Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Warung Remang di Dusun Buluh Didi Diminta Dibongkar

7

PAKPAK BHARAT-M24 | Keseriusan Pemkab Pakpak Bharat menangani persoalan penyakit masyarakat terus ditunjukkan dengan menggelar Rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Salah satunya tentang rencana pembongkaran warung remang-remang di Dusun Buluh Didi, Desa Tanjung Mulia, Kecamatan STTU Jehe. Warung remang-remang ini terindikasi kuat sebagai sarang penyakit masyarakat, berupa prostitusi dan peredaran minuman keras. Bahkan terjadi human trafficking atau perdagangann manusia serta banyak ditemukan kasus HIV/AIDS.

Hal itu terungkap dalam presentasi progress report pelaksanaan rencana pembongkaran warung remang-remang, yang dibuka Bupati Pakpak Bharat, Remigo Yolando Berutu, di Bale Sada Arih, kemarin.

Di hadapan Ketua DPRD Sonni P Berutu, Dandim 0206/Dairi Letkol (Arh) Hadi Purwanto, Ketua PN Sidikalang Afrizal Hadi, Remigo mengatakan, sejak dilayangkan surat peringatan ketiga 7 Agustus lalu, sudah mulai ada perubahan di dusun sepanjang jalan negara tersebut. Khususnya pembongkaran warung-warung yang menyediakan prostitusi serta minuman keras. Baik itu yang sudah dibongkar permanen ataupun masih sekat-sekat kamarnya.

“Intinya, jika masih ada bangunan yang menjadi tempat penyakit masyarakat tersebut, maka secara naluriah, subjek-subjek penyakit masyarakat akan kembali lagi ke lokasi itu. Maka tidak ada jalan lain, harus secara total, tuntas dan permanen meniadakan tempat-tempat yang meresahkan itu,” tegas Remigo.

Senada, Ketua DPRD Pakpak Bharat,Sonni P Berutu, mengutarakan, persepsi harus disamakan. Karena sesungguhnya budaya menolak tindak-tanduk penyakit masyarakat tersebut.

Dandim 0206/Dairi, Letkol (Arh) Hadi Purwanto, menambahkan, pada kenyataanya semua sudah memiliki tekad yang bulat, untuk menghapus perilaku meresahkan di Dusun Buluh Didi itu. “Kami dari Kodim mendukung penuh untuk dilaksanakan pembongkaran secepatnya dan semoga tidak ada hambatan serta benturan yang terjadi,” harapnya.

Ketua FKUB Pakpak BHarat, Pdt Mangara Sinamo, juga menyampaikan kesepakatan untuk menyamakan frekuensi, sebagaimana disebutkan bupati. “Mari kita membangun empati terhadap kondisi yang ada, agar tidak ada pencederaan terhadap nilai-nilai spiritual kita. Jangan hancurkan generasi dan mari kita jadikan penyakit masyarakat ini sebagai musuh bersama,” ajaknya. (edy)

Loading...