Nestapa Korban Cabul Ayah Kandung, Sebungkus Mie Buat Berlima

Ditangkapnya Bayu (43) atas kasus cabul dan perkosaan terhadap dua putri kandungnya tak lantas membuat keluarganya bebas dari penderitaan. Kini, sang istri harus berjuang melawan nestapa menghidupi empat anak yang ditinggalkan ‘ayah badau’, mantan sopir Angkot HIKMA itu.

MEDAN-M24 | Masih ingat kasus cabul yang dilakukan Bayu terhadap dua putri kandungnya dan juga sang istri, Yuli sebelum dinikahi? Meski ‘ayah badau’ itu sudah ditangkap, Yuli dan keempat anaknya kini hidup memprihatinkan.

Hal itu diungkap guru bidang kesiswaan tempat korban bersekolah, Eko kepada metro24, Kamis (4/10). “Miris kehidupan mereka (para korban, red) sekarang, Bang. Kami sudah melihat sendiri,” ucap Eko memulai cerita.

Loading...

Pascaperistia perkosaan itu terungkap, tutur Eko, Yuli serta keempat anaknya hidup berpindah-pindah. Hal itu dilakukan untuk kenyamanan mereka. Hanya saja, berdampak pada perekonomian keluarga itu.

Ya, karena kerap berpindah, Yuli harus kehilangan pelanggannya. Selama ini ibu empat anak itu mencari nafkah dengan menerima jahitan. Kini Yuli telah kehilangan pelanggannya yang juga tak tahu dimana keberadaannya.

Tidak adanya pemasukan sontak membuat masa depan anak-anaknya jadi mengambang. Apalagi Yuli yang sejak menikah dengan Bayu menjadi perantau tanpa sanak saudara di Kota Medan.

Bahkan, putri keduanya, sebut saja Melati yang juga juga korban semakin sering tidak masuk sekolah. “Ada beberapa hari tak masuk sekolah. Kita pun bertanya-tanya lalu mencari tahu alamat mereka sekarang. Selanjutnya kita datang menjenguk,” kenang Eko.

Benar saja, Eko dan sejumlah guru yang ikut menjenguk hanya bisa mengelus dada. Beberapa diantaranya bahkan sampai meneteskan air mata tanpa bisa dicegah.

Siang itu Yuli sedang menyiapkan makanan untuk ia dan empat anaknya. Namun menu yang disajikan tidak seperti layaknya satu keluarga hendak santap siang.

“Hanya sebungkus mie instant saja yang mereka makan buat kelimanya, karena tidak memiliki uang,” ungkap Eko.

Begitu juga dengan tempat tinggalnya. Yuli dan keempat anaknya hanya menghuni bangunan layaknya kost-kostan. Blong tanpa kamar. Kelimanya pun tidur di atas satu tilam. Ditambah pakaian kotor yang menumpuk di atas rak membuat lingkungan itu sangat tidak sehat.

“Satu-satunya hiburan yang mereka miliki hanya TV rongsokan yang gambarnya sudah tak jelas,” beber sang guru.

Belakangan diketahui jika biaya sewa bulanan tempat tinggal mereka dibayar menggunakan simpanan Yuli selama menerima jahitan. Dengan tidak adanya lagi pemasukan, dipastikan tabungan yang dimiliki bakal kandas.

Sejauh ini, lanjut Eko, pihak sekolah berinisiatif memberi bantuan kepada Yuli dan anak-anaknya. Hanya saja, kemampuan pihak sekolah pun terbatas. Untuk itu, Eko berharap pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial juga para dermawan bersedia mengulurkan tangan membantu Yuli dan keempat anaknya.

“Kiranya bantuan dapat disalurkan ke Harian metro24 dan nantinya akan disalurkan ke sekolah. Sementara alamat dan sekolah korban kami masih tutupi demi kenyamanan mereka selama menghilangkan trauma yang ditimbulkan perbuatan bejat tersangka,” pungkas Eko.

Diberitakan sebelumnya, peristiwa perkosaan itu terungkap setelah korban, Bunga yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) datang ke sekolah dengan wajah lebam. Oleh guru agama yang curiga lantas menanyakan korban.

Sang guru pun terkejut mendengar pengakuan korban yang baru dicabuli ayah kandungnya. Hal itu langsung dilaporkan kepada ibu korban, Yuli. Selanjutnya atas saran pihak sekolah, para korban meminta bantuan Lembaga Bantuan Hukum (LBH).

Miris, dalam pemeriksaan diketahui jika Bunga sudah dicabuli sejak umur delapan tahun. Bunga pun dipindahkan ke Aceh Singkil dan tinggal bersama ibu dari pelaku. Belakangan tersangka yang ketagihan datang ke Aceh dan kembali menyabuli korban.

Tak lama, tersangka terlibat masalah hukum dan mendekam di penjara untuk waktu yang lama. Begitu keluar, tersangka justru menyalurkan kebiasaan cabul itu kepada putri keduanya, Melati. Belakangan, Bunga yang melanjutkan pendidikan di Kota Medan kembali digagahi tersangka hingga peristiwa ini terungkap.

Tersangka pun ditangkap personel Polda Sumut. Dari pemeriksaan diketahui pula jika Yuli juga korban perkosaan tersangka sebelum dinikahi. Bunga sendiri adalah benih perkosaan tersangka terhadap Yuli. (irwan)

Loading...