Ketua Umum Kadin: Pemerintah Akan Beri Insentif Gas, Industri Sumut Dapat Bersaing

Gas LPG

Gas LPG

Metro24.CO|MEDAN
Presiden RI Joko Widodo berjanji akan memberi insentif harga gas, jadi tidak hanya dari segi tax saja, namun bagaimana harga gas yang normal mampu menumbuhkan industri dan perekonomian.

“Dengan insentif harga gas itu industri di Sumut bisa bersaing dengan baik,” kata Rosan Roeslani, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia tanpa merinci lebih jauh.

Rosan berbiacara pada acara sosialiasi “Pasar modal sebagai sumber pendanaan bagi pengembangan industri di daerah” yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di hotel Grand Aston Jalan Balai Kota Medan Selasa (18/10).

Acara itu dihadiri antara lain M Noor Rachman (Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida, para pengusaha, pengusaha sekuritas, termasuk PT Atmindo salah satu perusahaan yang berhasil setelah go public. Pembicara pada acara itu Ketua Umum Kadin bersama Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Nicky Hogan, Advisor Grup Dukungan Strategis Dewan Komisioner Pengembangan Bisnis/Industri Pasar Modal Djustini Septiana dengan moderator Avi Dwipayana dari Kadin Indonesia.

Dia menyebut Sumut sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia, industrinya cukup potensial mampu meningkatkan perekonomian daerah ini. Di Sumut rata-rata pertumbuhan selalu diatas pertumbuhan nasional sekarang nasioal tumbuh 5,18 persen, Sumut 5,6 persen. Sedangkan tahun lalu pertumbuhan 4,8 persen, saat itu Sumut 5,2 persen.

Perekonomian Sumut ditopang dari sektor pertanian dan industri. Jadi topik pasar modal yang digelar ini cukup bagus karena di Sumut industri nomor 2 menopang perekonomian Sumut utamanya dari CPO, turunan CPO, karet dan industri hilir perkebunan lainnya. “Yang perlu kita bangun, industri turunan kelapa sawit dan karet,” kata Rosan.

Ia menyebut pengusaha dapat memanfaatkan tambahan modal dengan go public di BEI yang jangka panjang, sedangkan bank jangka pendek. Gas kerap menjadi permasalahan, jadi dengan adanya intensif diharapkan industri di Sumut dapat meningkat lagi.

Tapi sayang, potensi Sumut yang luas ini, ternyata baru enam perusahaan yang masuk bursa yakni PGLI, TPL, PT Atmindo, PT Bank Mestika, sedangkan dua lagi obligasi yakni Bank Sumut dan Pelindo I.

“Dilihat dari pertumbuhan perekonomian, Medan kota ketiga terbesar di Indonesia seharusnya perusahaan yang masuk bursa bisa lebih dari enam,” katanya.

Ia menyebut untuk pembangunan industri ini agak sulit terealisasi karena biaya terbatas. Apalagi bank tak semua membiayai sektor industri. Jadi alternatifnya pasar modal.

Total aset bank di Sumut Rp250 triliun, dana pihak ketiga (DPK) Rp198 triliun. Sehingga dana perbankan itu tidak cukup untuk membiayai pembangunan. Jadi alternatif pembiayaan dana murah hanya melalui pasar modal. Apalagi sekarang ada kawasan ekonomi khusus Sei Mangkei yang bisa mendorong perekonomian daerah ini.

Ia menilai selain minimnya infrastruktur, ternyata beberapa yang bisa menurunkan daya saing yakni korupsi dan birokrasi. “Tidak ada negara di dunia ini yang ekonomi tumbuh signifikan tanpa pertumbuhan industri,” katanya.

Ia mengakui untuk masuk pasar modal banyak persyaratannya. Namun ambillah momen ini sebagai alternatif modal. (nis)

Loading...