PTPN 4 rugi 17 M, Polda tangkap petani kampung

62

Gunawan-Medan | Kerugian Rp17 miliar yang diderita PTPN 4 akibat pencurian sawit di tahun 2017, mendadak membuat Resdianto terpenjara. Bermodalkan kesaksian warga dan kepala desanya, petani dari Dusun I Sinarejo, Desa (Nagori) Bah Kisat, Kec. Tanah Jawa, Simalungun ini pun memprapidkan Polda Sumut.

Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (10/4), menggelar sidang prapid (praperadilan) atas permohonan Resdianto untuk mendapatkan keadilan pascaditangkap dan dipenjarakan oleh aparat Polda Sumut. Kali ini, sidang prapid dengan nomor perkara 25/Pra.Pid/2018/PNMDN mengagendakan pemeriksaan saksi-saksi.

Diwakili kuasa hukumnya, Mhd Erwin dan Jonizar, Resdianto mengajukan empat saksi. Keempatnya adalah Kepala Desa Bah Kisat, Mislan; Kepala Dusun I Sinarejo, Sugiono; mantan kerani (mandor) timbang UD Pengusaha Muda, Misdar; dan Wahyudi, tetangga sekaligus teman akrab Resdianto.

Sementara, pihak Polda Sumut menghadirkan tiga saksi, yakni Efendi, Faisal Jukri dan Sudidarma. Ketiganya merupakan karyawan UD Pengusaha Muda yang memiliki gudang penampungan tandan buah segar (TBS) sawit di Dusun I Sinarejo.

Diketahui, Polda Sumut pada Sabtu, 17 Februari 2018, menggrebek gudang sawit UD Pengusaha Muda. Dalam penggerebekan itu, petugas Polda Sumut menggelandang 19 pekerja dari gudang milik Ketua Fraksi Golkar DPRD Simalungun, Sugiarto, SE. alias Anto BD tersebut.

Senin, 19 Februari 2018, petugas Polda Sumut kembali ke Dusun I Sinarejo dan menangkap Resdianto dengan tuduhan mencuri TBS milik PTPN 4 Kebun Balimbingan, yang berbatasan langsung dengan Dusun I Sinarejo. Resdianto ditangkap langsung dari kediamannya, di hadapan istri dan anak-anaknya.

Penangkapan Resdianto sontak menggegerkan warga Dusun I Sinarejo. Betapa tidak, petani beranak dua ini dikenal sebagai sosok yang jujur, sederhana dan memasyarakat. Hal ini diakui Mislan, Sugiono, Misdar dan Wahyudi di hadapan majelis persidangan prapid.

“Resdianto itu perangkat desa saya. Dia Ketua LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat). Kalau tidak berprilaku baik, mana mungkin warga menginginkannya menjadi Ketua LPM,” tegas Mislan dalam persidangan, saat ditanya mengenai pengetahuannya tentang sosok Resdianto.

Senada, Sugiono selaku kepala dusun juga mengatakan Resdianto adalah orang yang tidak pernah melanggar norma-norma dalam kesehariannya. “Makanya kami heran kok tiba-tiba si Anto dituduh maling sawit,” ujarnya, sembari menegaskan bahwa warga dusunnya mengenal Resdianto dengan panggilan Anto.

Sementara itu, Misdar menjelaskan bahwa sepengetahuannya Resdianto rutin menjual TBS dua kali dalam sebulan dari hasil memanen di kebun seluas 4,5 rante miliknya sendiri. Dan itu sudah berlangsung bertahun-tahun.

“Saya sempat 18 tahun kerja sebagai kerani timbang di gudang UD Pengusaha Muda. Dan, sempat beberapa tahun saya menerima sawit dari hasil panen kebun Resdianto. Sawitnya kira-kira ada dua puluhan pohon. Sekali panen, dia bisa menjual ke gudang kurang lebih 200 Kg,” ungkap Misdar, sembari memastikan di luar jadwal panennya, Resdianto tak pernah menjual sawit ke gudang UD Usaha Muda.

Disebutkannya pula, seluruh warga Desa Bah Kisat maupun desa-desa di sekitarnya hanya menjual sawit ke UD Pengusaha Muda. Karena, satu-satunya gudang penampungan sawit di Desa Bah Kisat adalah gudang UD Pengusaha Muda tersebut. Dan, UD Pengusaha Muda sendiri merupakan unit usaha milik Sugiarto SE alias Anto BD.

Mislan menimpali, semula dirinya mendapat kabar bahwa polisi menangkap Dian. Warga desanya yang bernama lengkap Dian Syahputra itu dibawa ke Markas Polsek Tanah Jawa. Mislan pun berangkat menuju markas kepolisian tersebut untuk memastikan mengapa warganya yang masih berusia 17 tahun itu ditangkap.

“Belum sempat bertemu dengan si Dian, saya ditelepon oleh istri Resdianto. Katanya, Resdianto ditangkap polisi dan dibawa ke Polsek Tanah Jawa. Lantaran sudah berada di Polsek Tanah Jawa, saya pun menunggu,” ujar Mislan.

Setelah Resdianto tiba di Polsek Tanah Jawa, Mislan bertanya pada polisi mengenai persoalan yang menyebabkan Dian dan Resdianto ditangkap. Kemudian, polisi menjelaskan kalau Dian yang semula mereka tangkap bukanlah Dian pencuri sawit yang mereka cari. Karenanya, mereka kembali ke Dusun I Sinarejo untuk menjemput paksa Resdianto.

“Lho, itu kan yang ditangkap namanya Resdianto, bukan Dian?” ujar Mislan, mengulang pertanyaannya kepada petugas.

Lantaran bertanya begitu, Mislan sempat dituding menghalang-halangi tugas aparat. Dan, petugas yang memboyong Resdianto lantas berkata, “Kalau mau protes, silakan ke polda.”

DIAN; BENANG MERAH KASUS

Penasaran, Mislan terus berupaya mencari ‘benang merah’ mengapa Resdianto ditangkap polisi dengan tuduhan mencuri sawit PTPN 4 dan menjualnya ke UD Pengusaha Muda. Akhirnya, Mislan mengetahui kalau persoalannya bermula dari keterangan Risma dan Heni Kurniawati. Kedua perempuan itu merupakan karyawan UD Pengusaha Muda yang ikut diperiksa petugas Polda Sumut pascapenggerebekan gudang sawit UD Pengusaha Muda.

“Rupanya, Risma dan Heni diminta menjelaskan nama-nama yang ada pada daftar penjual sawit di gudang UD Pengusaha Muda. Di daftar itu nama Dian paling sering menjual sawit. Saya panggil mereka ke kantor desa. Ternyata, setelah saya tanyai apakah Dian yang dimaksudkan adalah Resdianto, mereka menjawab bukan. Yang mereka maksud rupanya Dian yang warga Marimbun Desa Maligas Tongah. Terus, saya minta mereka membuat pernyataan. Mereka bersedia,” beber Mislan.

Dalam persidangan itu, kuasa hukum Resdianto membawa serta surat pernyataan Risma dan Heni. Pernyataan itu diperlihatkan kepada hakim dan diserahkan kepada panitera.

Hal lain yang dijadikan polisi sebagai alasan menahan Resdianto adalah keterangan Sudidarma. Keterangan yang tertuang dalam berita acara pemeriksaan (BAP) itu menyebut sebagian dari dua tronton plus satu dump truck sawit yang disita Polda Sumut adalah sawit penjualan Resdianto.

“Apakah hanya dengan diperlihatkan, saudara saksi bisa memastikan sawit itu adalah sawit yang dijual Resdianto? Sementara, polisi hanya menunjukkan dua tandan dari sawit sebanyak dua tronton dan satu dump truck barang bukti,” cecar Mhd Erwin, salah seorang kuasa hukum Resdianto kepada Sudidarma yang ikut didudukkan sebagai saksi pada sidang prapid. Dan, meski awalnya terbata-bata, Sudidarma akhirnya menjawab tidak bisa membedakannya hanya dengan melihat.

Sebelumnya, berdasarkan 18 tahun pengalamannya sebagai kerani timbang di UD Pengusaha Muda, Misdar mengatakan sawit yang rutin dijual Resdianto merupakan sawit dura (sawit kampung, red). Sedangkan sawit milik PTPN 4 keseluruhannya adalah sawit tenera, hasil pembibitan dari Balai Bibit Marihat.

“Kalau hanya dengan melihat, sawit dura dan tenera tak bisa dibedakan. Kecuali kalau dikopek kulitnya. Memang sekarang masyarakat kampung bisa beli bibit di Marihat. Makanya, ada juga masyarakat yang nanam sawit tenera. Tapi, sepengetahuan saya, sawitnya Resdianto itu sawit dura,” terang Misdar.

Setelah mendengarkan keterangan seluruh saksi, hakim prapid menunda persidangan untuk dilanjutkan hari ini, Rabu (11/4) dengan agenda pengajuan konklusi atau kesimpulan dari para pihak. Usai persidangan, kepada M24 Mhd Erwin mengatakan kliennya merupakan korban salah tangkap hanya lantaran ada “Dian’ di penggalan namanya. Padahal, dalam keseharian di kampungnya berdasarkan keterangan para saksi, Resdianto akrab disapa Anto.

“Sebenarnya, di BAP tak ada satu pun saksi yang menyebutkan Resdianto terlibat pencurian sawit PTPN 4, sebagaiman perkara yang ditangani Polda Sumut dan akhirnya membuat gudang UD Pengusaha Muda digrebek,” pungkasnya.

Sementara itu hasil penelusuran M24, Sugiarto SE alias Anto BD yang dalam persidangan prapid disebutkan sebagai pemilik UD Pengusaha Muda tidak tersentuh hukum. Ketua Fraksi Golkar DPRD Simalungun itu bahkan kabarnya belum pernah diperiksa. Kasus ini sendiri bermula dari pengaduan PTPN 4 ke Polda Sumut atas kerugian Rp17 miliar yang dideritanya akibat pencurian TBS.

Loading...