Masyarakat pilih SIM ‘tembak’ karena sulit urus SIM resmi

83

Medan | Susahnya memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM) lewat jalur resmi, diyakini jadi alasan mengapa masyarakat memilih SIM ‘tembak’. Pun begitu, pihak kepolisian meminta masyarakat mengurus SIM tanpa ada bantuan para calo.

Diungkapkan Kapolda Sumut Irjen Pol Paulus Waterpauw berbagai indikasi ditengarai menjadi faktor pendorong tingginya permintaan SIM tembak tersebut. Ini menyusul ditemukannya pabrik pembuatan SIM palsu di Jln Setia Luhur, Kel Dwikora, Kec Medan Helvetia.

“Memang banyak indikasi-indikasi yang kita temukan menyangkut kenapa pemalsuan SIM ini bisa dilakukan, kita juga mendapat informasi-informasi demikian setelah diungkapnya kasus ini. Untuk itu berbagai hal berkaitan kasus ini tentu masih didalami lebih jauh,” ungkap Paulus, Sabtu (30/9) di lokasi penggerebekan.

Lanjutnya, pihak kepolisian masih menyelidiki dugaan adanya sindikat pembuat SIM palsu serupa yang melakukan praktek ilegal di tempat lain. Selain menjadi PR polisi, Paulus melanjutkan, masyarakat juga harus jeli karena sulit membedakan secara fisik antara SIM palsu dengan yang asli hanya dengan mata telanjang.

“Ini yang juga menjadi hal yang harus diperhatikan kembali dalam analisa evaluasi berkaitan kasus itu,. Karena sulit membedakan yang asli dengan yang palsu. Nantinya masalah itu juga harus segera diantisipasi lebih lanjut khususnya oleh Ditlantas Polda Sumut dan Satlantas Polrestabes Medan,” pungkas Paulus.

Hindari Mengurus Lewat Calo

Sementara itu Kapolrestabes Medan Kombes Pol Sandi Nugroho mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan jasa calo saat pengurusan SIM.

Menurut Sandi, menggunakan jasa calo tingkat kerugian bagi pemohon semakin besar. Bahkan, sering terjadi tindakan penipuan yang dilakukan para calo.

“Alangkah lebih baik, pemohon langsung membuat ke bagian Satpas. Mekanismenya, nanti akan diarahkan oleh petugas kita jika pemohon SIM tidak paham mekanisme atau cara-cara pembuatan SIM. Karena menggunakan jasa calo, resiko masyarakat lebih besar dan dapat terjadi penipuan yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,” terangnya.

Lanjut Sandi, masyarakat juga disarankan agar mengikuti serangkaian ujian pembuatan SIM, yang gunanya agr pemohon SIM lebih paham tata cara berlalu lintas.

“Seharusnya sesuai mekanismenya seperti mempersiapkan uji kesehatan dan mengikuti ujian tertulis dan praktek. Itu semua agar pemohon lebih paham. Masyarakat jangan terjebak dengan adanya SIM tanpa tes,” bilangnya.

Saat disinggung mengenai mekanisme apabila pemohon SIM melakukan perpanjangan, sambung Sandi, bahwa petugas akan memotong SIM yang sudah mati dan akan membuat berita acaranya.

“SIM yang lama kita musnahkan dengan cara memotong bagian atasnya. Dan potongan lainnya itu kita gunakan untuk berita acara,” tandasnya. (sumber :metro24) 

Loading...