Lau Debuk Debuk Diharapkan Menjadi Titik Penting Wisata Sumut

M24.CO|MEDAN
Lau Debuk Debuk yang berada di Kaldera Pintau seharusnya menjadi titik penting pariwisata Sumatera Utara. Potensi wisata cukup kompleks mulai dari wisata alam seperti Gunung Sibayak, pemandian air panas dan agro wisata juga didukung oleh kehidupan budaya Karo seperti Erpangir Ku Lau yang sejatinya dilakukan sekali sebulan.

Selain itu, lokasi ini juga merupakan tujuan wisata paling dekat dari Kota Medan yang berpenduduk jutaan jiwa dan strategisnya sebagai jalur terdekat menuju destinasi wisata dunia, Danau Toba.

Lau Debuk-debuk yang memiliki luas 7 Hektar yang saat ini terlihat terbengkalai begitu saja.” Kita berharap dengan aktifnya kegiatan di taman wisata tersebut juga dukungan masyarakat Doulu maka pengelolaan akan semakin baik. Jika pengelolaan hanya diharapkan dari pemerintah maka akan terkendala di permasalahan anggaran,” Ketua Panitia Erpangir Ku Lau, Salmen Sembiring, S. Sos. Kemarin.

Dengan diadakan kegiatan seperti ini maka diharapkan Lau Debuk-Debuk dapat menjadi salah satu icon pariwisata dan budaya Karo di Sumatera Utara semakin maju dan meningkat dengan perpaduan atraksi budaya Karo dan wisata alam.

Acara event Erpangir Ku Lau ini dibuat menjadi pertunjukan wisata karena dilakukan sekali sebulan di Lau Debuk-Debuk, ” kita mengemasnya dari sifat magis ke entertainmen bagi wisatawan. Dan pada hari biasanya (Diluar hari Erpangir Ku Lau), di hari biasa Lau Debuk/debuk akan tetap dibuka untuk umum, karena Erpangir Ku Lau dan potensi Lau Debuk-Debuk dapat menjadi spot penting kunjungan pariwisata dunia tersebut” ujarnya.

Panitia telah melakukan audiensi dengan pihak pemkab Karo, baik Bupati Karo, Terkelin Brahmana, kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Karo, Dinasti Sitepu dan kepala BBKSDA Sumut, Hotmauli Sianturi, namun pemerintah berdalih tidak lagi memiliki anggaran untuk event demikian.

Panitia akhirnya memutuskan untuk menghimpun dana swadaya & mandiri, baik dari tokoh masyarakat Karo dan Setiap orang yang peduli terhadap TWA Lau Debuk-debuk dan pelestarian budaya Erpangir Ku Lau. “Panitia bersifat swadaya, dan kita sangat mengharapkan kepada tokoh masyarakat Karo yang peduli pelestarian budaya agar turut membantu kesuksesan acara ini” kata Briant Brahmana, ketua Gernasta Karo yang juga bendahara panitia.

Di lain sisi lain, Panita akan menggalang partisipasi aktif dari masyarakat Doulu dan sangat mendukung acara ini. Mereka ingin juga dilibatkan dalam pengelolaan TWA Lau Debuk-debuk tersebut.
“Kesediaan masyarakat dan komunitas – komunitas seperti ini seharusnya ditangkap oleh pemerintah kita untuk mencapai kemajuan pariwisata dan konservasi yang berkelanjutan yang sesuai dengan arahan menteri lingkungan hidup, hutan untuk kesejahteraan masyarakat,”ujarnya.

Panitia juga masih sangat menanti dukungan dan partisipasi dari pemerintah dan tokoh masyarakat yang peduli budaya Karo. Panitia yang bersifat swadaya ini juga mengundang secara terbuka untuk masyarakat untuk dapat hadir di Doulu pada 28 Oktober 2016 mendatang sebagai wujud kecintaan terhadap budaya dan pariwisata Karo. “Untuk informasi lanjutan bisa didapatkan melalui kontak HP : 0823 65238051, sekretaris Panita Roni Surbakti, yang juga Ketua Karo Tracker Comunity (KTC) atau melalui email: [email protected],” pungkasnya. (red)

Loading...
author