Lahan Pertanian Kekeringan, Petani Tiga Panah dan Merek Alami Keterlambatan Tanam

KARO-M24 | Petani di sebagian wilayah di Kabupaten Karo mengalami keterlambatan tanam akibat curah hujan yang belum merata.

Mereka kesulitan untuk mengolah lahan ladangnya karena kondisi lahan kembali mengering. Di sisi lain, para petani sudah membuat persemaian sejak sebulan yang lalu. Sehingga usia bibit di persemaian ada yang sudah berusia 25 hari hingga 30 hari. Ini melebihi waktu persemaian yang idealnya hanya 20 hari saja.

Petani yang mengalami keterlambatan tanam tersebut di antaranya petani di Desa Suka, Bunu Raya, Aji Nembah, Kecamatan Tiga Panah sebagian wilayah dan sebagian petani di Kecamatan Tiga Panah, yang luasnya mencapai ratusan hektar.

Loading...

Menurut keterangan petani di Desa Suka, Roja Tarigan, awalnya para petani menduga curah hujan akan terus merata sepanjang waktu. Sehingga begitu turun hujan berhari-hari, petani segera mengolah lahan dan membuat persemaian. Harapannya, begitu curah hujan tinggi bisa segera tanam. Namun ternyata perkiraan tersebut meleset.

“Bingung sekarang bibit sudah besar, sudah berumur 30 hari, sementara air tidak ada, ladang kering. Kalau seperti ini terpaksa harus menyemai ulang,” ungkap Roja, Selasa (31/7).

Menurutnya, bila bibit dipaksakan ditanam dengan kondisi sudah tua, maka pertumbuhannya tidak akan baik. “Paksaken pe lanai bo banci mejile (kalau dipaksakan tidak akan baik),” tambahnya.

Disampaiakn Roja, di wilayahnya yang mengalami keterlambatan tanam tersebut mencapai kurang lebih 100 hektar. Yang hampir kesemuanya sudah berupaya mengolah lahan setengah jadi, malah sebagian siap ditanami bila air tersedia.

Hal serupa juga dialami petani di sebagian wilayah di Kecamatan Merek. Namun petani di wilayah tersebut mengaku akan memaksakan menanam dengan cara tanam kering. Bila tidak maka bibit di persemaian akan semakin tua. Makanya meski lahan tidak berair mereka tetap mengolah lahan untuk segera ditanami.

“Walaupun kondisi ladang kering diharapkan hujan bisa turun sewaktu-waktu, sehingga tanaman bisa tetap tersiranm air,” tutur Deltamek Ginting, petani yang mengaku ladang yang digarap memperoleh hasil sewa Rp15.000.000 per tahun.

Kepala Dinas Pertanian Karo, Sarjana Purba, membenarkan adanya sejumlah wilayah yang belum merata kena hujan. “Kalau nanam memang hujan sangat perlu, memang pola tanam sangat tergantung pada curah hujan, namun petani bisa menggarap lahan kering, sehingga ketika curah hujan mulai tinggi bisa melakukan tanam kering,” ungkap Sarjana. (sekilap)

Loading...