Gangguan Pasokan Pangan Pengaruhi Tekanan Inflasi

188

M24.CO|MEDAN
Asisten Direktur Departemen Ekonomi Moneter Bank Indonesia, Handri Adiwilaga mengatakan, tekanan Inflasi di Indonesia banyak dipengaruhi “shocks” terutama gangguan pasokan dan distribusi pangan serta kebijakan strategis dari pemerintah.

“Inflasi antar satu daerah juga menunjukkan perbedaan seiring dengan perbedaan kualitas infrastuktur logistik, kemampuan produksi pangan lokal, kebijakan harga tiap daerah, dan juga struktur pasar tiap daerah,” katanya Senin (10/10/2016).

Lanjutnya, secara spesial, rendahnya inflasi Nasional hingga Agustus 2016 terutama dipengaruhi oleh rendahnya inflasi di Jawa dan Sumatera. Sementara itu terdapat didaerah dengan tingkat inflasi yang relatif tinggi seperti Kalbar, Kalsel dan Papua.

“Untuk harga beberapa komoditas pangan utama seperti cabai dan bawang diperkirakan juga meningkat hingga akhir tahun, dan ini sangat berdampak negatif terhadap produksi pangan,” ujarnya.

Bahkan, dikatakannya, untuk resiko inflasi 2017 bersumber dari rencana kenaikan tarif tenaga listrik untuk RT 900 VA, juga resiko inflasi pangan yang terus bergejolak. “BI tetap harus waspada karena masih rentannya tantangan struktural untuk kesinambungan produksi dan distribusi pangan,” ujarnya.

Untuk itu, BI menginisiasi langkah langkah pengendalian inflasi dengan melibatkan Pemda mulai tahun 2008 dengan membentuk TPID ditiap daerah. “Saat ini, TPID sudah berjumlah 497, 34 TPID provinsi, 463 TPID kabupaten/kita, dan dengan adanya TPID kita harapkan inflasi akan dapat dikendalikan,” pungkasnya. (nis)

Loading...