Nelayan Pulo Simardan sepuluh hari tak bisa melaut

13

TANJUNGBALAI-M24 | Sudah sepuluh hari para nelayan Kel Pulo Simardan tidak bisa melaut, akibat alur sungai yang sering mereka lewati ditutup Panton milik PT HK (Hutama Karya) yang sedang bekerja.

Selain itu, di tengah alur sungai juga dangkal akibat galian tanah dari pinggir ke tengah. Tambah lagi kabel-kabel phanton yang melintang, membuat kipas dan kemudi perahu nelayan berpatahan.

“Kami minta pembangunan pintu klep digagalkan, karena kami merasa tidak ada keuntungan bagi masyarakat dengan dibangunnya pintu klep tersebut,” ujar Amban, perwakilan dari masyarakat Ling V, VI dan VII Kel Pulo Simardan.

Lebih lanjut dikatakan Amban, warga sudah berulang kali bermohon kepada kepling, lurah dan camat bahkan sudah sampai ke Pemko yang diterima langsung oleh Walikota Tanjungbalai.

“Jangan sampai kami para nelayan susah mencari makan. Sepertinya permohonan tidak direspon, dan sampai kapan kami harus seperti ini karena tidak bisa pergi melaut untuk mencari makan. kalau dipaksakan juga tetap pergi melaut, kami merasa rugi,” ujarnya.

Lurah Pulo Simardan, Surip mengatakan, pihak PT HK belum pernah ada mensosialisasikan kepada masyarakat tentang pembuatan pintu klep di alur sungai Pulo Simardan.”Memang kita akui, kalau ada pintu klep di alur sungai tentu saja kapal-kapal nelayan yang selama ini sering lalu lalang keluar masuk tidak akan bisa lagi melalui alur sungai ini,” pungkas lurah.

Sedangkan pelaksana lapangan PT HK ketika dikonfirmasi mengatakan, untuk tekhnisnya dia tidak bisa menanggapi karena hanya pekerja. “Mengenai tuntutan warga tentang kerugian material yang dialami warga tidak bisa ditanggapinya. Bagaiman keputusan pihak perusahaan kita lihat besok setelah ada musyawarah pihak perusahaan dengan masyarakat,” pungkasnya. (surya)

Loading...