Dibangun 2017 Untuk 11 Desa di Karo dan Dairi, Bantuan Sarana Air Bersih Pemprovsu Tak Bermanfaat

3

Bangunan sarana air bersih di Desa Susuk Karo yang tak berfungsi (M24-Sekilap)

KARO-M24 | Pengadaan air bersih yang diproyeksikan bisa langsung diminum (Water Purifier) bantuan Pemprovsu, tidak dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Bahkan bantuan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang dianggarkan di APBD TA 2017, untuk 11 desa di Kabupaten Karo dan Kabupaten Dairi tersebut, sejak selesai dibangun tahun 2017 sampai sekarang, pasokan airnya tidak pernah ada.

Informasi dihimpun, Kamis (13/9), bantuan pengadaan air bersih yang menghabiskan uang negara miliaran rupiah tersebut, dituding warga, pembangunannya dijadikan proyek akal-akalan oleh pelaksana. Hanya mengharapkan keuntungan semata.

Salah satu desa penerima bantuan sarana air bersih tersebut, yakni Desa Susuk, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo.

Kepala Desa Susuk, Pribadi Peranginangin, yang dikonfirmasi wartawan, kemarin (12/9), menyebutkan, sampai hari ini bantuan tersebut tidak bisa difungsikan, karena suplay airnya tidak pernah ada. Menurutnya, tidak adanya air yang tersuplay ke bangunan tersebut, karena pada waktu pengeboran dilakukan, tidak sampai selesai. Sebab terhalang batu di bawah tanah. Dan pengeboran itu pun tidak pernah dilanjutkan oleh pemborong.

“Memang sampai hari ini bantuan tersebut tidak dapat digunakan, karena tidak ada pasokan air. Waktu pengeboran itu saya berada di situ menyaksikan dan pengeborannya tidak tembus, karena terhalang batu. Mungkin karena mereka hanya menggunakan tenaga manusia bukan dengan mesin,” jelas Pribadi.

Diakuinya, dia merasa heran, karena meski pengeboran air tidak berhasil, tapi pekerja terus melakukan pembangunan dan memasang tower penampungan air. Dan menurutnya, dia sempat diminta untuk mengalirkan air dari kamar mandi umum (pet rumah tengah), yang ada di sebelah bangunan, untuk mengisi tangki penampungan air.

Pribadi juga mengatakan, berita acara serah terima pun sampai saat ini belum ada ditandatanganinya.

Terpisah, warga Desa Susuk, J Sembiring (52), menyebutkan, proyek tersebut hanya rekayasa, agar dana sudah terkucur ke kantong orang-orang yang berkepentingan. Buktinya sampai sekarang bantuan itu tidak bisa digunakan.

“Sampai sekarang kami tidak tahu apa fungsi bangunan itu. Katanya untuk air bersih, tapi sampai sekarang airnya pun tidak ada. Ini kan akal-akalan mereka saja semua,” ujar Sembiring.

Di lain lokasi, salah satu bangunan yang sama berada di salah satu desa, di Kecamatan Merdeka, airnya pun tidak terpakai. Meski airnya begitu deras, tapi warna airnya pun menguning dan berminyak. Bahkan warga setempat pun menuding pihak pekerja atau oknum Kades yang mengerjakan, terkesan asal jadi. (sekilap)

Loading...