Harga Karet Fluktuatif Tertekan Harga Minyak Mentah Dunia

28

RIVAN-MEDAN|Harga karet alam di pasar internasional terus berfluktuasi dengan kecenderungan menurun sejak Maret lalu. Seretnya Harga karet tersebut dipicu oleh lemahnya Harga minyak mentah dunia.

Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah mengungkapkan, pada awal tahun, khususnya Januari hingga Februari, harga karet sempat menembus level US$ 2,4 per kilogram (kg), namun kini seret ke level US$ 1,56 per kg.

“Penurunan harga karet ini mulai terjadi sejak Maret dan masih berlangsung hingga saat ini,” katanya kemarin di Medan.

Adapun pergerakan harga karet tersebut mulai mendekati level terendah yang terjadi dalam kurun waktu 2014 hingga pertengahan 2016.

Di mana saat itu, harga karet tak mampu menembus angka US$ 1,5 per kg. Akibatnya, pengusaha mengalami kerugian. Begitu juga dengan petani yang mulai tak bersemangat menderes karet.

Menurut Edy, jika keadaan seperti ini terus berlangsung, ada kemungkinan petani kembali menyetop menderes getah karet dan berimbas pada penurunan produksi.

Penurunan produksi tersebut tentu berimplikasi pada penurunan produksi crumb rubber oleh perusahaan sehingga akan memengaruhi kinerja ekspor.

Padahal, kata dia, karet merupakan salah satu komoditas unggulan Sumut dalam mendongkrak perolehan devisa dari pasar ekspor.

Dalam tiga bulan pertama ini, kontribusi ekspor karet dan barang dari karet terhadap nilai total ekspor Sumut mencapai lebih dari 14%, selain CPO yang di atas 20%.

Adapun harga getah karet di tingkat petani saat ini menurut Edy, hanya mampu bermain di kisaran Rp 7.000 hingga Rp 9.000 per kg, turun dari sebelumnya yang menembus angka Rp 11.000 per kg.

Keadaan seperti ini dikhawatirkan berpengaruh terhadap produksi dan daya beli masyarakat.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, sejak awal April hingga menjelang akhir bulan, harga minyak mentah dunia terpuruk cukup signifikan dan mulai menyentuh level terendah US$ 49 per barel.

“Disaat harga minyak melemah, ada kecenderungan komoditas lain akan menyesuaikan harganya. Terlebih komoditas yang menjadi bahan substitusi dari minyak dunia itu sendiri, seperti karet dan juga CPO,” katanya.

Masih menurut Gunawan, yang menjadi pemicu memburuknya harga komoditas unggulan Sumut tersebut. Ditambah dengan penguatan rupiah yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap menurunannya permintaan di pasar ekspor.

“Menjelang Ramadhan dan Lebaran, saya pikir penurunan harga komoditas ini akan menjadi kabar buruk. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaiki daya beli selain mengharapkan kenaikan harga komoditas itu sendiri dalam jangka pendek,” ungkapnya.

Jadi dengan penurunan harga komoditas tersebut, penjualan ritel di Sumut tidak akan jauh berbeda dibandingkan selama konsumsi di bulan Ramadhan dan Lebaran tahun lalu.

“Tahun ini, kesulitan ekonomi masih akan membayangi karena pada dasarnya Sumut sangat bergantung kepada pertanian khususnya perkebunan,” ujarnya.

Di sisi lain, peran industri manufaktur di Sumut juga belum menjadi pilar bagi ketahan ekonomi.

Pembangunan proyek infrastruktur menurut Gunawan, memang banyak membantu mengurai pengangguran serta memperbaiki daya beli. Namun kontribusinya masih kalah jauh dibandingkan dengan perkebunan atau pertanian.

Selain itu, pembangunan infrastruktur ini sangat bergantung kepada belanja pemerintah dan sifatnya hingga proyek selesai.

Untuk itu, dia menyarankan agar masyarakat di Sumut bijak dalam mengendalikan pengeluaran dengan memberi skala prioritas pada anggaran pengeluaran.

“Hal ini dimaksudkan agar masyarakat tidak terlalu kesulitan menghadapi Ramadhan, Lebaran dan akhir tahun ajaran sekolah yang datang secara beruntun,” jelasnya.

Loading...