Sidang Pencurian Rumah Ketua DPRD Tapsel Ricuh, Terdakwa Tidak Menerima Tuduhan

IMG-20160929-WA0055M24.CO | PADANG SIDIMPUAN – Sidang kasus pencurian di rumah Ketua DPRD Tapanuli Selatan (Tapsel) dengan kerugian mencapai senilai Rp1 milyar yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Kota Padangsidimpuan dengan agenda pembacaan putusan, Kamis (29/9) sore berakhir ricuh. Pasalnya, keluarga terdakwa Andri Maroha Siregar tak terima dengan putusan 18 bulan yang dibacakan Majelis Hakim, Paul Marpaung.

Amatan M24.CO di ruang sidang utama, sebelum persidangan dengan agenda pembacaan putusan terhadap para terdakwa pencurian tersebut yakni,  M Rum, M Nasir Rambe, Zulwan Rangkuti, Martin, Andri Maroha, Salam Lubis alias Ober tampak ramai dipenuhi keluarga terdakwa. Sekira pukul 17.00 WIB, majelis hakim yang diketuai Paul Marpaung akhirnya menggelar sidang.

Kala itu, awalnya sidang berjalan aman. Saat itu, yang pertama kali diadili dalam kasus pencurian tersebut yakni, terdakwa Zulwan Rangkuti. Setelah membacakan berbagai pertimbangan, majelis hakim pun menyatakan Zulwan sebagai pelaku pencurian.

Loading...

Saat itulah, majelis hakim pun memvonis Zulwan 18 bulan perkara. “Apakah kamu menerima putusan kurungan 18 bulan?,” tanya hakim kepada Zulwan.

Mendengar pertanyaan tersebut, Zulwan yang merasa tak melakukan pencurian tersebut menyatakan tidak terima. “Saya tak terima yang mulia. Saya akan banding,” ucap Zulwan.

Usai mendengar pernyataan Zulwan tersebut, majelispun menutup sidang dan memerintahkan Zulwan untuk meninggalkan ruang sidang. Berselang beberapa menit dari persidangan tersebut, majelis hakim pun kembali melanjutkan persidangan dengan kasus yang sama di berkas terpisah.

Kala itulah giliran Andri Maroha Siregar yang duduk di kursi pesakitan. Saat itu, majelis hakim menyatakan beberapa pertimbangan sebelum memberikan vonis terhadap terdakwa Andri Maroha Siregar.

Usai membacakan berbagai pertimbangan tersebut, majelis hakim, Paul Marpaung pun membacakan vonis kurungan 18 bulan terhadap Andri. “Dengan berbagai pertimbangan yang kami lakukan, kami pun menyatakan saudara bersalah. Dan dihukum selama 18 bulan penjara,” ungkap majelis hakim.

Setelah membacakan vonis tersebut, majelis hakim pun menanyakan kepada Andri apakah dirinya menerima putusan tersebut. Mendengar pertanyaan majelis hakim, Andri yang didampingi pengacaranya, Irpan Hakim Harahap menyatakan banding.

“Saya banding,” ucap Andri sembari menggelengkan kepala.

Hal tersebut dilakukan Andri lantaran dia menegaskan kalau dia bukan pelaku pencurian tersebut. Setelah Andri meninggalkan ruang persidangan, saat itulah suasana ruang sidang menjadi ricuh.

Kala itu, terdengar sumpah serapah yang dilayangkan keluarga Andri terhadap majelis hakim. Bahkan, keluarga Andri pun menilai persidangan tersebut merupakan persidangan sesat.

 

“Persidangan sesat ini. Adik saya tidak bersalah. Pelakunya yang sebenarnya sudah ditangkap. Kenapa mereka tidak dihadirkan dalam persidangan ini?  Ada apa ini?  Persidang sesat ini,” ungkap abang kandung Andri, Nurdin.

 

Melihat situasi tegang tersebut, petugas Polres Kota Padangsidimpuan dengan berpakaian preman yang mengawal persidangan berusaha meredahkan keluarga terdakwa. Bukannya meredah, suasana ruang sidang pun kembali memanas.

 

Alhasil, petugas kepolisian pun terpaksa melarikan ke 3 hakim keluar dari ruang persidangan. Tak hanya sampai disitu, pihak keluarga pun menyambangi mobil tahanan yang telah dimasuki para terdakwa.

 

Saat itu, keluarga terdakwa berusaha menghalangi mobil tahanan. Melihat hal tersebut, petugas kepolisian pun dengan sigap menghadang aksi keluarga terdakwa.

 

Alhasil, mobil tahanan pun akhirnya berhasil meninggalkan lokasi menuju LP Salambue. Sementara itu, keluarga para terdakwa berusaha mengepung PN Sidimpuan.

 

Aksi keluarga terdakwa pun akhirnya dapat diatasi usai Kapolres Kota Padangsidimpuan, AKBP M Helmy Lubis meminta kepada massa untuk membubarkan diri.(Sabar)

 

Loading...