BI Tetapkan Countercyclical Buffer Sebesar 0 Persen

bank-indonesia3M24.CO|MEDAN

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan, keputusan besaran CCB sebesar 0% tersebut didasari oleh belum adanya indikasi pertumbuhan kredit yang berlebihan yang dapat menyebabkan terjadinya risiko sistemik sebagaimana ditunjukkan oleh kesenjangan antara kredit terhadap Produk Domestik Bruto/PDB (Credit to GDP gap) sebagai indikator utama CCB.

Bank Indonesia kembali menetapkan besaran tambahan modal berupa countercyclical Buffer (CCB) sebesar 0%. Besaran CCB yang diputuskan melalui Rapat Dewan Gubernur pada 17 November tersebut masih sama dengan yang telah ditetapkan Mei 2016.

Hal ini juga sejalan dengan pertumbuhan kredit yang masih belum optimal yakni sebesar 6,47% (yoy) per September 2016, serta pertumbuhan ekonomi triwulan III 2016 sebesar 5,02% (yoy) yang lebih rendah dari triwulan sebelumnya yaitu 5,18% (yoy).

Selain itu, salah satu indikator pelengkap, yaitu siklus keuangan, menunjukkan bahwa Siklus Keuangan Indonesia masih berada pada fase kontraksi. “Hingga enam bulan ke depan, kredit memang tetap tumbuh, tapi tak optimal,” katanya.

Tujuan dari instrumen CCB adalah untuk mencegah peningkatan risiko sistemik yang bersumber dari pertumbuhan kredit yang berlebihan (excessive credit growth) sekaligus untuk menyerap kerugian yang dihadapi perbankan melalui pembentukan tambahan modal sebagai penyangga (buffer).

Namun, berdasarkan evaluasi CCB per November 2016, pertumbuhan kredit masih mengalami perlambatan sehingga tidak ada indikasi pertumbuhan kredit yang berlebihan sehingga BI menetapkan rasio tambahan modal sebesar 0%. “Jika kredit masih tumbuh tipis, tidak mungkin BI menaikkan rasio buffer,” katanya.

Dengan besaran CCB sebesar 0%, diharapkan perbankan tetap dapat meningkatkan fungsi intermediasinya dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi mengingat tidak ada kewajiban bagi bank untuk membentuk tambahan modal (buffer).

Sebagai catatan, penentuan besaran CCB bersifat dinamis yaitu berkisar antara 0% sampai dengan 2,5% dari Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) bank. Berdasarkan PBI CCB, Bank Indonesia melakukan evaluasi besaran dan waktu pemberlakuan CCB paling kurang sekali dalam enam bulan.[mbc]

Loading...
author