis ini tentang Kearifan Lokal, Paham Radikal dan Terorisme. Ketiga suku kata ini, memiliki makna yang sangat dalam sesuai dengan pendapat para ahli dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Disamping pemahaman menurut ahli, penulis sendiri sebagai penulis tentu akan menarik kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan Kearifan lokal, Paham Radikal dan Terorisme.

Pertama, Kearifan lokal dalam bahasa asing sering dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat (local wisdom), pengetahuan setempat (local knowledge) atau kecerdasan setempat (local genious). Kearifan lokal juga dapat dimaknai sebuah pemikiran tentang hidup. Pemikiran tersebut dilandasi nalar jernih, budi yang baik, dan memuat hal-hal positif.

Menurut para ahli, Haryati Soebadio berpendapat bahwa kearifan lokal adalah suatu identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri.

Sementara menurut ahli lain, Rahyono (2009:7) kearifan lokal merupakan kecerdasan manusia yang dimiliki oleh kelompok etnis tertentu yang diperoleh melalui pengalaman masyarakat. Artinya, kearifan lokal adalah hasil dari masyarakat tertentu melalui pengalaman mereka dan belum tentu dialami oleh masyarakat yang lain. Nilai-nilai tersebut akan melekat sangat kuat pada masyarakat tertentu dan nilai itu sudah melalui perjalanan waktu yang panjang, sepanjang keberadaan masyarakat tersebut.

Dari penjelasan kedua ahli ini, penulis berkesimpulan, bahwa Kearifan lokal merupakan suatu kesimpulan yang diambil dari hasil musyawarah dan mufakat, dimana hasil tersebut dibakukan oleh sekelompok atau suku masyarakat, untuk dijadikan sebagai suatu petunjuk dalam aktivitas kehidupan sehari-hari mereka, dan kesepakatan itu menjadi dasar sebuah suku dalam Negara.

Kedua Paham Radikal. Paham Radikal atau Radikalisme dalam artian bahasa berarti paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan social dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.

Namun, dalam artian lain, esensi radikalisme adalah konsep sikap jiwa dalam mengusung perubahan. Sementara Radikalisme Menurut Wikipedia adalah suatu paham yang dibuat-buat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan.

Namun bila dilihat dari sudut pandang keagamaan dapat diartikan sebagai paham keagamaan yang mengacu pada fondasi agama yang sangat mendasar dengan fanatisme keagamaan yang sangat tinggi, sehingga tidak jarang penganut dari paham / aliran tersebut menggunakan kekerasan kepada orang yang berbeda paham / aliran untuk mengaktualisasikan paham keagamaan yang dianut dan dipercayainya untuk diterima secara paksa.

Dari pengertian paham Radikal diatas, penulis berkesimpulan, bahwa Paham Radikalisme merupakan, suatu kepercayaan yang diberikan oleh sekelompok orang, dengan memberikan doktrin kuat kepada individu atau calon laskarnya. Dimana doktrin yang diberikan ini, biasanya menentang kepercayaan yang ada, serta melakukan perpecahan diantara masyarakat, termasuk akan melawan keras Pemerintah demi tujuan mereka.

Ketiga, Terorisme, Pengertian Terorisme menurut Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi Undang-Undang.

“Terorisme adalah penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas Internasional”.

Terorisme berasal dari bahasa latin Terrere yang berarti menimbulkan rasa gemetar dan rasa cemas (Mark Juergensmeyer). Sedangkan dalam bahasa Inggris to terrorize yang artinya menakut-nakuti. Menurut Konvensi PBB tahun 1989 menyatakan bahwa terorisme adalah segala bentuk tindakan kejahatan yang dilakukan langsung kepada negara dengan maksud menciptakan teror terhadap orang-orang tertentu atau kelompok orang atau masyarakat luas. Sementara, menurut Kamus besar bahasa Indonesia, pengertian Teror ialah rasa takut yang ditimbulkan oleh orang atau sekelompok orang. Sedangkan pengertian Terorisme adalah suatu kegiatan yang menimbulkan tekanan dan ketakutan.

Dari beberapa pengertian Terorisme menurut para ahli dan kamus Besar Bahasa Indonesia ini. Penulis berkesimpulan, bahwa Terorisme ini muncul akibat adanya paham Radikal yang memberikan doktrin kuat kepada para penganutnya dengan tujuan dan janji untuk memberikan kesenangan serta kesetaraan hidup kepada penganutnya, sehingga rela mengorbankan apapun untuk menjunjung tinggi dan mempertahankan paham atau kepercayaan yang diajarkan. Bahkan, jika mereka sudah menanamkan paham Radikal ini dibatinnya, orangtuanya sendiripun akan dilawan jika memang tidak mendukung pemahaman yang dia miliki dari orang-orang yang membawa paham Radikal tersebut.

Tentunya, untuk menangkal menyebarnya Paham Radikal di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sangat dipengaruhi oleh peranan media yang setiap informasi yang tertulis akan dikonsumsi oleh publik (khalayak ramai), dan untuk menangkal paham-paham ini, tentu media diharapkan untuk menyajikan tulisan-tulisan yang memberikan pendidikan positif terhadap masyarakat banyak, baik anak-anak, kalangan muda hingga orang yang sudah tua. Media atau para jurnalisnya diharapkan, mampu memberikan informasi yang mendidik, serta menghilangkan tulisan-tulisan yang kelak bisa menjadikan perpecahan.

Media serta jurnalisnya diharapkan menjadi garda terdepan dalam memerangi paham-paham Radikal yang kapan saja bisa muncul ditengah-tengah masyarakat. Memerangi paham Radikal dan Terorisme melalui media tentu sangat besar. Tidak hanya pandangan positif, terjangkitnya paham Radikal, juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan media sosial, maka dari itu. Peranan media online perlu diperkuat untuk memberikan informasi yang profosional dan data kongkrit sesuai fakta, sehingga penyebaran Hoax yang menjerumus kedalam paham Radikal, bisa ditangkal secara perlahan. Bahkan, keprofesionalan jurnalis dan medianya tentu harus teruji serta memiliki badan hukum sesuai dengan peraturan yang berlaku, karena hal ini akan memberikan rasa percaya yang kuat kepada pembacanya dalam mengkonsumsi informasi tersebut untuk disampaikannya kepada siapapun.

Selain menangkal melalui media, yang memiliki peranan cukup penting dalam menangkal paham Radikal dan Terorisme juga berada dalam penyebaran Agama. Perlu diketahui, ajaran Agama tidak ada yang bertujuan untuk melakukan perpecahan, agama selalu mengajarkan umat yang menganutnya untuk cinta akan perdamaian. Tentunya, dalam menangkal penyebaran paham Radikal ini, para ulama, tokoh Agama, Pendeta, Pastor serta pengurus Mesjid, dan Gereja diharapkan mampu mengusai kemajuan jaman. Sehingga mereka bisa memberikan ceramah kepada umatnya sesuai perkembangan jaman saat ini, serta memberikan solusi kepada umatnya, untuk tidak gampang terpengaruh dengan issu-issu yang disampaikan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Apalagi, issu itu bisa membuat perpecahan diantara masyarakat.

Dalam kesempatan ini, penulis selaku kelahiran Tapteng, akan mencoba membahas kearifan lokal didaerah kota Sibolga dan Tapanuli Tengah. Dalam tulisan ini, penulis akan memberikan contoh kehidupan yang terjadi di Kota Sibolga-Tapteng. Perlu anda ketahui, Luas Wilayah Kota Sibolga hanya, 10,77 km2, sementara Luas wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah 2.194,98 km2 . antara Sibolga dan Tapanuli Tengah, merupakan dua wilayah yang tidak bisa dipisahkan meskipun sudah berbeda pemerintahan. hal itu disebabkan, seluruh wilayah daratan Kota Sibolga berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Tengah. Dan sebelum adanya Sibolga-Tapteng, kedua wilayah ini memiliki satu kepemimpinan yakni Keresidenan Tapanuli. Itulah sebabnya secara sosial dan kebudayaan, Sibolga dan Tapanuli Tengah memang tidak terpisahkan bahkan secara tradisional sering kali dianggap sama saja. Apalagi, antara masyarakat Tapteng dan Kota Sibolga saling memiliki kaitan antara satu dengan yang lain, mereka berbaur tanpa terlihat adalnya perbedaan.

Upaya kedua daerah ini sangat bagus dalam menangkal Paham-paham Radikal dan Terorisme. Dimana kerukunan antara masyarakat di dua daerah ini sangat bagus, tanpa memandang Agama, Suku dan Budaya yang mereka anut. Contohnya saja, jika terjadi pesta Pernikahan, masyarakatnya akan terlihat saling berbaur. Dimana, yang beragama Muslim akan turut ambil bagian dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat yang beragama Kristen. Sebaliknya, yang beragama Kristen akan ambil bagian dalam pesta yang dilaksanakan masyarakat yang beragama Muslim. Keunikan inilah yang menjadi ciri khas dari kedua daerah Sibolga-Tapanuli Tengah.

Selain dalam pesta Pernikahan, masyarakat di Sibolga-Tapteng juga selalu berbaur saat berada di kedai kopi, serta tempat kerja. Mereka terlihat seperti tidak ada perbedaan, mereka saling menyapa, saling bercerita meskipun kadang mereka menggunakan bahasa masing-masing. Keunikan inilah yang membuat kota Sibolga dan Tapanuli Tengah, terjauh dari paham Radikal dan Terorisme. Semua masyarakatnya masih memiliki hubungan kekeluargaan dari segi marga. Baik itu keluarga Istri, suami dan bahkan hanya satu margapun, mereka akan mencari hubungan supaya mendekatkan diri.

Di kota Sibolga, saling menyinggung Agama yang satu dengan Agama yang lain, selalu dipantangkan. Hal itu, karena masyarakat Sibolga berasal dari beberapa suku dan agama yang berbeda. Dan tidak salah jika Sibolga diberikan julukan, “Negeri Berbilang Kaum, Perekat Antar Umat Beragama”. Toleransi antar umat beragama di Kota Sibolga memang sangat kuat, dan itu semua diperkuat oleh peran serta masyarakat yang tidak pernah merasa ada perbedaan diantara mereka. Bahkan, dalam satu keluarga juga sering terdapat keunikan, dimana kita bisa melihat dalam satu keluarga ada yang beragama Muslim dan Kristen.

Bahkan, dalam perayaan besar Agama, Hari Raya Idul Fitri, para masyarakat yang beragama Kristen akan berdatangan untuk berhari raya kepada rekan mereka yang beragama Muslim, sebaliknya dalam perayaan Tahun Baru, yang muslim juga berdatangan kerumah kawan mereka untuk mengucapkan selamat Tahun Baru kepada mereka yang beragama Kristen. Inilah kebiasaan masyarakat yang menjadi keunikan masyarakat Sibolga-Tapteng. Atas sikap toleransi dan perdamaian antara umat beragama di kota Sibolga, Penulis sebagai penulis mengakui serta yakin kalau Kearifan lokal mampu menangkal paham-paham Radikal dan Terorisme.

Diawal tulisan ini, penulis sudah mengambil kesimpulan, bahwa Kearifan lokal adalah suatu kesepakatan dari hasil musyawarah yang bisa mempengaruhi masyarakat luas. Salah satu contohnya, “Dalihan Na Tolu” yang mejadi Filsafah suku batak dan selalu diperguanakan dalam kehidupan sehari-hari. Secara nyata, Filsafah tentang Dalihan Na Tolu ini, tentunya sangat mampu menangkal terjangkitnya paham Radikal. Dimana, dengan Dalihan Na Tolu, masyarakat akan tetap dipersatukan. “Dalihan Na Tolu” adalah Somba Marhula-hula (Hormat kepada keluarga istri atau mamak), Elek Marboru (Pandai mengambil hati keluarga dari suami anak perempuan atau ponakan), Manat Mardongan Tubu (Menghargai Keluarga Satu Marga).

Sesuai dengan pengakuan tokoh adat Batak Eriel Gorat, dengan adanya Filsafah Batak tentang “Dalihan Na Tolu” maka paham Radikal sangat mudah dibantahkan. Karena secara tidak langsung, jika “Dalihan Na Tolu” dipahami. Maka hubungan family atau kekeluargaan akan terjalin secara spontan, tanpa menyadari adanya perbedaan diantara masyarakat. Eriel yang mengaku beragam Kriten ini bercerita, bahwa salah seorang adik perempuannya masuk kedalam Agama Muslim, tetapi meskipun adiknya masuk muslim, hal ini tidak menjadi persoalan baginya, karena Agama bukan menjadi penghalang kasih antara seorang kakak adan adik bagi keluarganya. Hal itu dia buktikan dengan kondisi keluarga mereka yang masih terjaga sampai saat ini.

Bahkan, ketika adik perempuannya melaksanakan acara, Eriel Gorat bersama keluarganya selalu diundang dan dihargai sesuai dengan “Dalihan Na Tolu”. Menurut Eriel, “Dalihan Na Tolu” harus tetap dilestarikan demi menjaga hubungan kekeluargaan dengan siapapun. Tokoh adat yang juga disebut Raja Kampung di Kabupaten Tapanuli Tengah ini, menjelaskan, bahwa “Dalihan Na Tolu” secara tidak sengaja bisa menyatukan orang yang tidak saling mengenal. Jika satu marga bertemu disuatu tempat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih tua atau muda, dan jika laki-laki bertermu dengan perempuan, mereka juga akan saling tahu, apa hubungan keluarga mereka dengan dasar “Dalihan Na Tolu”.

Disamping adat istiadat Batak, di Sibolga dan Tapanuli Tengah, juga berkembang Lembaga Budaya Seni Nagari Pasisir (LABASINAR) Tapteng yang diketuai oleh Abdul Rahman Sibuea, sesuai penjelasan Abdul Rahman, salah satu cara mencegah paham Radikal sangat bagus dengan memberdayakan Budaya dan adat istiadat yang berlaku. Ketika Abdul Rahman ditanya mengenai cara mereka untuk menangkal Paham Radikal dan Terorisme, Abdul Rahman menjelaskan, bahwa untuk mencegah radikalisme, yang pertama harus melakukan pengkajian tentang perkembangan jaman (hal apa yang mencuat sebagai upaya untuk memecah belah bangsa), lalu mengadakan musyawarah. Dengan tujuan musyawarah, agar masyarakat tidak gampang terpengaruh dengan paham-paham yang dapat menyebabkan perpecahan.

Kata Abdul Rahman, kehidupan dibudaya pesisir itu sangat indah, semua lini berbaur, mereka terdiri dari berbagai ras, termasuk suku batak dan nias, padang dan suku lainnya. Untuk menangkal terjadinya paham Radikal dan Terorisme ini, LABASINAR selalu melakukan pengembangan keberbagai tempat yang menjadi lokasi perkumpulan masyarakat. Pengurus LABASINAR akan melakukan syar atau memberikan pencerahan kepada masyarakat kecil yang kurang memahami perkembangan jaman. Tentunya LABASINAR akan mendatangi seluruh komunitas pesisir, diberbagai kedai juga kita sampaikan bagaimana perkembangan jaman yang terus menerus berputar. sebagai pengurus LABASINAR, tentu memiliki peran penting dengan selalu melihat atau mendeteksi dini perkembangan yang terjadi, meskipun itu yang baru atau tidak. Seperti saat ini, yang di issukan Rohingnya, disinilah posisi kita untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat kalangan bawah yang kurang mengikuti perkembangan jaman, agar tidak terprovokator oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab.

Menurutnya, secara langsung paham Radikal akan sangat susah menyusup ditengah masyarakat, karena antara masyarakat yang satu selalu ada hubungan, baik secara agama, serta suku. Contohnya, Akukan suku batak, keluargaku banyak kristen. Nah, dipesisir ini cukup indah karena ada keterbukaan, dan kemajemukan. Apakah dengan kemajemukan ini, paham Radikal akan bisa menyusup. Penulis jamin tidak akan pernah ada paham Radikal di Sibolga-Tapteng ini. Abdul Rahman menjelaskan, bahwa LABASINAR merupakan Lembaga budaya, dan didalam budaya ada adat. Disini masyarakatnya saling punya hubungan satu sama lain. Kita sama-sama punya tali pengikat. Meskipun perpolitik tok sekalipun yang datang atau siapapun yang ditembakkan untuk memberikan pengaruh perpecahan kepada masyarakat terlebih menjadi terorisme atau perpecahan untuk memusuhi Negara, penulis jamin di Tapteng tidak akan terjadi paham-paham Radikal apalagi terorisme.

Untuk lebih memperkuat penangkalan paham Radikal dan terorisme ini Ketua LABASINAR Tapteng Abdul Rahman Sibuea menyarankan kepada Pemerintah untuk membiasakan diri melakukan musyawarah kepada semua lini, terlebih kepada tokoh Agama, Tokoh Adat, Lembaga Budaya, Ormas Agama, serta Ormas Kepemudaan. Ini semua akan berperan aktif dalam penangkalan paham Radikal. Intinya harus sering dilakukan musyawarah. bule ai dek pambulu, bule kato dek mupakat (Semua permasalahan itu dapat diselesaikan dengan musyawarah dan mufakat).

Patar Hamonangan Manik SE lurah Pasir Bidang, Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah yang posisi kelurahannya berada diperbatasan antara Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah. Patar bercerita, di kelurahannya penduduk berasal dari suku dan agama yang berbeda, namun perbedaan itu malah dijadikan sebagai warna yang cukup bagus oleh masyarakat. Antara masyarakat muslim dan kristiani saling menyapa seperti tidak ada perbedaan sama sekali. Jika ada yang meninggal atau pesta, masyarakat saling berkunjung dan saling menghargai satu sama lain, tanpa terlihat sedikitpun perbedaa. Bahkan, dalam kehidupan bermasyarakat, mereka selalu bercampur. Jadi kalau ada orang yang baru datang, tentu akan bingung melihat kebersamaan yang dimiliki oleh masyarakat.

Ketika ditanya, bagaiamana cara lurah dalam mempertahankan kebersamaan yang dimiliki oleh masyarakat ini. Patar menuturkan, bahwa selama dia menjabat sebagai Lurah di perbatasan ini, dia sering melakukan musyawarah untuk mufakat, sering mempersatukan para tokoh agama dan tokoh adat dalam suatu pertemuan. Jika ada unek-unek yang mau disampaian oleh umat muslim, maka akan disampaikan dalam musyawarah, sebaliknya jika ada persoalan yang mau disampaikan oleh umat kristen, jika akan dilakukan musyawarah. Kebiasaan ini, terus-menerus dijaga dengan rasa dan sikap saling menghargai.

Selain dalam acara atau dalam pengambilan keputusan, Patar Hamonangan Manik selaku lurah membeberkan, bahwa dikelurahan yang dia pimpin, sikap toleransi juga sangat tinggi hal itu dilihat ketika ada perbaikan mesjid, maka yang umat kristen akan terlibat dalam gotong royong dimesjid itu, sebaliknya jika ada perbaikan gereja, umat muslim juga akan turut ambil bagian dalam mengerjakan atau bergotong royong dengan umat kristen. Kebiasaan inilah, yang selama ini selalu dijaga. Bahkan, Patar sebagai lurah juga selalu melakukan pendekatan dengan kepling-kepling, termasuk para anak muda. Dengan tujuan, kiranya kepling dan generasi muda ini, bisa berkordinasi dengan Bhabinsa dan Babinkantibmas dalam memberantas Narkoba dan Perjudian.

Selaku kepala pemerintahan di kelurahan, Patar menyarankan kepada pihak penegak Hukum dan Pemerintah Kabupaten, kiranya turut serta melibatkan masyarakat kalangan bawah dalam penindakan Hukum, terlebih masalah Paham Radikal, Terorisme dan Narkoba yang saat ini sedang mengancam NKRI. Selain melibatkan kalangan bawah dalam penindakan paham Radikal dan Terorisme, Lurah ini juga berharap. Kiranya Pemkab Tapteng, selalu berupaya untuk menyetarakan pembangunan, termasuk dalam menyalurkan bantuan-bantuan, melakukan pasar murah untuk menekan beban ekonomi masyarakat yang kian susah, termasuk kepada pihak kepolisian untuk selalu sigap dalam menindak atau mengatasi persoalan yang sedang terjadi kepada masyarakat yang ekonominya mengah kebawah. Perlu penulis sampaikan, kalau masyarakat bawah masih menganggap kalau penegak hukum hanya mendengarkan keluhan atau laporan orang yang memiliki kekuasaan dan uang. Ini perlu dipangkas habis, baik melalui penanganan hukum, sosialisasi, tindakan nyata dan sebagainya. Yang penting, jangan biarkan masyarakat kalangan bawah ber opini, sehingga suatu ketika akan memberikan peluang masuknya paham-paham Radikal.

Termasuk dengan melibatkan langsung para tokoh adat, tokoh masyarakat serta tokoh pemuda, akan memudahkan penegak hukum dalam melakukan antisipasi penyebaran paham Radikal dan Terorisme. Menangkal paham Radikal, harus dilakukan sejak dini, dan menjauhkannya dari masyarakat kalangan bawah.

Perlu diketahui, terjadinya paham Radikal sering kali dipicu dengan terjadinya kesenjangan Sosial, masalah Hukum, Politik, Ekonomi dan beberapa faktor lainnya. Tentunya, untuk mengantisipasi hal – hal ini. Pemerintah bersama Forkopinda harus pro aktif dalam mengetahui sejauh mana perkembangan masyarakatnya. Termasuk harus cepat mengatasi politik yang sedang memanas, segera menyelesaikan masalah-masalah hukum yang belum tuntas, serta memberikan solusi mengenai kesusahan ekonomi masyarakat dengan segera menyalurkan bantuan-bantuan termasuk melaksanakan pasar-pasar murah.

Penulis pernah mendengarkan cerita seorang warga di Kabupaten Tapanuli Tengah, bernama Fernando Pasaribu. Dimana istrinya meninggal karena diduga kuat salah pemberian obat di salah satu Rumah Sakit di Tapteng. Setelah istrinya dimakamkan, Fernandopun membuat laporan ke Polres Tapteng. Hampir setengah tahun, kasus yang dilaporkannya tidak ada perkembangan. Bahkan, tidak ada respon sedikitpun sampai saat ini. Setelah kejadian ini, Fernando mengaku kalau dia merasa sangat kecewa. Bahkan kalimat sumbang sempat keluar dari ucapannya. Dia sempat menuturkan, kalau ada bom dia akan melemparkannya ke Rumah sakit tersebut. Mengutip dari cerita Fernando, penulis menilai.

Bahwa benar, kalau munculnya terorisme berasal dari mereka yang merasa sakit hati terhadap Negara. Sama halnya dengan Fernando yang kecewa terhadap penanganan Hukum atas kematian istrinya. Tentunya, hal seperti yang melanda Fernando ini perlu diantisipasi oleh penegak Hukum. Meskipun laporan Fernando tidak layak untuk dikembangkan, meskinya Polres memberikan penjelasan, dan kalau memang layak, silahkan dilanjutkan. Supaya pelapor tidak merasa kecewa atau sakit hati.
Selain krisis penanganan Hukum, memang untuk menjaga krisis ekonomi masyarakat. program Presiden RI Joko Widodo, mengenai penyaluran Dana Desa, sangat bagus dan memang terasa hingga kekalangan bawah.

Disamping harga komoditi pertanian yang saat ini sedang merosot. Para petani, jadi banting stir dengan mengurangi bertani dan ikut dalam mengerjakan proyek dana desa. Bahkan, para petani kerap menjadi pengurus dalam penggunaan dana desa. Secara perlahan, ekonomi merekapun bisa diperbaiki secara perlahan. Bahkan, dengan adanya Badan Usaha Milik Desa (BUMDES), tentu berbagai kebutuhan masyarakat turut serta terbantu. Ini adalah salah satu upaya pemerintah pusat dalam mengatasi kesenjangan sosial, dan ekonomi yang kerap menjadi pemicu menyebarnya paham-paham Radikal dan Terorisme. Dalam program pemerintah pusat ini, maka Pemerintah daerah perlu ikut andil, agar pengembangan Badan Usaha Desa ini, cepat berkembang dan langsung dirasakan oleh masyarakat yang merasa ekonomi mereka sangat terpuruk, termasuk dengan upaya menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Selain itu, diharapkan pemerintah Kabupaten melalui dinas Infokom, selalu melakukan pemantauan terhadap akun-akun Facebook masyarakat Tapteng yang senantiasa bisa memicu terjadinya paham – paham Radikal, apalagi dengan jumlah penduduk Tapanuli Tengah yang saat ini cukup besar menggunakan Hand Phone Androit. Sekitar 76.000 masyarakat Tapteng yang sudah menggunakan Hand Phone Androit sesuai dengan data yang dimiliki Dinas Infokom Tapteng. dengan angka yang cukup besar ini, tentu penggunanya sudah sampai ke pelosok-pelosok, dan termasuk para kalangan anak sekolah, yang masih rentan untuk dipengaruhi oleh pembawa paham-paham Radikal.

Untuk mengantisipasi menyebarnya paham Radikal dan Terorisme ini, kegiatan yang dilakukan oleh Polres Tapteng dan Polres Kota Sibolga serta Kejaksaan Negeri Sibolga memang cukup bagus. Dimana, kepolisian polres Sibolga dan Tapteng, melaksanakan program polisi masuk sekolah. Dengan program ini, kepolisian memiliki kesempatan untuk memberikan pemahaman kuat kepada anak sekolah, serta menguatkan anak-anak untuk terus menerus mencintai Indonesia. Dengan kesempatan ini, sudah barang tentu anak-anak ini tidak akan gampang dipengaruhi oleh siapapun, mereka bahkan bisa memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap Negaranya, jika dari dini mereka sudah diberikan pemahaman secara mendalam akan NKRI.

Intinya, paham Radikal dan Terorisme akan mudah diatasi dengan melibatkan lapisan masyarakat bawah, para tokoh budaya, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, para ormas agama dan ormas pemuda. Yang sangat perlu dilestarikan adalah kearifan lokal, seperti halnya, Filsafah orang batak tentang “Dalihan Na Tolu” yang sangat bagus dikembangkan demi menjauhkan masyarakat dari perbedaan-perbedaan yang kerap menjadi pemicu intoleransi. Secara adatnya, “Dalihan Na Tolu” dapat mempersatukan orang yang baru berkenalan, tentu dengan hal ini mereka sendiri akan melupakan apakah diantara mereka ada perbedaan Agama. Selain mengembangkan Filsafah “Dalihan Na Tolu” di Suku Batak. Pemerintah Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah, juga harus melestarikan Budaya Pesisir yang selama ini sering ditampilkan dalam acara-acara besar termasuk dalam penyambutan pejabat Negara, termasuk melestarikan budaya atau adat istiadat Suku Nias, yang jumlah penduduk mereka sudah cukup besar di Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah.

Jika Budaya-budaya yang ada di Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah tetap dikembangkan, jelas paham Radikal dan terorisme yang sedang dibicarakan secara Nasional, akan mudah dipatahkan dengan pengembangan budaya dan adat istiadat yang ada di daerah. Bahkan, untuk masuk saja, para penganut paham Radikal ini tidak akan mampu, dengan rasa toleransi serta cinta damai yang mengendap dihati masyarakat. Apalagi, jika pemerintah turut serta mendorong kebiasaan masyarakat dalam musyawarah dan mufakat. Maka dalam musyawarah itu akan dibahas mengenai issu Nasional yang cukup membahayakan Negara, serta langkah yang akan diambil untuk mengatasi issu nasional tersebut.

Contoh pentingnya musyawarah dan Mufakat ini, kejadian pembakaran vihara di Tanjung Balai. Atas kejadian itu, pemerintah Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah, langsung melaksanakan musyawarah dengan tokoh Agama dari FKUB, BKAG, tokoh masyarakat, ormas-ormas Agama, serta ormas kepemudaan. Atas kesigapan inilah, dikota Sibolga dan Tapanuli Tengah tidak sempat terjadi perpecahan. Bahkan diambil langkah, agar umat muslim bersama-sama dengan umat Budda saling berkordinasi dan sama-sama menjaga perdamaian demi terciptanya rasa nyaman bagi umat Budda. Alhasil, sedikitpun tidak terjadi perpecahan antara umat Budda dan Muslim. Bahkan, mereka terlihat tidak memperdulikan kejadian yang ada di Tanjung Balai Sumatera Utara. Kebiasaan inilah yang harus dipupuk oleh pemerintah, jangan sampai ada penyusup yang semakin membesarkan api kemarahan masyarakat, sehingga terjadi perpecahan yang merembes sampai kekalangan bawah.

Loading...