Telan 2 miliar lebih, pemborong proyek drainase aduk semen pakai air parit

98

Pakam |Pemborong (rekanan) pengerjaan proyek pembangunan drainase dalam kota di Jl Kartini-Ahmad Dahlan Kelurahan Lubuk Pakam III, Kecamatan Lubuk Pakam mendapat teguran tertulis dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Deliserdang.

Teguran diberikan lantaran pemborong memakai atau menggunakan air parit untuk mengaduk semen dan pasir yang menjadi benteng drainase. Selain teguran tertulis, pemborong juga diminta untuk menghentikan pekerjaan tersebut jika masih tetap menggunakan air parit ketika mengaduk semen.

Hal itu dikatakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Janso Sipahutar didampingi Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) M Sidebang dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Deliserdang.

Ancaman disampaikan menyusul pihaknya mendengar adanya pemberitaan soal proyek pembangunan drainase Tahun Anggaran 2017 senilai Rp2.215.000.000 itu diragukan kualitasnya usai dikerjakan rekanan. Berang mendengar kabar tersebut, PPK, PPTK beserta sejumlah staf Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Deliserdang langsung turun ke lokasi proyek.

Kedatangan pejabat instansi terkait itu untuk melihat langsung kondisi di lapangan dan sembari memantau sejauh mana proses pengerjaan proyek tersebut. Saat dikonfirmasi, Selasa (26/9) siang di lokasi proyek, Janso Sipahutar menyatakan jika pihaknya sudah melayangkan teguran secara lisan maupun tertulis kepada rekanan yang disampaikan melalui Ratno yang menjabat mandor di lapangan.

“Jika air yang dipakai untuk mencampur semen dan pasir adalah air parit, hal itu bertentangan dengan kontrak yang pengerjaannya hingga 28 Desember 2017 mendatang. Terimakasih atas informasinya. Kalau tidak diberitahu sama rekan wartawan, mungkin kami tidak tahu jika yang digunakan untuk mencampur semen dan pasir adalah air parit,” sebut Janso.

Sedangkan mandor lapangan, Ratno ketika dikonfirmasi mengakui jika pada Sabtu (23/9) lalu terpaksa menggunakan air parit karena mobil yang mengantar air bersih tidak datang. Namun saat ini pihaknya sudah berupaya memakai air sumur milik warga untuk mencampur semen dan pasir. “Kita sudah memakai air sumur milik warga sekitar,” jawabnya.

Pantauan di lapangan, pengerjaan proyek itu juga dianggap mengganggu arus lalu lintas di Jl Kartini. Karena bahan material berupa batu Sirtu maupun pasir yang ditumpuk di tepi jalan berserak memakan badan jalan. Para pengendara pun terpaksa ekstra hati-hati jika melintas di jalan tersebut. (sumber :metro24)

Loading...