Tekan Inflasi, BI Bangun 158 Klaster

173

M24.CO|JAKARTA
Deputi Direktur Departemen Pengembangan UMKM Bank Indonesia Ika Tejaningrum (BI) mengatakan untuk mengendalikan inflasi, BI melakukan pendekatan pengembangan klaster serta meningkatkan koordinasi dan kerjasama dengan stakeholder.

Ia menyebut di Indonesia terdapat 158 klaster, 34 komoditas pangan dan 24 non pangan sayur-sayuran. Pada triwulan II tahun 2016 sudah terserap 25.000 tenaga kerja, papar Ika pada “Temu Wartawan Daerah Bank Indonesia di Hotel Grand Mercure Harmoni Jakarta.

Ia menjelaskan, klaster yakni sekelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang beroperasi pada sektor/sub sektor yang sama merupakan konsentrasi perusahaan yang saling berhubungan dari hulu ke hilir. Misalnya budidaya pupuk dan pestisida, pengelolaan dan pasar.

Klaster BI mulai dikembangkan tahun 2006, kemudian tahun 2009 pengembangan klaster dilakukan hampir seluruh kantor perwakillan dengan unggulan/ potensial daerah.
Kemudian tahun 2014 pengembangan klaster diarahkan pada komoditas yang mendukung ketahanan pangan,sumber telanan inflasi/volatile food dan komoditas berorientasi ekspor.

Cara pengembangan klster BI yang praktis dari sisi produksi yakni padi hazton, padi organik, bawang pitih, cabai merah, pakan ternak, kandang sapi komual dan udang vaname.

Prioritas pengembangan komoditi, kata Ika, akan dibagi per regional yang didasarkan pada pemilihan komoditas dan memiliki kontribusi inflasi terbesar di masing-masing regional. Misalnya di Sumatera komoditinya yakni beras, cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras dan bawang merah. Di Pulau Jawa juga beras, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah dan cabe merah. Kalimantan juga beras, daging ayam ras, daging sapi, bawang merah dan cabai merah.

Sedangkan Sulawesi, Papua, Bali dan Nusa Tenggara selain beras juga ikan cakalang, daging ayam ras, cabai rawit dan bawang merah. Disebutnya, jika di wilayah kantor perwakilan BI tidak dimungkinkan untuk mengembangkan komoditas tersebut, maka pemilihan komoditas dapat dilakukan atas dasar 5 tema pengembangan UMKM unggulan yakni daerah perbatasan/ tertinggal, pemberdayaan perempuan, nelayan, industri kreatif dan komoditi ekspor/substitusi impor.

Disinggung pendekatan pengembangan dengan klaster, menurut Ika dengan kelembagaan agar pengelompokan pelaku usaha(petani, peternak dan nelayan) menjadi lebih terorganisir. Kemudian produksi budi/budidaya yakni sebagai jaminan pasokan komoditas antara lain melalui pengaturan pola tanam/produksi untuk pertanian, peternakan dan perikanan. Pendekatan tehnologi seperti pemanfaatan atau pengaplikasian tehnologi baru untuk meningkatkan hasil produksi.

Sedangkan dari sisi pasar, sebut Ika, tentunya untuk menjamin pemasaran hasil produksi serta mengelola distribusi perdagangan antar daerah. Ke depan, ungkapnya, arah pengembangan klaster dengan melakukan integrasi beberapa komoditi untuk meningkatkan efisiensi dan produktifitas sumber daya, kemandirian dan kesejahteraan petani.

Ia mengambil contoh dengan pemanfaatan limbah ternak sebagai biogas/pupuk tanaman, penggunaan tanaman sebagai bahan sumber pakan ternak. Replikasi klaster yakni penerapan ‘best prasties’ dari klaster yang sukses ke klaster lainnya.Meningkatkan produlsi serta mendukung ketersediaan produk secara merata sepanjang tahun. Untuk mendorong akses pembiayaan klaster pada berbagai rantai nilai,maka dapat dilakukan dengan menarpkan skema Value Chain Financing (VCF) melalui pendekatan bisnis ke bisnis aspek komersial bertujuan untuk memenuhi permintaan pasar.

Selain itu berintegrasi dengan program BI lainnya melalui program wirausaha, gerakan nasional non tunai, pencatatan transaksi keuangan (PTK), sertifikasi hak atas tanah (SHAT) dan. Skema resi gudang (SRG). (nis)

Loading...