Begal Makam Pahlawan Dijerat Pasal Penganiayaan

PATUMBAK-M24 | Personel Polsek Patumbak menekuk M Arman Silalahi (23). Dia adalah pelaku penikaman terhadap Wendi Putra Malau (42), Senin (30/7) di Jln SM Raja KM 8, Medan di tak jauh dari kuburan tanah wakaf.

Kanit Reskrim Polsek Patumbak Iptu Ainul Yaqin kepada M24, Jumat (3/8) menuturkan, Arman merupakan pelaku penganiayaan. Bukan pelaku begal. Katanya, Arman diringkus di rumahnya Jln Panglima Denai, Medan, Kamis (2/8).

Menurut Yaqin, penganiayaan terjadi ketika Arman sedang memalak orang-orang yang melintas di tempat kejadian perkara (TKP). Korban yang melihat itu berang dan mencoba mengusir pelaku.

Loading...

Sikap korban membuat pelaku tersinggung. Pelaku mengambil pecahan keramik. Kemudian menghujamkannya ke leher dan punggung korban. Seketika korban roboh bersimbah darah. Sementara pelaku kabur ke arah Amplas. Korban membuat laporan ke Polsek Patumbak.

Disebutkan Yaqin, hasil penyelidikan petugas Polsek Patumbak, ciri-ciri pelaku mengarah kepada Arman. Pihaknya lalu meringkus Arman. “Tersangka melakukan tindak pidana ini seorang diri, tidak berdua ataupun bertiga. Tersangka dijerat Pasal 351 atau penganiayaan dan bukan 365 atau perampokan,” tandasnya.

Penerapan pasal pidana terhadap Arman, menurut praktisi hukum Kota Medan, Muhammad Erwin, S.H., M.Hum. sudah tepat. Penerapan pasal pidana itu lebih menitikberatkan pada perbuatan yang bisa mengakibatkan orang lain kehilangan nyawa.

“Penikaman yang dialami korban bisa mengakibatkan nyawanya melayang. Sebab, penikaman itu menyasar titik mematikan, yakni leher. Jika pasal yang diterapkan terkait perampokan, hukumannya justru menjadi lebih ringan dibanding akibat dari tindak pidana yang terjadi,” jelas kandidat doktor bidang hukum dari Universitas Andalas (UNAN) ini, saat dihubungi metro 24, tadi malam.

Namun, Erwin menyesali jika yang dijerat secara hukum hanya satu orang. Sebab, menurutnya, perbuatan pidana dilakukan Arman bersama-sama dengan dua orang lainnya.
“Jika mereka bertiga, seharusnya ketiga-tiganya dijerat. Meskipun yang kontak fisik langsung dengan korban hanya seorang, dua rekannya kan turut mengetahui dan punya tujuan sama,” pungkas Erwin. (ahmad/gunawan)

Loading...