Pupuk subsidi hilang di Kabupaten Karo 

54

Sekilap-Karo | Petani Kentang di Kecamatan Namanteran, Kab Karo mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk subsidi jenis phonska dan SP36. Padahal, kedua jenis pupuk itu sangat dibutuhkan agar hasil tanam menuai hasil bagus.

“Sejak dua minggu belakangan ini sangat susah memperoleh pupuk phonska dan SP36. Baik di kios–kios pupuk, maupun di gudang tidak ada tersedia,” ungkap Arpen Sitepu, petani Kentang di Desa Kutagugung, Kec Namanteran, Kab Karo, Senin (18/9/2017).

Menurut Arpen, idealnya bibit kentang yang telah ditanam diberi pupuk pertama setelah dua puluh hari. Sementara kondisi di lapangan, petani kesulitan memperoleh pupuk.

Kalau terlambat diberi pupuk, lanjutnya, perkembangan kentang tidak akan bagus yang pada akhirnya kualitas buah yang ditanam tidak akan bisa maksimal. “Kita harapkan pemerintah bisa cepat menyelesaikan masalah kelangkaan pupuk ini,” harapnya.

Salah satu ketua kelompok tani di Kec Brastagi, Fitri Ginting menuturkan kelangkaan pupuk sudah sering terjadi dan selalu berulang tanpa ada solusi yang jelas dari pemerintah.

Dikatakan Ginting, terdapat dua kemungkinan, pertama, kios–kios pupuk mengalami kekurangan modal atau ada unsur kesengajaan penebusan pupuk diperlambat.

Kedua, pemerintah mungkin mengurangi jumlah pupuk subsidi. “Mana yang terjadi masih perlu penelaahan lebih lanjut. Kita tanya di kios pupuk, mereka bilang distributor telat kirim barang dan pesanan terkadang datang 1-2 bulan. Jadi petani pasti susah dapat stok pupuk,” kata Ginting.

Memang, lanjutnya, petani dapat melakukan alternatif lain dengan menggunakan pupuk non subsidi seperti Ammophos. TSP Namun, biaya produksi menjadi lebih mahal. Dimana harga untuk 1 sak phonska Rp125.000, sedangkan pupuk ammophos Rp300 per sak begitu juga dengan pupuk TSP.

“Bila terlambat melakukan pemupukan kentang dengan menunggu tersedianya stok pupuk, produksi bisa menurun. Dengan kondisi kelangkaan seperti ini memang pilihan terbaik petani adalah menggunakan pupuk non subsidi,” tandasnya.

Kadis Pertanian Kab Karo, Sarjana Purba mengatakan kalau di Karo selalu kekurangan pupuk subsidi. Pasalnya, antara demand dan suplai tak seimbang.

“Betul memang pasokan pupuk bersubsidi memang sangat kurang sekali masuk ke Tanah Karo. Bukan ada penimbunan atau diperlambat penyaluranya oleh pihak distribotor ke pengecer resmi, memang kurang dari sana. Seandainya kita minta 1000 ton yang datang cuma 400 ton, mana mungkin cukup untuk petani di Karo ini, sementara sentra pertanian cukup lebar di Kabupaten Karo ini. Jadi kita tetap berusaha untuk memohon ke Dinas Propinsi agar pasokan pupuk ditambah lagi,” terangnya.

Loading...