BI Sediakan Kantor Konsultasi Coach Dengan Pengusaha UMKM

193

M24.CO|MEDAN
Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ke depan menghadapi tantangan terbesar dari maraknya bisnis online yang mampu membangun jaringan ke seluruh dunia. Hal itu dikatakan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Sumatera Utara Difi Ahmad Johansyah kepada wartawan di sela “Grand Launching Klinik UMKM dan seminar kewirausahaan Buka Langsung Laris” di lantai 9 Gedung Bank Indonesia (BI) Sumut Senin (31/10).

“ Dengan program ini, BI menyediakan tempat di lantai 1 kantor kita buat konsultasi coach dengan pengusaha UMKM. Coachnya dari beberapa sektor usaha, ada agrobisnis, pertanian, ternak lele, ekspor sampai usaha bawang goreng,”katanya.

Menurut Difi, UMKM ternyata mampu survive (bertahan) di tengan pergolakan ekonomi tahun 2014-2015. Jika UMKM sudah maju maka bank juga mau memberikan modal. Tapi banyak juga UMKM yang tak mau pinjam ke bank.

“Saya minta kalaupun ada UMKM yang mau pinjam ke bank maunya pengembalian lancar supaya ke depan, bank tetap lancar memberikan kredit. Sebab kalau tak lancar maka bank tetap tahu melalui data debitur (SID) di BI. Pada MEA ini, bank asing menawarkan bunga kredit rendah 1 persen, sedangkan bank lokal mencapai 5 persen lebih untuk UMKM. Kalau UMKM yang sudah kena black list maka bank asing akan mengetahuinya dan kecil peluang UMKM memperoleh bunga kredit rendah. Di sini yang perlu kejujuran,” ujarnya.

Dikatakannya, sekarang banyak anak muda usia di atas 20 tahun yang sukses berbisnis seperti cafe. Beberapa tahun ke depan bisnis mereka akan meningkat. “ Selain itu kita lakukan Grand Lanching klinik UMKM ditandai dengan Website www.klinikukm.com. Website itu berisi tentang Forum Konsultasi merupakan media para UMKM untuk melakukan sharing dan konsultasi dengan coach mengenai permasalahan serta kendala dihadapi dalam berwirausaha UMKM. Jadi yang dapat melakukan konsultasi adalah UMKM yang telah melakukan registrasi di website,”katanya.

Dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) harus disiapkan UMKM yang berkualitas. UMKM itu harus punya legalitas usaha. “Dari 33 kabupaten/kota baru 17 yang mengeluarkan Perbup untuk memudahkan akses perbankan. Jumlah Usaha Mikro Kecil (UMK) di Sumut terbagi di beberapa sektor ada 2 juta unit,”katanya.

Ditambahkannya, Klinik UMKM diharapkan bisa menjadi wadah bagi para wirausaha yang selama ini memiliki kesulitan dalam hal pengembangan usahanya, mulai pemasaran, inovasi dan lainnya. Karena di Klinik UMKM kita memiliki beberapa coach yang sudah sertifikasi dari berbagai sektor usaha.

“Kita berharap dengan adanya Klinik UMKM dapat memperbanyak UMKM yang berkualitas, tangguh dan mandiri. Tidak hanya kuantitas tapi kualitaslah yang kita harapkan. Binaan kita sendiri yang juga jadi coach dalam Klinik UMKM sudah pernah melewati situasi perlambatan ekonomi atau penurunan omset, namun mereka bisa melewatinya,” pungkasnya. (nis)

Loading...