Dibawa ke sungai, cewek Langkat digilir 3 pria

152

Rudi-Langkat | Oleh tiga teman satu kampungnya, Bunga (nama samaran) ditelentangkan di atas rerumputan di pinggir sungai. Hendru alias Bokeng kemudian merengut kesucian dara 14 tahun ini dilanjutkan oleh Mapilindo alias Indo dan Rehan. Mirisnya, ketiga pelaku masih satu kampung dengannya.

Peristiwa yang terjadi di kawasan Sungai Bengteng Sari, di Kec Padangtualang, Kab Langkat ini jadi pengingat bagi para orangtua untuk tidak lengah dalam mengawasi anak perempuannya. Atau, si anak akan menanggung beban trauma sepanjang hidupnya.

Ditemui di kediamannya Desa Sukarame, Kec Padangtualang, Kab Langkat, Kamis (12/4) siang, Bunga menuturkan kisah pahit yang dialaminya sekitar dua bulan lalu itu. “Kejadiannya itu malam minggu,” ucap dara 14 tahun ini mengawali cerita.

Sekitar pukul 20:00 WIB, lanjutnya, Bunga dijemput Mapilindo alias Indo (20) dari rumahnya. Keduanya lalu keluar jalan-jalan dengan mengendarai kreta Supra 125 (nomor polisi tak diketahui) milik Indo. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan Rehan (18) dan Hendru alias Bokeng (22) yang boncengan dengan adik sepupunya, Dela (14).

Selanjutnya mereka bersama-sama menuju tepi Sungai Benteng Sari yang terletak sekitar 1 Km dari rumah. “Aku sempat bertanya sama si Indo, mau kemana? Ngapai ke tepi sungai itu? Namun indo tak menjawab pertanyaanku,” tutur bungsu dari empat bersaudara ini.

Akhirnya Bunga pun pasrah di boncengan. Di tepi sungai itu, mereka yang terdiri dari dua wanita dan tiga pria duduk-duduk sambil menikmati cemilan yang disiapkan. Sekitar pukul 03.00 WIB, Minggu dinihari, ia melihat Indo mengajak sepupunya Dela untuk berbuat mesum. Namun Dela menolak.

Tak kehilangan akal, ketiga pria yang masih satu kampung dengan Bunga mencoba memaksa Dela. Lagi-lagi Dela menolak dan meronta. Setelah berhasil melepaskan diri, Dela langsung berlari meninggalkan lokasi. Karena sudah sama-sama konak (terangsang), Indo, Rehan dan Bokeng mengalihkan perhatian kepada Bunga yang masih duduk di tempatnya.

Dengan cepat Indo menarik kedua tangan Bunga hingga telentang di atas rerumputan. Bokeng pun membuka celana Bunga hingga separuh telanjang. Tanpa buang waktu, Bokeng langsung merengut keperawanan Bunga. Tak berhenti di situ, setelah Bokeng puas menyalurkan birahinya, korban dipaksa melayani nafsu Indo dan Rehan secara bergantian. Jerit kesakit dan air mata korban tak meluluhkan hati ketiga pelaku.

Mirisnya, setelah puas, ketiga pelaku pergi meninggalkan korban begitu saja di lokasi. Mau tak mau, korban pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki sejauh 1 Km. Korban tiba di rumah sekitar pukul 06:30 WIB. Namun, korban merahasiakan peristiwa itu dari kedua orangtuanya.

Keesokan harinya, korban ditepon pelaku Rehan yang mengajak ketemu karena ada keperluan. Setelah bertemua, pelaku Rehan justru membawa korban kembali ke lokasi dimana kesuciannya direngut paksa. Di situ, korban pun dipaksa melayani birahi pelaku Rehan. Setelah puas, korban diantar pulang.

Ternyata pelaku Rehan ketagihan. Dua hari berselang, ia kembali memaksa korban untuk bertemu. Kali ini, korban dibawa ke rumah pelaku Rehan yang sedang dalam keadaan sepi. Lagi-lagi korban dipaksa melayani nafsu bejat tuan rumah. Bahkan pelaku mengajak korban melakukan perbuatan terlarang itu di kamar mandi.

Belum puas juga, keesokan harinya pelaku Rehan kembali menghubungi korban dan mengajak bertemu. Korban yang ketakutan dengan ancaman pelaku pun tak bisa menolak. Malam harinya, mereka bertemu di belakang rumah korban. Di bawah rintik hujan, korban kembali dijadikan pemuas nafsu pelaku.

Akhirnya, korban merasakan perobahan dalam dirinya. Dimana ia belum haid dua bulan belakangan. Kebingunan, ia pun bertanya kepada Rini yang tinggal di belakang rumahnya. “Bule, aku kok tidak datang bulan ya, sudah dua bulan ini aku telat,” tanya korban saat itu.

Sontak pertanyaan itu membuat Rini terkejut dan langsung menanyakan siapa yang membuatnya hamil. Saat itulah korban membeberkan perbuatan ketiga pelaku yang diteruskan Rini kepada kedua orangtuanya, Misriati (40).

Sebagai seorang ibu, hati Misriati pun hancur. Apalagi saat itu suaminya, Legianto (45) sedang merantau ke luar kota. Akhirnya peristiwa itu disampaikan ke perangkat desa. Dengan alasan agar kasus tidak mencuat ke permukaan, perangkat desa justru menyarankan keluarga korban menerima permintaan berdamai dari ketiga orangtua pelaku.

Di hadapan Kepala Desa Sukarame, Kec Padangtualang, Aliami Sinulingga, mereka membuat surat perjanjian dimana ketiga pelaku masing-masing membayar uang untuk persalinan korban nantinya sebesar Rp 2 juta. Namun, hingga berita ini dibuat, pelaku tak menepati perjanjian yang dibuat.

Melihat tidak adanya itikad baik dari keluarga pelaku, ibu korban meminta bantuan metro24 untuk mendampingi ke Polres Langkat. Keluarga korban akan melaporkan secara resmi ketiga pelaku dengan kasus cabul terhadap anak bawah umur, Jumat (13/4).

“Aku binggung dengan kasus anakku ini. Kami mengharapkan kalian mengarahkan kami untuk melaporkan kasus yang menimpa anakku ini ke Polres Langkat,” harap Misriati, ibu korban.

Ditemui di salah satu warung kopi, Kades Sukarame, Kec Padangtualang. Aliami Sinulingga tak menampik adanya peristiwa cabul yang dilaporkan ke pihaknya. Namun ia membantah menyarankan keluarga korban dan pelaku untuk berdamai. “Mereka datang malam minggu kemarin, katanya mencari solusi. Dalam kasus ini saya sampaikan kepada mereka mau berdamai atau tidak, saya tidak ikut campur. Ketiga pelaku saya rasa masih di desa ini,” kilah Aliami Sinulingga.

Kasat Reskrim Polres Langkat, AKP M Firdaus yang dikomfirmasi menyambut baik rencana keluarga korban melaporkan peristiwa cabul tersebut ke pihak kepolisian. Ia pun berjanji langsung menindaklanjutinya. “Ia Pak. Besok giring saja ke Polres. Nanti langsung saya kerahkan anggota saya,” janji M Firdaus.

Loading...