Tak Terima Vonis, Terdakwa Ngoceh Oknum Mengaku Jaksa Dituding Minta Duit Rp300 Juta

35

TJ BALAI-M24 | Sejak peristiwa Operasi Tangkap Tangan (OTT) di PN Medan, para terdakwa berusaha membongkar praktik dugaan suap menyuap.

Meski tidak ada barang bukti dan saksi, namun ocehan terdakwa bisa dijadikan sinyal bukti permulaan.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Tanjungbalai, melalui Kasi Intel Didit SH selaku Humas Kejari, membantah ada meminta uang dari terdakwa. “Tidak benar dan tidak ada petugas kami dari kantor Kejaksaan Negeri Tanjungbalai-Asahan ini meminta uang dari terdakwa,” tegas Didit SH kepada wartawan, kemarin (30/8), di ruang kerjanya.

Tudingan dari seorang terdakwa di Kota Tanjungbalai ini terkuak, pada saat digelar PN Tanjungbalai-Asahan, sidang perkara penganiayaan atas nama terdakwa MIk alias K (40), Rabu (29/8) lalu. Saat itu, terdakwa MIk alias K di halaman PN Tanjungbalai berkoak di hadapan para awak media yang bertugas di unit PN Tanjungbalai.

“Saya didatangi salah seorang oknum mengaku jaksa di LP Pulo Simardan. Oknum jaksa tersebut meminta uang Rp300 juta kepada saya, dengan janji akan dituntut 9 bulan. Tetapi karena saya tidak bisa menyanggupi permintaan oknum jaksa tersebut akhirnya saya dituntut 3 tahun,” ujar MIk alias K.

Terdakwa MIk alias K, bersama rekannya Z (dalam berkas terpisah), didakwa melakukan penganiayaan terhadap Andriansyah, warga Jln Anggur, LK VII, Kelurahan Bunga Tanjung, Kecamatan Datuk Bandar Timur, Kota Tanjungbalai.

Peristiwa tersebut terjadi di Kandang Lembu Mandurasa, Minggu 30 Oktober 2017 silam.
Perkara tersebut disidangkan di PN Tanjungbalai dan hakim menjatuhkan vonis terhadap terdakwa MIk alias K selama 2 tahun penjara. Mendengar vonis tersebut, terdakwa langsung mengatakan banding.

Berlangsung Hingga Magrib
Pantauan wartawan, 46 terdakwa yang disidangkan di PN Tanjungbalai, Kamis (30/8), mayoritas dengan perkara Narkotika.

Salah seorang keluarga terdakwa yang tidak mau disebutkan namanya berharap, agar jadwal pelaksanaan sidang di PN Tanjungbalai dipercepat. Sehingga keluarga tidak terlalu lama menunggu persidangan dilaksanakan apalagi sampai menjelang maghrib.
“Ya kalo bisa janganlah sampai maghrib seperti ini,” pinta ibu dari salah satu terdakwa.

Ketua PN Tanjungbalai, Vera Yetti Magdalena SH MH, melalui Humas Widi Astuti SH, mengatakan, pelaksanaan sidang berlangsung hingga jelang maghrib karena jumlah terdakwa yang diagendakan sangat banyak. (surya/ambon)

Loading...