Keluarga Minta Si Pembunuh Dosen Dihukum Mati

205

M24.CO|MEDAN
Keluarga dosen korban pembunuhan meminta terdakwa dihukum mati. Pasalnya, mereka menganggap apa yang dilakukan terdakwa sudah tak berprikemanusiaan.

Dalam sidang yang digelar di ruang cakra VI Pengadilan Negeri (PN), Medan, Kamis (27/10) siang beragendakan mendengarkan keterangan saksi, yakni Irman Zebua, petugas keamanaan UMSU.

Dalam keterangannya, Irman mengaku pada saat kejadian, terdakwa Roymardo terlihat bersembunyi di kamar mandi.

“Korban (Alm Nurain Lubis) masih sempat minta tolong dan berlari ke halaman kampus dengan berceceran darah. Saya pun mencari siapa pelaku penikamnya. Begitu saya mendekat ke kamar mandi, saya lihat banyak ceceran darah di dindingnya. Kemudian di dekatnya ada terdakwa Roymardo terduduk lemas dengan pisau berada di sebelahnya,” ungkap Irman di depan Ketua Majelis Hakim, Sontan M Sinaga dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Martias Iskandar.

Selanjutnya, Irman pun langsung memanggil teman-temannya yang lain sesama petugas security untuk menolong korban dan mengamankan terdakwa. “Setelah menghubungi petugas kepolisian, terdakwa pun diboyong ke kantor polisi. Sementara korban langsung kami bawa ke rumah sakit tapi tidak tertolong lagi,” tandas pria kurus ini.

Selama persidangan berlangsung, terdakwa hanya menundukkan kepala. Persidangan pun berjalan kondusif. Usai sidang, tak tampak keributan yang biasanya ditunjukkan keluarga dan kerabat korban kepada terdakwa yang merupakan mahasiswa korban itu sendiri.

Usai mendengarkan keterangan saksi, persidangan pun ditutup dan dilanjutkan pekan depan dengan agenda yang sama.

Sementara itu, diwawancarai seusai persidangan, anak pertama korban, M Ikbal (32) berharap terdakwa dihukum seberat-beratnya. “Bukan manusia itu bang, keji kali dia membunuh ibu saya. Saya dan keluarga berharap terdakwa dihukum mati bang,” bilang ayah anak tiga ini.

Ikbal bercerita, sehari sebelum kejadian, korban sempat menasehatinya agar menyayangi anak dan istrinya. “Kami empat bersaudara dan saya anak yang paling besar bang. Sehari sebelum kejadian itu tepatnya hari Minggu, saya membawa istri dan ketiga anak saya berkunjung ke rumah orang tua. Di situ almarhum ibu berpesan ‘Nak sayangi keluarga mu ya. Jangan suka berantam-berantam sama istri. Ini untuk terakhir kalinya ibu menasehatimu’ gitu lah pesannya terakhir kali bang,” ujar Ikbal lagi mengenang kata-kata korban.

Ikbal juga mengungkapkan, dia mendapat kabar ibunya dibantai oleh terdakwa dari saudaranya. “Saya lagi di tempat kerjaan bang. Tiba-tiba dapat telpon katanya ibu ditikami sama mahasiswanya. Saya pun terkejut dan langsung menuju rumah sakit Imelda. Saya lihat kondisi ibu mengenaskan sekali bang. Lehernya terdapat banyak bekas luka tikaman. Tenggorokannya juga berlubang dan nyaris putus. Begitu juga dengan urat nadinya sudah putus disayat terdakwa. Keji lah bang. Makanya cocoknya dihukum mati aja,” tandasnya.

Sekedar mengingatkan, Roymardo Sah Siregar (21) dijerat pasal pembunuhan berencana dan terancam hukuman mati. Dia didakwa telah melakukan pembunuhan terhadap dosennya sendiri, Nurain Lubis (54) di kampus UMSU, Medan pada 2 Mei lalu. Dalam dakwaannya, JPU menjerat terdakwa dengan Pasal 340 subs 338 KUHP. (van)

Loading...