Siswa Berprestasi di Medan ‘Nggak Doyan’ Kuliah di USU? Ada Apa Ya?


MEDAN|Siswa berprestasi dari berbagai sekolah favorit di Kota Medan, kurang tertarik melanjutkan pendidikan ke Universitas Sumatera Utara (USU). Mereka beranggapan kualitas USU tidak sebagus Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Pulau Jawa.

Siswa yang ingin masuk perguruan tinggi negeri (PTN) bisa melalui dua jalur, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Siswa berprestasi SMA Methodist-2 Medan Evelyn Christina Saragih tidak berniat masuk USU. Ia akan memilih Univeristas Indonesia saat ikut seleksi masuk PTN. “Akreditasi universitas negeri di Pulau Jawa lebih bagus daripada USU. Saya juga memikirkan peluang kerja dan pergaulan. Bergaul dengan orang hebat kita juga akan menjadi hebat,” ujarnya.

Ia menambahkan, usai ujian nasional (UN) akan mendaftar ke UI dan Universitas Gadjah Mada (UGM) lewat jalur SNMPTN dan SBMPTN. Namun, ia masih yakin kualitas sumber daya manusia di USU masih bagus. Selama ini, katanya, kerap mengikuti berbagai kegiatan di Kota Medan, yang dilakukan sejumlah perguruan tinggi.

Bahkan, ia berpendapat USU juga aktif membantu siswa dalam bidang ilmu pengetahuan. Seperti, menggelar try out atau mengadakan beragam lomba. “Jadi, USU bukan jelek. Kemudian alumni USU banyak jadi orang hebat. Tapi, patut disesalkan akreditasi institusinya belum terlalu baik. Saya baca berita akreditasi USU belum dapat A,” katanya.

Ia menuturkan, walaupun akreditasi institusi USU belum A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), namun kualitas pendidikan di USU lebih bagus dibandingkan dengan berbagai kampus swasta di Sumut.

Ia mengaku, terkejut saat membaca berbagai pemberitaan media cetak dan online bahwa, akreditasi institusi Universitas Negeri Medan (Unimed) lebih bagus daripada USU. Padahal, kampus USU menjadi kebanggaan masyarakat Sumut.

“Saya juga heran mengapa Unimed dapat akreditasi lebih baik daripada USU. Padahal dahulu nama USU cukup membanggakan. Mungki ada penilaian-penilaian lain, seperti dosen-dosen yang mengajar atau bagaimanalah,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, sebelum menentukan pilihan untuk mengikuti seleksi masuk UI dan UGM, sudah mencari informasi lewat internet. Dari beragam informasi yang ia peroleh, sempat membaca pemberitaan terkait konflik internal di USU.

Namun, ia kurang memahami permasalahan di USU, sehingga sekadar mencari data tentang program studi yang bagus dan mengenai akreditasi. Karena itu, ia memutuskan untuk melanjutkan studi ke PTN di Pulau Jawa.

“Saya mempersiapkan diri masuk UI atau UGM sejak lama. Saya kerap mengikuti lomba, karena ada penilaian sertifikat saat mengikuti SNMPTN. Saya pernah menang berbagai lomba tingkat, sekolah, provinsi dan nasional,” katanya.

Evelyn berencana memilih jurusan Psikologi UI dan Hukum di UGM. Untuk mewujudkan cita-citanya, Evelyn mengikuti bimbingan belajar dan membahas soal-soal ujian seleksi tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, ia rutin mengikuti try out untuk mengukur kemampuan. Sehari, ia membahas empat soal seleksi masuk PTN terdahulu untuk setiap mata pelajaran. Namun usai ujian nasional, ia akan membahas soal SNMPTN dan SBMPTN jadi 20 soal per mata pelajaran.

“SBMPTN sekitar 103 hari lagi, jadi persiapan yang saya lakukan semakin keras. Saya juga mempersiapkan diri ikut ujian nasional. Jadi fokus saya ke UN dulu. Menjelang UN, saya akan membahas 20 soal sehari untuk setiap mata pelajaran. Saya bukan mengatakan pendidikan di Sumut ini buruk, tapi saya pengin menjadi anak mandiri sehingga kuliah keluar kota,” ungkapnya.[tribun]

Loading...
author