Putus kontrak dan tak bayar sewa, perusahaan Sihar Sitorus disomasi

29

MEDAN-M24 |PT Citra Bintang Familindo (CBF) melakukan somasi terhadap PT. Citra Damai Jaya Lestari (DJL) karena perusahaan milik Sihar Sitorus itu dinilai tidak membayar uang sewa kapal pengangkut minyak kelapa sawit sawit atau CPU (crude palm oil).

Somasi itu dilakukan setelah PT DJL dianggap tidak punya itikad baik untuk membayar uang sewa. Dalam dokumen somasi terakhir yang dilayangkan kuasa hukum PT. CBF, diketahui, terhentinya pembayaran karena ada memo dari Sihar Sitorus sebagai direktur yang meminta perjanjian sewa-menyewa itu dihentikan.

“Hal itu jelas melanggar perjanjian sewa menyewa yang sudah dibuat. Perbuatan itu sangat semena-mena, dan melanggar prinsip etika bisnis, yang kemudian menimbulkan kerugian materil maupun immateril pada klien kami,” kata General Manager PT. CBF, Suriadin Noernikmat, akhir pekan kemarin.

Suriadin mengatakan, pihaknya meminta pembayaran tagihan PT. CBF dibayar pada 21 Juni 2018. Jika tidak juga, cukup alasan bahwa Dirut PT. DJL Sabar Ganda Sitorus tidak punya itikad baik. Dan, tindakan Sihar Sitorus telah merusak perjanjian sewa menyewa.

“Kami akan menempuh jalur hukum, dengan lebih dulu membuat laporan polisi pada Bapak Sihar Sitorus dan pihak lainnya yang harus bertanggung jawab atas tindakan semena-mena ini,” ujar Suriadin.

Suriadin menjelaskan perjanjian sewa-menyewa kapal ditandatangani dirinya dan Dirut PT. DJL, Sabar Ganda Sitorus (abang Sihar Sitorus), pada 9 Februari 2018. “Jangka waktu kontrak selama 1 tahun dengan nilai sewa Rp980 juta perbulan,” katanya.

Saat kontrak berjalan satu bulan, pihaknya diberitahukan bahwa kontrak itu dihentikan. Dari pengakuan PT. DJL, yang berbasis di Kendari, ada permintaan Sihar Sitorus lewat memo, untuk menghentikan kerjasama dengan PT. CBF. Meskipun dalam kontrak, Pasal 45, perjanjian sewa menyewa itu tidak dapat dibatalkan setelah ditandatangani.

Kata Suriadin, tidak ada alasan kenapa perjanjian itu dihentikan oleh Sihar. Tidak ada juga perubahan atas kontrak perjanjian tersebut. Jadi kapal PT. CBF, (MT Pelita Laut), tetap siaga dan saat ini berlabuh di luar dam Pelabuhan Tanjung Priok, menunggu sailing order selanjutnya dari DJL.

“Pembongkaran terakhir dilakukan pada 24 April 2018 di Tanjung Priok. Maka, sesuai perjanjian sewa menyewa, kami tetap melakukan penagihan ke PT. DJL, tak dibayar. Somasi terakhir kami beri tenggat sampai 21 Juni 2018, tapi tidak juga diselesaikan,” ungkapnya.

Sesuai tujuh.surat tagihan (invoice) yang sudah dikirimkan ke PT. DJL hingga 4 Juni 2018, tagihan tersebut berjumlah total Rp3,26 miliar. Dalam perjanjian sewa menyewa kapal yang ditandatangani, seharusnya pembayaran dilakukan paling lambat tiga hari setelah invoice diterima.

Menanggapi hal itu, Sihar Sitorus yang dikonfirmasi via WhatsApp sempat mempertanyakan siapa PT. CBF dan kontrak apa yang dimaksud. “Sepihak gimana maksudnya?” ujarnya.

Namun usai dijelaskan, Sihar yang mengira pihak PT. CBF belum melakukan somasi mempersilakan untuk melakukan somasi kendati dia mengaku belum mengetahui isi kontrak secara lengkap. “Somasi aja, nggak apa-apa,” ucapnya.

Soal rencana pelaporan pihak PT. CBF ke pihak kepolisian, Sihar juga tidak masalah. “Nggak apa-apa, hehehge, saya bisa baca niatnya,” kata dia. (gunawan)

Loading...