Bangkai KM Sinar Bangun Ditemukan

20

SIMALUNGUN-M24 | Dalam 10 hari pencarian, Badan Serach and Rescue Nasional (Basarnas) menyebut korban sekaligus bangkai KM Sinar Bangun ditemukan. Total, saat ini sudah ditemukan 24 jiwa korban dengan tiga di antaranya meninggal dunia.

“Pertama kami menemukan 19, 18 hidup 1 meninggal dunia. Kemudian ada tambahan 2 meninggal dan 3 hidup,” ujar Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI M Syaugi saat jumpa pers di Gedung Basarnas, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (28/6/2018).

Terkait penemuan bangkai kapal, Syaugi mengatakan perkembangan signifikan ditemukan tim pencarian gabungan KM Sinar Bangun. Karenanya, pencarian diperpanjang hingga ditambah tiga hari ke depan, terhitung kemarin.

“Jadi kemarin adalah 10 hari, Setelah 10 hari kami sudah lihat progres itu ada. Sehingga, kita tambah lagi 3 hari dan Alhamdulillah membuahkan hasil signifikan. Kita lihat suspect puing kapal, bangkai motor diduga milik penumpang dan beberapa korban yang tertangkap alat pencari, seperti remotely operated vehicle (ROV/robot bawah air) dan multi-beam sonar,” jelas Syaugi.

Pencarian menggunakan ROV diketahui menjangkau kedalaman hingga 300 meter. Namun, hal tersebut belum menapaki titik dasar danau. Kemudian, dengan mendatangkan alat Multi-Beam Sonar, Basarnas dan Tim Gabungan bisa menjangkau kedalaman 2000 meter.

“Saat itu, Alhamdulillah dengan dijalankan ini ada indikasi objek di dasar, antara kedalaman 450-490 meter. Itu kita ketemu 2 (objek). Kita dalami terus alat ini kita menemukan papan yang kemungkinan itu adalah KM Sinar Bangun. Dan, siang hari ditemukan objek korban manusia di kedalaman 450 meter,” tuturnya.

Selanjutnya, ungkap Syaugi, pihaknya tengah mencari cara untuk bisa mengangkat jasad korban dan bangkai KM Sinar Bangun. Namun, dia mengakui sejauh ini belum punya alat untuk itu.

“Kita belum punya alat untuk mengangkat dari kedalaman 450 meter. Saya sudah tanya rekan-rekan saya tentang kejadian-kejadian itu, kurang-lebih di 100 meter. Seperti contoh kejadian AirAsia 40 meter bisa diselam, (KM Sinar Bangun) ini tidak bisa. Kita masih memikirkan ini,” katanya.

Tim SAR gabungan, menurut Syaugi, sudah memberi tanda pada titik temuan jasad korban di kedalaman 450 meter. Tim kembali akan menyisir lokasi pada Jumat (29/6).

Diketahui, KM Sinar Bangun tenggelam dalam perjalanan dari Pelabuhan Simanindo, Samosir, ke Tigaras pada Senin (18/6). Kapal tersebut berlayar tanpa dokumen manifes penumpang dan diketahui dalam kondisi tidak memenuhi standar keselamatan, seperti ketersediaan life jacket. Hingga saat ini tercatat 164 orang dinyatakan hilang dalam tragedi di Danau Toba tersebut.

Terpisah, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Budi Setiyadi mengatakan Tim Ad Hoc akan bergerak cepat membenahi tata kelola pelayaran di Danau Toba. Langkah utamanya memperbaiki sarana prasarana dan operasional keselamatan pelayaran.

“Tim Ad Hoc itu saya laporkan ada beberapa lembaga terkait, sesuai tupoksinya masing-masing. Lembaga itu tidak terbatas di Kementerian Perhubungan saja, tetapi di luar ya seperti BMKG,” kata Budi, di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Kamis (28/6).

Budi melanjutkan, selain memperbaiki sisi operasional, tim Ad Hoc juga diberikan tugas memperbaiki regulasi atas rekomendasi dari rapat yang dilakukan sebelum Tim Ad Hoc dibentuk. Dia pun meminta agar pembenahan dapat dilakukan dalam satu bulan.”Pak Menteri Perhubungan memberikan tanggung jawab ke saya, minimal satu bulan ada peningkatan yang cukup baik terhadap fasilitas keselamatan yang ada di Danau Toba,” ujarnya.

Pada tahap awal, tim sudah membagikan alat keselamatan, sebanyak 500 pelampung, ke depannya akan ada 5 ribu pelampung ke kapal penyeberangan di Danau Toba. Selain itu, pemberian pelatihan keselamatan ke pihak yang terlibat dalam pelayaran di Danau Toba.

Nantinya, pembenahan tata kelola pelayaran Danau Toba oleh Tim Ad Hoc dijadikan acuan tata kelola pelayaran danau dan penyeberangan sungai di wilayah lain. “Permintaan Pak Menteri, Danau Toba ini sebagai kasus untuk kita semacam pilot project. Kalau sudah berjalan dan ada peningkatan, berikutnya dikembangkan ke Palembang, Kalimantan. Sungai apa danau apa, akan kita sentuh,” jelas Budi.

Menurut Budi, pembenahan tata kelola pelayaran diprioritaskan pada tempat tujuan wisata, kemudian diperluas ke tingkat nasional. Dengan begitu, akan dibuat standarisasi tata kelola pelayaran danau dan sungai.”Sebetulnya casenya sama lah, menyangkut masalah kemampuan operatornya, pengawasannya, kondisi kapalnya, cuacanya,” tandasnya. (net)

Loading...