Terorisme & Politik Identitas

Oleh Imam Syuhada Akbar

MEDAN-M24|Peledakan bom beruntun di Surabaya, baru-baru ini, cukup menyita perhatian seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Kecaman demi kecaman atas kebiadaban aksi teroris tersebut juga turut dilontarkan masyarakat dengan mengatasnamakan kemanusiaan.

Kelihaian aparat kepolisian yang dengan cepat menindak pelaku-pelaku terduga jaringan teroris juga perlu diacungi jempol. Empati pejabat pemerintah yang secara responsif langsung berbondong ke Surabaya pun patut diberi standing applause.

Loading...

Namun, jangan berbangga hati. Ada hal substansial yang perlu diperhatikan pada kasus terorisme ini. Perlu diwaspadai dan disadari, terorisme bukanlah barang baru sebagai upaya mengkristalkan sebuah agama sebagai kumpulan ekstrimis. Kondisi masyarakat Indonesia yang masih memiliki pemikiran latah dan gampang dipengaruhi ini lah kemudian dimanfaatkan untuk melakukan upaya diskriminasi identitas.

Adanya tindak terorisme yang pelakunya diidentikkan dengan fanatisme Islam, menjadikan masyarakat turut mewaspadai setiap muslim fanatik (berjanggut, celana gantung, dan bercadar). Sama diketahui, pasca terjadinya bom Surabaya, perempuan bercadar yang katanya sedang duduk di trotoar sekitar Polda Bali langsung dibekuk aparat kepolisian dan diperiksa. Di Tulungagung, seorang santri bercadar di dalam bus jurusan Ponorogo, mendapat perlakuan diskriminatif. Santri yang hendak pulang kampung ke Ponorogo tersebut diturunkan di tengah jalan beserta barang-barang bawaannya.

Stereotip buruk seperti inilah yang hari ini terus dibangun dalam rangka memecah-belah persatuan umat. Ujaran kecurigaan yang disebar ini justru mengancam kebhinekaan yang telah dibangun para pendiri bangsa. Dan, tanpa disadari, politik identitas telah mempermainkan bangsa ini.

Hemat saya, bom Surabaya dijadikan salah satu pemantik upaya memecah-belah persatuan umat. Persatuan umat atau persatuan bangsa dipecah melalui setting penyebaran kecurigaan terhadap umat Islam yang notabene penduduk mayoritas di negara berpenduduk sebesar 261,1 juta jiwa ini (sumber: Bank Dunia, Biro Sensus Amerika Serikat).

Barangkali pembaca bertanya, kenapa data yang saya pakai bersumber Biro Sensus Amerika Serikat? Seperti kita ketahui bersama, Amerika Serikat yang merupakan negara adidaya memiliki kepentingan hampir di seluruh negara di dunia, terlebih di negara-negara kaya sumber alam seperti Indonesia. Maka, tidak heran Negeri Paman Sam melakukan sensus untuk memetakan kelompok mayoritas dan minoritas di Indonesia, dari tahun ke tahun.

Lazimnya, kelompok mayoritas akan memberikan pengaruh besar terhadap tatanan kehidupan sosial masyarakat. Dan, untuk menguasai sebuah negara, tentu harus menguasai tatanan kehidupan masyarakatnya. Sebagai mayoritas, keberadaan umat Islam di Indonesia cukup mengusik negara adidaya tersebut untuk melancarkan misinya. Memecah belah yang berujung perang saudara adalah jalan untuk menghalang persatuan dan kesatuan umat. Padahal, umat Islam di Indonesia tidak mengkristalkan diri dan mampu menjaga kebhinekaan Ibu Pertiwi.

Setiap tindak terorisme di Indonesia diidentikkan dengan gerakan yang mengatasnamakan Islam. Tentu kita harus secara bersama mampu menjernihkan pikiran bahwa tidak ada satu pun agama mengajarkan saling membunuh dan saling membenci satu sama lain. Dan, tindakan teroris bukanlah tindakan yang mengatasnamakan agama, bukan pula seruan jihad menuju surga.

Melainkan, seruan “jihad” untuk surga khayalan yang ada di pikiran binatang (pelaku teror) tersebut. Namun, sangat disayangkan masih saja ada masyarakat yang memandang jihad teror bom adalah bagian dari ajaran Islam. Dan, tentu pandangan tersebut lahir dari berbagai faktor, seperti bentukan sosial. Bentukan sosial yang memberikan stereotip kepada masyarakat bahwa setiap tindakan teroris merupakan cerminan tindakan umat Islam. Dan, hal ini selalu menjadi konten untuk ujaran kebencian terhadap Islam.

Menyikapi hal tersebut, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi mahasiswa tertua dan matang diyakini dapat mengentaskan problematika sosial masyarakat hari ini. HMI yang merupakan kumpulan kaum intelektual akan mampu melakukan upaya-upaya pencerdasan kepada masyarakat dalam memandang dinamika sosial. Upaya menghilangkan rasa paranoid masyarakat terhadap kelompok-kelompok yang diduga memiliki kesamaan simbol dengan pelaku terorisme juga harus dihilangkan atau diluruskan.

Memberikan stimulus dan melakukan filtrasi cara pandang bagi masyarakat tentu harus didukung seluruh stake holder bangsa. Cara pandang ini lah yang kemudian akan memengaruhi cara berpikir masyarakat. Sehingga, perilaku masyarakat Indonesia akan mencerminkan karakter yang beradab, yang menghasilkan sebuah peradaban di Indonesia demi terwujudnya keadilan sosial dan keadilan ekonomi. HMI yang saat ini tersebar dari Sabang sampai Merauke akan mampu memberikan pendidikan karakter melalui pendekatan akulturasi di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang heterogen.

Selain itu, pemerintah dan aparat penegak hukum harus mampu melakukan interaksi sejajar dengan masyarakat. Sebab, melalui interaksi sejajar, masyarakat akan merasa nyaman di balik dekapan hangat sang penguasa. Demi mewujudkan suatu tatanan keadilan sosial di kehidupan masyarakat, pemerintah tentu juga harus menjadi problem solver dari setiap permasalahan yang berkembang. Aparat penegak hukum juga harus mampu menjadi pelindung masyarakat yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Pola penindakan terhadap pelaku yang melanggar hukum tentu juga harus memperhatikan HAM yang melekat di dirinya, termasuk penindakan terhadap orang yang diduga terlibat terorisme. Karena, penindakan yang dinilai berlebihan akan menyebabkan ketakutan di pikiran masyarakat.

Patut dicermati, hal tak kalah penting yang sedang Indonesia hadapi adalah disintegrasi bangsa yang dapat menghancurkan bangsa berkekayaan melimpah ini. Dan, tindakan terorisme serta penyebaran faham radikal adalah salah satu cara untuk menghancurkan Indonesia. Upaya diskriminasi terhadap suatu agama akan mengkristal, jika masyarakat tidak mampu memandang secara jernih bahwa seluruh tindakan terorisme (penyebaran faham radikal) yang dilakukan kelompok ekstrimis bukanlah tindakan berlandaskan agama.

Melainkan, tindakan kelompok binatang yang berprilaku buas merampas apa yang dimiliki Ibu Pertiwi. Masyarakat Indonesia terkhusus kelompok pemuda harus lah menyadari bahwa Indonesia merupakan mangsa segar yang hari ini diperebutkan kelompok-kelompok binatang buas. Pemuda dan kaum intelektual haruslah menjadi garda terdepan untuk melakukan penyadaran kepada masyarakat dengan apa yang sesungguhnya terjadi di republik ini.

Persatuan Indonesia yang termaktub dalam Pancasila harus segera dikumandangkan untuk menghindari terjadinya politik identitas yang merupakan senjata ampuh untuk memecah belah umat Indonesia. Karena, jika hal ini terus berkembang, maka bukan tidak mungkin Indonesia akan mengalami disintegrasi. Tindakan terorisme serta tindakan kejahatan lainnya yang dapat merusak tatanan kehidupan sosial masyarakat Indonesia harus dijadikan musuh bersama. Tindak kejahatan, apa pun itu, tidak akan pernah berlandaskan agama atau perjuangan di jalan Tuhan. Karena, sejatinya kejahatan timbul akibat ketiadaan Tuhan yang berproses di pikiran manusia.

Momen bom Surabaya dan merebaknya faham radikal yang digerakkan secara massif oleh kelompok-kelompok ekstrimisme ini tentu harus dilawan secara bersama demi sebuah kedaulatan negara.

Indonesia adalah milik umat Islam, Kristiani, Hindu, Budha, dan umat Konghucu. Dan, Indonesia adalah milik semua suku yang ada di tanah nan subur ini. Teroris adalah musuh bersama, dan musuh harus dilawan dengan kecerdasan secara equal, bukan dengan perpecahan. Salam Satu Nusa, Salam Satu Bangsa. *

*) Penulis adalah Pengurus Badko HMI Sumut, tinggal di Medan.

Loading...