Kendalikan 17 Kg Sabu, Napi Lapas Medan Bebas Dari Hukuman Mati

435
Ini bandar 17 kg sabu dan empat kurir saat mendengar putusan majelis hakim
Ini bandar 17 kg sabu dan empat kurir saat mendengar putusan majelis hakim
Ini bandar 17 kg sabu dan empat kurir saat mendengar putusan majelis hakim

M24.co-MEDAN-

Narapidana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IA Tanjung Gusta Medan, Julianto alias Yan terbebas dari hukuman mati. Bandar narkoba dan pengendali 17,445 kg sabu itu, dihukum seumur hidup oleh majelis hakim PN Medan, Jumat (12/8/2016).

Dalam perkara 17,445 kg sabu, hukuman yang diberikan majelis hakim diketuai Sabarulina Ginting lebih rendah dibanding tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Pada sidang sebelumnya, JPU Lamria Sianturi menuntut Julianto alias Yan dengan hukuman mati.

Pada sidang putusan itu,  ajelis hakim juga menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada empat kurir 17,445 kg sabu. keempatnya masing-masing Bambang Zulkarnain Sayuti, Sofyan Dalimunthe, Dedy Guntary Panjaitan dan Saiful Amri alias Ama.

Dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan Julianto dan empat kurirnya terbukti melanggar Pasal 114 ayat 2, UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Dalam pertimbangan putusannya, majelis hakim memberikan kesempatan kepadanya (Julianto alias Yan-red) selaku pengendali 17,445 kg sabu untuk bertobat.

“Adapun hal-hal yang memberatkan, perbuatan kelima terdakwa meresahkan masyarakat, mempersulit persidangan dan tidak mengakui perbuatannya, serta masih diberi kesempatan untuk bertobat bagi terdakwa Julianto alias Yan,” ucap ketua majelis hakim Sabarulina Ginting.

Sedangkan hal-hal yang meringankan, kelima terdakwa bersikap sopan dalam persidangan dan masih mempunyai tanggungan keluarga.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Lamria Sianturi menuntut Julianto alias Yan dengan hukuman mati. Sedangkan empat terdakwa  lainnya (kurir) dituntut hukuman penjara seumur hidup.

Usai mendengarkan putusan majelis hakim, JPU Lamria Sianturi menyampaikan masih pikir-pikir. JPU akan meminta petunjuk kepada pimpinan apakah akan mengajukan upaya hukum banding atau tidak. Tindakan yang sama juga dilakukan Amri, selaku penasehat hukum kelima terdakwa.

“Kami masih pikir-pikir. Wajarlah dijatuhi hukuman seumur hidup. Karena tidak terbukti mereka sebagai dalang ataupun otak pelaku. Dalam dakwaan, Tohar yang sebenarnya memerintahkan kelima terdakwa ini. Tapi kenapa JPU tidak mau menghadirkan Tohar di persidangan? Barang (sabu) itukan dari si Tohar. Pdahal dia (Tohar) juga ditahan di Lapas Tanjung Gusta,” ucap Amri.

Perjalanan 17,445  Kg Sabu

Sofyan Dalimunthe dan Dedy Guntary Panjaitan diringkus petugas Badan Narkotika Nasional pada 17 Desember 2015. Mereka diringkus di sebuah SBPU di Jalan Lintas Sumatera, Rampah Kiri, Serdangbedagai, Medan, Sumatera Utara.

Petugas menyita 17 bungkus plastik bening yang di dalamnya terdapat sabu seberat 17,445 kg. Menurut pengakuan Sofyan Dalimunthe dan Dedy Guntary Panjaitan, barang tersebut akan diantarkan kepada seorang kurir lainnya.

Kemudian, pada 18 Desember 2015, dini hari, petugas menangkap Saiful Amri alias Amat sesaat setelah menerima sabu tersebut dari Dedy Guntary dan Sofyan Dalimunthe di daerah Jalan Dr Mansyur Padang Bulan Selayang, Medan Selayang.

Saiful Amri mengaku, sabu tersebut rencananya akan diserahkan kepada Bambang Zulkarnain Sayuti, yang berada di Deliserdang. Bambang dibekuk di kawasan Tembung Percut Deliserdang. Dari pengembangan, ternyata sabu 17,445 kg itu dikendalikan oleh Julianto alias Yan yang tengah menjalani hukuman di Lapas Tanjung Gusta Medan selama enam tahun karena kasus narkoba.(red)

Loading...