Pelesiran ke Luar Negeri, Kunker Anggota DPRD Sumut Dianggap Kontroversial

MEDAN-M24 | Rencana kunjungan Kerja (Kunker) anggota DPRD Sumut menuai kontroversial, lantaran menghabiskan anggaran negara. Rencananya anggota parlemen itu ke Italia pada, Sabtu (13/10) mendatang.

Kasus seperti ini bukan pertama kalinya publik menggunjingkan kunker tersebut. Banyak kritik terlontar, menyebut berbagai kunjungan kerja itu bukan semata-mata untuk kepentingan kerja parlemen, justru menjadi semacam ajang pelesiran dan sebagai pemborosan anggaran negara.

Anggota DPRD Sumut, Philips Perwira Juang Nehe mengatakan, kunker ke-4 anggota dewan berinisial HTM, SQM, DL dan AW serta 1 staf pendamping tidak bersifat penting sekali. “Apa yang mau dipetik dari kegiatan itu, lantaran buang-buang anggaran saja. Lebih baik uangnya dialokasikan untuk membantu rakyat dan membangun daerah,” kata Philips, kemarin (9/10).

Loading...

Menurutnya, apa yang disampaikan akan membuat dirinya tidak disukai oleh anggota dewan lainnya, karena setiap tahun melaksanakan kunker sampai saat ini. Beberapa legislator memaki trik untuk menjadwal keberangkatan secara bergiliran, 3 sampai 4 orang/grup. “Seperti menerapkan operasi senyap supaya banyak yang tak tahu,” cetusnya.

Alasan dia melontarkan sikap itu, lantaran tak kuasa menahan perasaan gusar yang tertahan di hati. Persoalan kunker ke luar negeri harus didiskusikan kembalu, agar publik memahami sasaran, tujuan, target dan hasil dari kegiatan tersebut.”Sampai sekarang saya tak mau ikut kunker ke luar negeri. Tahun 2017 Komisi C kunker ke Belanda soal air minum. Tapi saya tak mau ambil. Tahun 2018 juga dijadwal kunker ke luar negeri,” ungkapnya.

Philips pun mengusulkan kunker ke luar negeri dihentikan lantaran tidak tepat sasaran dan dampak nyata dalam membangun daerah, atau mewujudkan akselerasi kesejahteraan rakyat. Begitujuga dengan studi banding di beberapa daerah juga harus dikurangi, apabila tidak memberikan manfaat untuk penyelesaian masalah-masalah rakyat.

“Saya lebih setuju ada sosialisasi Perda di dapil, yang dilakukan 4 kali dalam 1 tahun. Kan lebih bermanfaat,” imbuhnya.

Seharusnya, anggaran kunker mencapai Rp63 juta/orang dialihkan untuk bansos/hibah rumah ibadah, membantu rakyat miskin dan membangun jalan rusak di penjuru kab/kota Sumut. Selain itu, harus ada sikap tegas dari tiap pimpinan fraksi dan Pemprovsu menyikapi kunker anggota dewan ke luar negeri, agar tidak ada kesan, legislator menghambur-hamburkan uang negara.

“Kita imbau Pemprovsu dan DPRDSU supaya menghentikan pola lama untuk memboroskan uang rakyat, dengan modus perjalanan dinas, kunker serta studi banding. Janganlah terus-terusan kita rela diejek rakyat karena kita sendiri yang membuat kegiatan-kegiatan kurang bermanfaat,” cetusnya.

Terpisah, pengamat sosial dan politik, Drs Shohibul Anshor Siregar menilai, kegiatan yang diatur secara sistematis itu bersifat hura-hura, bersenang-senang dan mencuri uang rakyat. “Kegiatan yang disusun cuma berorientasi menguntungkan diri, kelompok serta mengabaikan hakekat kesejahteraan rakyat,” ucap dosen Sosiologi Politik Fisip UMSU Medan itu.

Dipastikannya, perilaku tersebut mengabaikan rasa keadilan publik dengan menghabiskan anggaran serta memboroskan uang rakyat. “Kunker ke luar negeri adalah bentuk gaya hidup hedonis. Mereka suka bersenang-senang dan lupa pada musibah kemanusiaan Lombok dan Sulteng. Mending kasih uangnya buat saudara-saudara kita yang menderita akibat gempa/tsunami di sana,” sesal Shohibul.

Terpisah, staf Travel Purnama Wisata, Azizi membenarkan telah memfasilitasi keberangkatan kunker ke 4 anggota DPRD Sumut ke Italia. “Akomodasi izin, hotel, transport lokal, tour guide dan makan selama 7 hari di Italia Rp43 juta/orang. Tiket PP Rp20 juta/orang,” singkap Azizi.

Sebelumnya pada, Sabtu (22/9) lalu, Ketua Komisi E DPRD Sumut berinisial DS bersama tim kunker ke London memakai jasa travel yang berlokasi di Bekasi dan punya grup Hari Travel di Jln SM Raja, Medan. Kemudian pada awal September juga ada keberangkatan Ketua DPRD Sumut, WA dan anggota berisinial ZSR serta BM ke China. (budiman)

Loading...