Awas! Transaksi Ilegal Marak Saat Pre-Closing

52


JAKARTA|PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah memutar otak untuk mengantisipasi fenomena transaksi yang mendadak ramai di jelang penutupan perdagangan saham. Sudah menjadi rahasia umum pada saat pre-closing marak terjadi transaksi ilegal untuk menggerakan ataupun membanting saham yang disebut marking the close.

Sistem pre-closing sebenarnya baru diluncurkan pada pertengahan 2012 yang lalu. Sistem ini guna menentukan harga saham yang tercatat berdasarkan rata-rata beli dan jual pada 10 menit terakhir perdagangan harian.

Pada masa pre-closing para investor tidak bisa melihat harga saham sebab sedang diakumulasi, namun order tetap bisa dilakukan pada periode setelah penutupan atau post trading. Jika ada transaksi pada saat pre-closing maka harga saham tetap dapat berubah.

Saat kondisi gelap gulita itulah para investor nakal melakukan aksinya. Praktik marking the close dimanfaatkan sejumlah pihak namun merugikan pelaku pasar lainnya khususnya investor ritel yang tak punya daya besar. “Itu tentu merugikan investor retail. Karena ternyata pas pre-closing harga saham bisa anjlok tiba-tiba. Bisa saja investor ingin jaga sampai besok, tapi ternyata saat penutupan harga anjlok, rugi besar,” terang Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada.

Reza mengatakan, praktik ini pun belakangan sering terjadi, seperti pada perdagangan akhir pekan lalu, saat memasuki masa pre-closing saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) hanya turun 0,16% ke level Rp 15.600 per saham. Lalu pada saat penutupan tiba-tiba BBCA anjlok 4% ke level Rp 15.000 per saham.

Direktur Perdagangan dan Anggota Bursa BEI Alpino Kianjaya mengatakan, BEI tengah memperketat pengawasan 10 menit jelang penutupan atau pada saat pre-closing. BEI, katanya, juga telah menemukan ada 5 anggota bursa (AB) atau perusahaan sekuritas yang diduga melakukan perdagangan mencurigakan saat pre-closing.

Lima AB tersebut seluruhnya merupakan sekuritas asing. “Saya lihat asing. Saya enggak akan sebut tapi sudah identifikasi. Kita akan segera proses,” terangnya di Gedung BEI, Jakarta, Senin (13/2).

Pemeriksaan BEI kepada lima AB asing tersebut guna mengetahui maksud dari nasabahnya yang melakukan perdagangan di saat gelap gulita. Sebab selama periode pre-closing seluruh pelaku pasar tidak mengetahui transaksi yang terjadi.”Kita mesti tahu persis alasan nasabahnya kenapa, kita enggak mau terulang lagi. Menurut saya sangat tidak transparan dalam kurun pre-closing selama 10 menit investor atau pelaku pasar tidak tahu apa-apa,” imbuhnya.

Kendati begitu, Alpino menegaskan, bahwa BEI akan tegas dalam tindakan transaksi yang mencurigakan saat pre-closing. Jika terjadi permainan harga yang sering disebut marking the close maka BEI akan melakukan penindakan kepada AB yang bersangkutan.”Enggak mau tahu asing atau lokal kita akan proses. Karena sangat tidak nyaman,” tegasnya.

Untuk mengantisipasi hal itu, dia mengakui, BEI kini tengah menyiapkan 2 opsi. Pertama BEI akan menerangi perdagangan saat pre-closing, sehingga seluruh pelaku pasar bisa melihat saham mana yang sedang ditransaksikan pada periode 15.50- 16.00 JATS.

Jika itu tak cukup, maka BEI akan mengubah penentuan waktu penutupan secara acak (random closing) yang ditentukan selama periode pre-closing. Penentuan random closing ini lakukan secara acak oleh sistem, BEI pun tidak akan tahu kapan waktu penutupan perdagangan.

Kedua opsi tersebut, diakuinya, masih tidak menghilangkan sistem pre-closing. Karena itu, dia menambahkan, pihaknya menyiapkan satu opsi berikutnya, yakni dengan menghapus sistem pre-closing di pasar modal Indonesia.”Ada opsi berikutnya kita sekalian saja hilangkan pre-closing. Kenapa musti ada pre-closing, sampai sesi dua selesai ya itu penentuan harga terjadi selama trading,” tuturnya.

Menurut Alpino sistem pre-closing belakangan ini merugikan investor ritel. Sebab sering kali harga saham berubah drastis pada masa pre-closing dan investor tidak bisa melihat perubahaannya.

“Keuntungannya apa pre-closing di investor? Bagi investor itu tidak menguntungkan, malah enggak ada (untungnya). Posisinya bisa terus turun tajam. Masalahnya kita lihat selama pre-closing terjadi pembentukan harga maupun penurunan IHSG itu tidak mendasar fundamental sekali. Itu yang harus dicamkan,” imbuhnya.

Kendati begitu Alpino menegaskan bahwa BEI belum memutuskan. “Ketiga opsi tersebut bisa saja diambil oleh BEI selaku regulator pasar modal,” katanya. (dtf)

Loading...