Rupiah Melemah Tembus Rp13.070/U$D

151

M24.CO|MEDAN

Data data ekonomi yang dirilis pemerintah AS di akhir pekan lalu menunjukan adanya kinerja yang membaik. Demikian dikatakan Pengamat Ekonomi Sumut, Gumawan Benyamin kepada M24.CO hari ini.

“Data klaim pengangguran yang terpantau tetap tidak mengalami kenaikan di Oktober sebesar 246 ribu jiwa. Menjadi data awal pemicu penguatan mata uang US Dolar,” katanya.

Dia menjelaskan data klaim pengangguran tersebut menepis perkiraan sebelumnya dimana ada kemungkinan peningkatan klaim pengangguran sekitar 252 ribu jiwa. Dan diakhir pekan tepatnya data hari jumat, realisasi data producer price index (PPI) maupun retail sales naik melebihi ekspektasi.

“Data PPI AS 0.7% year on year dibandingkan ekspektasi sebelumnya yang hanya memperkirakan kenaikan sebesar 0.6% year on year. Selain itu data penjualan ritel AS naik menjadi 1.2% dari realisasi sebelumnya yang hanya mengalami kenaikan sebesar 1%,” paparnya.

Dia mengungkapkan data-data tersebut membuat sejumlah pejabat bank sentral AS menyuarakan kenaikan suku bunga acuan di akhir tahun 2016 ini. Alhasil pasar memperkirakan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga acuan di akhir tahun ini. Selama sepekan kedepan.

“Saya melihat masih ada sjeumlah data yang akan dirilis oleh perekonomian AS,” jelasnya.

Sejauh ini ekspektasinya adalah membaiknya kinerja data perekonomian AS tersebut. Sehingga hingga akhir pekan nanti, Rupiah diperkirakan akan diperdagangkan dalam rentang kisaran harga 13. 000 hingga 13.100. Artinya memang ada potensi pelemahan pada nilai tukar Rupiah hingga akhir pekan nanti.

“Pada hari ini, nilai tukar Rupiah diperdagangkan di harga 13.070 per US Dolar. Dimana Rupiah pada hari ini diperdagangkan melemah dibandingkan penutupan di akhir pekan kemarin di harga 13.025 per US Dolarnya,” terangnya.

Dia menambahkan kinerja mata uang Rupiah ini masih akan dipengaruhi oleh ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS di akhir tahun. Dan saya menilai tren pergerakan mata uang rupiah diperkriakan masih akan mengalami tekanan terbatas.

“Karena sentiment internal masih akan menjadi motor pendorong kinerja mata uang rupiah,” tambahnya.(winsah)

Loading...