Alasan Penghentian Sementara Dipertanyakan, Warga Perbatasan Terus Perjuangkan Pembangunan Jalan Karo-Langkat

18

KARO-M24 | Masyarakat Karo di perbatasan Karo-Langkat, terus memperjuangkan pembangunan jalan tembus ke Kota Binjai, melalui Jln Jahe Kutarayat, Kabupaten Karo.

Menurut Indra S Pandia, warga setempat, di lokasi pembangunan, sampai kapan pun masyarakat tidak bisa diam kalau jalan tembus Karo-Langkat, Tanah Karo ini belum diaspal.

Entah apa alasannya pengaspalan jalan tembus Karo-Langkat ini tidak disetujui. Padahal kalau sudah jadi nanti jalan ini diaspal, seandainya nanti masyarakat Kabupaten Karo akan ke Binjai ataupun ke Stabat, dibandingkan jika melewati arah Medan, selisihnya bisa mencapai 3 jam.

“Begitupun masyarakat Kota Binjai kalau mau ke Tanah Karo ataupun mau ke Kota cane. Makanya saya heran melihat instansi terkait yang tidak setuju atas pembangunan jalan ini,” ucap Pandia, diamini warga lainya, kepada wartawan, Kamis (6/9).

Bahkan, katanya, masyarakat Karo-Langkat ini memohon kepada DPRD Sumut, agar bisa membantu warga Desa Karo-Langkat, perihal pembangunan jalur alternatif Karo-Langkat secepatnya terlealisasi.

Terpisah, pemerhati pembangunan jalur alternatif Karo-Langkat, Robert Tarigan, mengatakan, masyarakat di seputaran Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), baik di Provinsi Sumut maupun di Nanggroe Aceh Darussalam, terkesan kurang diperhatikan. Bahkan pembangunannya minim.

“Belanda dan Jepang saat masa penjajahan dikenal sangat kejam, masih memprioritaskan pembangunan dan pembukaan jalan baru,” ujarnya.

Dikatakannya, hutan, gunung dan bukit dibelah, sehingga lahirlah jalan satu satunya Medan-Berastagi. Mereka sadar, dengan adanya infrastruktur jalan representatif sebagai urat nadi perekonomian masyarakat, pembangunan akan terpacu dari keterbelakangan dalam konteks kekinian. Kesejahteraan masyarakat yang berbatasan di dua daerah, juga dipastikan meningkat tajam. Karena terbukanya simpul-simpul ekonomi baru dan ikon pariwisata yang memiliki potensi luar biasa.

Tapi, katanya, kenyataanya, Balai Besar TNGL keberatan dengan pembangunan jalan tembus di kawasan TNGL. Padahal hanya 5 Km yang melewati kawasan TNGL. Sungguh ironis, kecewa dan marah melihat kesombongan TNGL yang sangat keberatan adanya perbaikan jalan. Aapalagi sudah lama diimpikan masyarakat dua kabupaten tersebut. Jauh sebelum lahir TNGL, jalan Karo-Langkat sudah ada yang dikenal jalur perlanjasira.

“Itulah kehebatan kearifan lokal masyarakat setempat yang harus dipahami TNGL. Jangan biarkan masyarakat merengek dan seperti mengemis hanya utk meminta perbaikan jalan tembus Karo-Langkat, yang sudah dibuka Latisarda tahun 80-an dipimpin Letjen LB Murdani saat itu. Bukti prasastinya ada di Tugu Kuliki (Tugu Elang) Batas Karo-Langkat. Sangat bertolak belakang dengan besarnya suntikan dana konservasi dari Eropa,” paparnya. (sekilap)

Loading...