Dikenal Sadis, Komplotan Raja Cs Ditembak Mati

Pelarian Afandi Simangunsong alias Bangun berakhir sudah. Komplotan begal sadis ‘Raja Cs’ ini ditembak mati setelah coba menyerang petugas kepolisian dengan sebilah golok.

MEDAN-M24 |¬†Tim Penanganan Gangguan Khusus (Pegasus) Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Medan mengambil tindakan tegas terhadap anggota komplotan begal sadis ‘Raja Cs’. Dua timah panas yang dilepas merengut nyawa Afandi Simangunsong alias Bangun (37).

Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Dr Dadang Hartanto SH SIK MSi didampingi Kasat Reskrim, AKBP Putu Yudha Prawira SIK mengatakan, tindakan tegas tersebut terpaksa diambil karena tersangka Bangun menyerang petugas dengan sebilah senjata tajam (sajam) jenis golok ketika ditangkap.

Loading...

“Ia (Bangun) berusaha melawan petugas dengan sebilah golok. Kita lakukan tembakan tegas dan terukur dengan menembak paha dan dada sebelah kirinya. Tersangka langsung tewas di tempat,” ucap Dadang Hartanto kepada awak media, Rabu (8/8).

Penangkapan itu sendiri, lanjut Dadang, merupakan tindak lanjut terhadap laporan korban, Yunita (35) pada 13 Desember 2017. Ketika itu, sekitar pukul 05:30 WIB, warga Jln Mabar, Kec Medan Perjuangan ini dihadang empat pria komplotan Raja Cs. Para pelaku kemudian merampas paksa kreta Beat warna hijau BK 2398 ADY milik korban. Para pelaku juga sempat menganiaya korban yang mempertahankan kretanya.

Setelah pelaku kabur membawa kreta, korban melapor ke suaminya, Rudi Wanto (38), warga Jln Timah Putih A.11, Kel Sukaramai II, Kec Medan Area. Kemudian keduanya melaporkan peristiwa itu ke Polsek Medan Timur.

Di tengah penyelidikan, Jumat (29/12/2017), tim gabungan Polrestabes Medan dan Polsek Medan Timur mendapat informasi bila pelaku perampokan tersebut adalah kelompok Raja Amin Siregar alias Raja (33), warga Jln Beringin, Pasar 7 Tembung Gg Duku, Kec Percut Sei Tuan, Kab Deliserdang dan rekannya, Afandri Simangunsong alias Bangun serta M Ridho Padang alias Ridho (24), warga Jln Rawa Cangkuk 4, Kec Medan Denai dan Nanda.

Sekitar pukul 01:30 WIB, tim mendapat informasi bahwa para pelaku sedang berada di Jln Beringin Gg Pokat, Pasar 7 Tembung. Petugas pun berhasil menangkap Raja dan Ridho. Dalam interogasi, keduanya mengakui perbuatannya. Petugas kemudian membawa kedua tersangka untuk menunjukkan lokasi mereka beraksi. Namun tersangka Raja melakukan perlawanan.

“Tiba-tiba tersangka Raja menyerang personel dengan menggunakan senjata tajam. Tembakan peringatan tak dihiraukan. Selanjutnya diberikan tembakan terarah dan terukur. Kita lalu bawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk diberikan pertolongan, tetapi Raja telah meninggal dunia,” tutur Dadang.

Sedangkan tersangka Ridho yang mencoba melarikan diri, tambahnya, harus dihadiahi timah panas di kedua kakinya. Dari situ, tim gabungan melakukan pengembangan terhadap tersangka lainnya. Tanggal 22 Februari 2018, tim mendapat informasi bila tersangka Afandri Simangunsong alias Bangun sedang berada di rumahnya di Jln Rawa Cangkuk Gg Arab, Kec Medan Denai.

Petugas langsung melakukan penggerebekan. Namun tersangka Bangun berhasil melarikan diri melalui atap rumahnya dan menyeberang ke gedung sekolah. Dari situ, tersangka Bangun kabur ke Pekanbaru.
Pada 6 Agustus 2018, tim mendapat informasi jika tersangka Bangun pulang ke rumahnya.

Tim gabungan langsung melakukan pengepungan. Namun, lagi-lagi tersangka Bangun yang dikenal licin berhasil kabur. Hingga Rabu (8/8) dinihari, tersangka Bangun terlihat melintas dnegan mengendarai kreta Revo di Jln S Parman, Medan. “Kita langsung melakukan pengejaran. Tersangka Bangun terkejut dan berusaha kabur,” ujarnya.

Tersangka melarikan diri ke arah Jln Perdana. Saat mendekati jembatan, tersangka jatuh dari kretanya. Pun begitu, ia masih berupaya melarikan diri dan bersembunyi dalam kegelapan. Ketika persembunyiannya ditemukan, tersangka Bangun nekat menyerang personel dengan sebilah golok hingga ditembak mati petugas.

Adapun barang bukti yang diamankan berupa 1 helm merah yang digunakan tersangka Raja, 1 helm hitam yang digunakan tersangka Ridho, uang Rp180 ribu hasil penjual kreta curian milik Raja, uang Rp650 ribu milik tersangka Ridho, 1 unit kreta Honda CB 150R hitam yang digunakan tersangka Raja, 1 unit kreta Honda Revo yang digunakan tersangka Bangun dan 1 bilah golok.

Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Putu Yudha Prawira SIK menambahkan, komplotan begal ini diotaki oleh tersangka Raja. Tersangka Raja berperan menentukan target/korban. Sedangkan tersangka Ridho ikut menarik paksa korban sehingga terjatuh selanjutnya melarikan kreta.

Para tersangka tercatat telah beraksi di sejumlah daerah. Diantaranya Jln Mabar, Kec Medan Perjunagan (Honda Beat), Jln Selam IV, Medan, Jln STM Medan (Honda Supra X 125), Jln Brigjen Katamso Medan (Honda Beat), Jln SM Raja/Makam Pahlawan Medan (Honda Supra X 125), Jln Pukat Banting Medan (Honda Vario 150), Jln Pukat/Selam Medan (Honda Beat), Jln Jermal 15 Medan (Honda Supra X 125), Jln Asia, Simp. Amplas Medan (Honda Beat), Jln Sumatera Medan (Honda Beat), Jln HM Joni Medan (Honda Vario), Jln SM Raja/Fly Over Amplas Medan (Honda CB 150R), Jln Lintas Tanjungmorawa-Medan (sebanyak 7 kali sehingga lupa hasilnya) dan Jln Irian Barat Medan (Honda Beat).
“Lebih dari puluhan kali melakukan aksi begal dari berbagai lokasi di wilayah hukum Polrestabes Medan. Saat ini, kita masih buru seorang lagi komplotan dari mereka yaitu Nanda (DPO),” pungkasnya. (ardi/gusti)

Loading...