Gegara status FB, Dosen USU ditangkap polisi

32

MEDAN-M24 | Postingan Himma Dewiana Lubis yang menyebut tiga ledakan bom gereja di Surabaya, Jawa Timur, hanya pengalihan isu, berbuntut panjang. Dosen di Universitas Sumatera Utara (USU) ini kemudian diringkus Subdit II/Cyber Crime Direktorat (Dit) Reskrimsus Poldasu.

Kabid Humas Poldasu AKBP Tatan Dirsan Atmaja, Minggu (20/5) mengatakan, Himma yang merupakan merupakan PNS berprofesi sebagai dosen Ilmu Perpustakaan USU ditangkap dari kediamannya di Kompleks Johor Permai, Jln Melinjo II Medan Johor, Sabtu (19/5). Penangkapan karena dua postingan Himma di akun facebook miliknya memuat ujaran kebencian.

Pada salah satu postingannya, Himma memuat tulisan yang menyebutkan kalau tiga ledakan bom gereja di Kota Surabaya, Minggu (13/5) kemaring hanyalah pengalihan isu.
“Ia (Himma) mengatakan, ledakan bom itu skenario pengalihan yang sempurna dari ganti presiden tahun 2019,” ungkap Tatan.

Setelah postingannya viral, Himma yang bergelar magister ini langsung menutup akun facebooknya. Namun, postingannya terlanjur sudah ditangkap layar oleh warganet dan dibagikan ke media daring. “Himma ditangkap dalam perkara dugaan pelanggaran tindak pidana ujaran kebencian, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat 2 UU ITE,” jelasnya.

Tatan melanjutkan, motif tujuan pemilik akun facebook Himma Dewiyana, kesal terbawa suasana dan emosi dengan maraknya perang tagar #2019GantiPresiden. Selain itu, Himma merasa kecewa dengan pemerintah saat ini. Karena menurutnya semua harga barang kebutuhan naik dan dinilai tidak sesuai janji pemerintah saat kampanye 2014.

“Pelaku mengakui menulis status tersebut tanggal 12 Mei 2018 dan 13 Mei 2018 di rumahnya,” jelasnya.

Lebih jauh, Tatan mengatakan, karena telah meresahkan masyarakat, akhirnya personel Cyber Crime Polda Sumut yang melaporkan sendiri akun tersebut sehingga dugaan ujaran kebencian yang dilakukan oleh pelaku dapat diusut. Karenanya, wanita kelahiran 1972 tersebut kini sedang diperiksa penyidik untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

“Penyidik telah memeriksa saksi dan menyita barang bukti berupa handphone Iphone 6S dan kartu SIM milik pelaku untuk kepentingan penyidikan,” ujar Tatan.

Dituturkan Tatan lagi, penyidik juga telah melakukan digital forensik terhadap handphone Himma dan mendalami motif lain terkait pemostingan ujaran kebencian yang dimaksud. “Begitu dahsyatnya serangan bertubi-tubi dari kelompok teroris, malah di media sosial bertebaran postingan-postingan hoax hingga mengundang ujaran kebencian,” sebutnya.

Sementara, Himma mengaku sangat menyesal telah melakukan perbuatannya. Dia tidak menyangka postingannya justru membuatnya tersangkut masalah hukum. “Saya sangat menyesal sekali. Karena sebetulnya saya cuma mengcopy, itu bukan tulisan saya. Kalau bisa kepada siapapun jangan asal membagikan status orang lain. Saya sangat menyesali,” lirihnya.

Setelah sempat diwawancarai wartawan, Himma pingsan sehingga harus mendapatkan pertolongan. Diduga dia mengalami syok akibat kasus ujaran kebencian yang menjeratnya saat ini.

Di kesempatan tersebut, Tatan menambahkan, Poldasu juga meringkus Amaralsyah Dalimunthe yang merupakan satpam di Bank Sumut. Amaralsyah ditangkap Polres Simalungun di kediamannya Jln Karya Bakti, Serbelawan, Kec Batu Nangar, Kab Simalungun, Jumat (18/5).

Diterangkan Tatan, Amaralsyah dalam akun facebook miliknya memposting di Indonesia tidak ada teroris. Amaralsyah menyebut terorisme hanya fiksi dan pengalihan isu.

Selanjutnya, Polres Simalungun yang mendapat info tersebut, melakukan penelusuran dan menangkap Amaralsyah. Sebelumnya polisi membuat laporan terlebih dahulu.

“Status itu telah melukai perasaan polisi dan juga keluarga korban terorisme,” ketus

Untuk itu, Tatan mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan memosting sesuatu hal di media sosial. Karena setiap postingan di media sosial memiliki pertanggungjawaban hukum.

“Pemosting ujaran kebencian dan hoax ini ternyata bukan dari kalangan masyarakat bawah, tetapi justru masyarakat berpendidikan tinggi,” pungkasnya. (ahmad)

Loading...