Kepsek Parulian Desain Program Berbasis Literasi

kepsek-unsaid
M24.CO|MEDAN

Yayasan Pendidikan Parulian menggelar pelatihan kepemimpinan bagi kepala sekolah (kepsek). Kegiatan ini bertujuan memperkuat komitmen YP Parulian menjalankan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Kepsek dilatih agar mampu mendesain program sekolah berbasis literasi. “Pelatihan ini diikuti oleh 30 orang peserta dari 15 sekolah yang kami kelola. Kami bekerjasama dengan USAID PRIORITAS mengelar pelatihan ini,” terang Sekretaris YP Parulian Erita Siburian di Medan, Rabu (23/11).

Erita mengatakan pasca deklarasi GLS, YP Parulian terus berbenah. YP Parulian berkomitmen menerapkan GLS secara utuh. Merujuk Permendikbud No.23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, GLS dijalankan dalam tiga tahap yaitu pembiasaan, pengembangan dan pembelajaran. “Di dalam tahap pembelajaran, literasi diintegrasikan melalui pendekatan saintifik dengan model active learning. Itu sebabnya kami melatih kepala sekolah agar mereka mampu mendesain program kerja yang mendukung penerapan active learning di sekolah masing-masing,” tukasnya.

Koordinator Provinsi USAID PRIORITAS Sumut Agus Marwan mengatakan active learning merupakan model pembelajaran abad 21. Penerapan model ini membuat anak menjadi terampil berkomunikasi, bekerjasama, berpikir kritis dan kreatif.Active learning didesain agar seluruh potensi anak tergali dan bisa dikembang secara maksimal. “Penerapan active learningditingkat SD dikenal dengan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan atau PAKEM. Sedangkan di SMP dikenal sebagai Contextual Teaching and Learning atau CTL,” tambahnya.

Agus Marwan mengatakan penerapan active learning membutuhkan dukungan dari kepala sekolah dan guru. Active learning akan merevolusi gaya mengajar guru yang selama ini cenderung pasif. Anak menjadi lebih aktif dalam pembelajaran, sedangkan peran guru menjadi fasilitator.” Jika kepala sekolah tidak mengerti soal active learning, tentu saja itu bisa menghambat perkembangani sekolah. Jadi kepala sekolah harus kita bantu agar mereka bisa paham dan mendukung,” tegasnya.

Agus Marwan mengatakan lebih lanjut, USAID PRIORITAS mengembangan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) untuk membantu kepsek mendesain program. Semangat inti MBS adalah otonomi, sehingga penerapan MBS menuntut kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dan berorientasi pada pembelajaran. Kepsek seharusnya mempunyai komitmen dan kapasitas pembelajaran yang baik sebagai pengarah dan pengelola pembelajaran. “Pelatihan kepala sekolah ini merupakan langkah tepat untuk mendukung YP Parulian sebagai sekolah literasi,” terangnya.

YP Parulian merupakan lembaga pendidikan swasta pertama di Sumut yang mendeklarasikan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan ini akan memberikan manfaat kepada 3.444 siswa dari 17 sekolah YP Parulian di Medan, Deli Serdang danToba Samosir dan Dairi. (winsah)

 

Loading...
author