“Gawat sekarang, hujan terus turun. Kalau singkong tak dipanen bisa busuk”

singkong

Petani singkong di Sergai mengeluh karena hujan turun

M24.CO | SERGAI
Harga singkong, atau ubi yang sekarang ini hanya dihargai Rp500 s/d Rp600 per kilogramnya membuat petani di Kabupaten Serdangbedagai (Sergai) menjerit.

Gimana tidak, singkong merupakan komoditi yang cukup banyak diproduksi petani setempat. Berdasarkan catatan, areal pertanian singkong yang ada di Sergai sekarang ini luasnya mencapai 9 ribu hektar dan diperkirakan per tahunnya mampu memproduksi hingga 300 ribu ton.

“Sekarang ini banyak petani Singkong banyak lemas. Cemana tidak, harganya hanya Rp590 per kilogram,” keluh Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sergai, Loso Mena kepada M24.co di Sei Rampah, Rabu (19/10/2016).

Fakta ini jelas kondisi buruk bagi petani. Sebab, harga normal untuk komoditas ini biasanya hingga Rp1200 per kilogram. Jadi, bukan hanya turunnya pendapatan petani tersebut, namun hal penting adalah hasil ini jelas mereka merugi.

Harga jual itu jauh dari biaya produksi yang telah dikeluarkan petani selama 8 bulan menanam singkong. Hitung saja, setiap hektar diperkirakan produksinya mencapai 20 ton hingga 30 ton. Nah, dengan harga ini maksimal yang didapat petani hanya Rp15 juta perhektar, sementara untuk pupuk dan pengolahan lahan bisa menghabiskan Rp9 juta per hektar.

Untuk itu, Loso meminta agar Pemkab segera bertindak untuk mengantisipasi agar harga singkong tidak semakin anjlok, bahkan menurut dia, harus bisa didongkrak kembali ke angka normal. “Ini harus menjadi perhatian serius. Sebab kalau tidak, petani Sergai akan terus miskin dan rawan terjerat oleh renternir,” tegasnya.

Sementara itu, Tugimin (56) petani Singkong di Desa Pegajahan, Kecamatan Pegajahan, Sergai mengaku sekarang ini dirinya hanya bisa pasrah dengan harga yang ditetapkan pengepul.

Diapun mengakui, salah satu penyebab dirinya tidak bisa menahan untuk membongkar singkongnya adalah faktor cuaca yang sekarang ini memasuki musim penghujan. “Gawat sekarang, hujannya terus turun. Kalau singkong tak dipanen bisa busuk nanti. Makanya meski harganya jelek, tapi mau tak mau harus tetap panen,” katanya.

Terpisah, Asisten II Perekonomian Pembangunan dan Sosila (Ekbangsos) Pemkab Sergai Ahmad Zaki mengaku, pihaknya telah memonitor anjloknya harga singkong di pasaran sekarang ini.

Namun diakuinya, tak bisa berbuat banyak sebab harga tersebut mengacu pada harga yang ditetapkan oleh pasar. “Ada 11 usaha kilang pengolahan singkong ini di Sergai. Nah, yang bisa kita lakukan adalah hanya menghimbau agar mereka tidak menurunkan harga secara drastis, setidaknya jangan jauh dari harga normal,” katanya. (metro24/darmawan)

Loading...
author
Manusia biasa, Murah Senyum dan Ramah. Tapi, Benci Lihat Ketidak Adilan.