Akibat Jual Tiket Palsu, Pasutri Beda Negara Disidangkan

48

RIVAN-MEDAN | Karena menjual tiket palsu, Buthen Mura alias Sias Warga Negara (WN) India bersama istrinya Ida Yasainah alias Ida warga Bandung, Jawa Barat yang sedang hamil tua harus duduk di Pengadilan Negeri (PN) Medan.

Sidang tersebut digelar di Ruang Cakra IV, Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (26/4) sore, sidang ini dipimpin majelis hakim yang diketuai Djaniko Girsang. Dalam sidang ini tampak terdakwa Sias sangat serius mendengarkan hakim, meskipun dia tidak begitu mengerti apa yang dibilang hakim.

Atas dasar miss komunikasi ini, hakim memutuskan untuk menunda sidang.

“Sidang kita tunda ya. Karena penerjemah bahasa yang dihadirkan dari Konsulat tidak bisa hadir,” ujar majelis hakim kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Joice V Sinaga dan terdakwa Sias.

Diwawancarai saat hendak digiring kembali ke dalam sel tahanan sementara PN Medan, Sias mengatakan jika dirinya ingin mendapat kepastian hukum.

“Saya seperti di bola-bola. Jadwal sidang selalu molor. Di tunda-tunda. Apakah seperti ini perlakuan yang diberikan kepada WN Asing seperti saya jika bermasalah dengan hukum di Indonesia. Saya juga kasihan dengan istri yang juga sedang menjalani sidang di PN Medan. Dia sedang mengandung anak kami yang pertama, bahkan mau melahirkan bulan depan. Dia tidak tahu apa-apa,” ucap Sias terbata-bata sembari cepat-cepat digiring ke dalam sel tahanan.

Sementara itu, Marta Sitorus SH MH menimpali, jika kliennya sudah sebanyak 3 kali ganti Penasehat Hukum (PH) karena merasa tidak dilindungi selama berjalannya sidang.

“Kemarin dia dimarahi Jaksa di depan hakim. Jaksa memaksa dia untuk lancar berbahasa Indonesia. Mana mungkin bisa WN Asing lancar bahasa kita. PH sebelumnya tidak ada berbuat apa-apa. Makanya dia kesal dan mencabut kuasanya,” ungkap Marta.

Lebih lanjut dia mengatakan, perkara ini seperti ada yang disembunyi-sembunyikan. “Dalam sidang ini akan saya kupas semua. Saya kuliti, banyak yang tidak benar di sini,” tandasnya.

Sekedar mengetahui, pasutri ini didakwa bersalah karena menjual tiket pesawat palsu kepada saksi korban A Wong. Kejadian itu terjadi pada bulan Oktober 2016 lalu. Saat itu saksi korban memesan 13 tiket pesawat tujuan Tokyo, Jepang dan memberikan uang sebesar Rp78 juta.

Loading...