Melirik Keangkeran Gudang Kosong PTPN II Helvetia

 

ptpn2
M24.CO|MEDAN  

PTPN 2Sebuah bangunan bekas gudang tembakau di zaman Kesultanan Deli di PTPN II Helvetia-Medan Marelan ternyata menyisakan banyak kekejaman. Teriakan menyayat hati sering terdengar dari arwah-arwah penasaran. Malam makin mendekati sempurna. Jalanan sepi lantaran gerimis sejak sore enggan berhenti. Kawasan Medan Marelan, sekitar pukul 23.30 WIB. Mendadak, sepeda motor yang ditunggangi Suprayetno, 40 tahun, mogok.

“Sial, hujan-hujan begini malah mengulah. Huh!,” guman lelaki itu kesal.

Merasa tak yakin sepeda motornya kehabisan bensin, Suprayetno tetap saja membuka tangki minyak. Masih cukup. Diengkolnya berkali-kali, sepeda motor bebeknya tak juga menyala. Lelaki ini akhirnya geleng-geleng kepala.

“Gak biasa-biasanya seperti itu,” kata Suprayetno.

Suprayetno menepikan sepeda motornya. Dia mencari tempat perteduhan menghindari gerimis yang terus saja turun. Di bawah sebuah pohon yang tidak begitu rindang, persis di depan sebuah gudang tembakau yang sudah lama kosong, Suprayetno berteduh, sembari memperbaiki sepeda motornya.

ptpn2 okeSibuk mengutak-atik motor kesayangannya, aroma tembakau tiba-tiba menyergap hidungnya. Awalnya Suprayetno tak begitu peduli. Namun aromanya makin terasa. Tiba-tiba kepalanya pusing. Bersamaan dengan itu, lamat-lamat lelaki ini mendengar jeritan seorang wanita meminta tolong. Suaranya berasal dari dalam gudang.

“Bulu kudukku langsung merinding,” kenang Suprayetno.

Tak mau ambil resiko, Suprayetno langsung menjauh dari lokasi, meski harus menyorong sepeda motornya.

Pengalaman Suprayetno ternyata berbau mistis. Tim redaksi yang mencoba menyusuri lokasi bekas gedung tembakau itu juga merasakan adanya energi gaib. Menurut penerawangan Mbah Adi, pakar supranatural, dahulunya di gedung bekas tembakau itu terjadi kekejaman menjijikkan yang menimpa seorang gadis remaja berusia 16 tahun.

“Gadis itu bekerja sebagai kuli kontrak,” ujar Mbah Adi.

Hanya gara-gara enggan melayani ajakan kencan Tuan Kecil, sebutan buat bos pemilik gudang, ujar Mbah Adi, gadis itu diikat di sebuah tiang di bawah rumah panggung. Pada tiang itu dipakukan balok yang melintang. Kedua tangan gadis itu diikat. Kemudian gadis itu ditelanjangi. Tangisannya menyayat hati. Sebelum mengembuskan nafas terakhirnya, gadis itu sempat menjadi tontotan.

“Akhirnya arwah gadis itu penasaran,” ujar Mbah Adi.

Kekejaman itu akhirnya terdengar Opseter, sebutan untuk Tuan Besar. Justeru yang terjadi, Tuan Kecil hanya dipindahkan tugas ke tempat lain. Tuan Besar memindahkan Tuan Kecil bukan karena kekejamannya, tetapi dia khawatir bisa memicu kuli-kuli kontrak berontak.

Di perkebunan tembakau itu, cerita Mbah Adi, tidak hanya kuli asal Jawa saja, tapi juga kuli asal Cina. Kelompok lain adalah kuli perempuan. Tugas mereka memetik daun tembakau, mengangkutnya ke gudang, menyortir, kemudian merentengnya dan dikeringkan.

Bekerja bersama kuli-kuli bangsa lain, akhirnya ada juga yang menemukan jodoh, dan akhirnya membentuk keluarga. Di antara mereka ada yang kontrak berakhir, lalu hidup sebagai pedagang kecil di desa di luar perkebunan.

“Mereka menurunkan generasi baru yang disebut Jadel (Jawa Deli). Orang jawa yang lahir di Deli,” terang Mbah Adi lewat pandangan gaibnya.

ptpn-2-oDi lingkungan perkebunan tembakau, arogansi para mandor sering melampaui batas. Mereka melampiaskan nafsu syahwatnya kepada kuli-kuli wanita dengan cara paksa. Kalau kasus ini dilaporkan kepada Tuan Besar atau Tuan Kecil, yang selalu dipersalahkan adalah para kuli. Para kuli mendapat hukuman seperti hukuman cambuk dengan rotan. Bahkan tak sedikit yang meninggal dunia.

Selain arwah-arwah gentayangan para kuli kontrak, menurut Mbah Adi, di bekas gudang tembakau itu banyak bersemayam makhluk-makhluk astral. Di antaranya seekor ular besar menyerupai naga berwarna coklat keemasan. Makhluk astral yang suka mengganggu, kata Mbah Adi, sosoknya berkepala api, memiliki lidah dan kuku-kuku yang panjang.

Pada penerawangan gaib Mbah Adi, praktisi supranatural lainnya, di lingkungan gudang terdapat kuburan massal korban pembantaian Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30/S/PKI).

Menurut Mbah Adi, ada sebanyak 500 kepala manusia korban pembantaian. Di lokasi ini sering terdengar jeritan dan tangisan orang-orang saat disiksa.

“Itu sebabnya tempat ini menjadi angker,” jelas Mbah Adi lagi.

Banyak hal yang belum terungkap di lokasi gudang tembakau ini. Berdasarkan hasil penerawangannya, di gudang tembakau ada tersimpan benda-benda peninggalan zaman kerajaan Sultan Deli seperti koin emas, guci, kendi piring, cangkir, keris dan tombak.

“Benda-benda itu terkubur di bawah gudang,” katanya.

Penguasa gudang yang paling kuat, kata Mbah Adi, adalah raja Karongga. Tubuhnya hitam besar dan memiliki tanduk. Matanya kuning keemasan. Tangannya memegang trisula sepanjang 4 meter.

“Dia memiliki kekuatan angin, dan bisa membuat badai di sekitar lokasi,” katanya.

Raja Karongga merupakan penguasa kerajaan dedemit dan bangsa jin. Pengikut setianya adalah sosok ular naga. Di gudang tembakau ini, sebutnya, juga ada sosok makhluk bersorban hitam bermata merah.(winsah)

Loading...
author