MEDAN|Nilai ekspor karet Sumatera Utara (Sumut) bakal meningkat seiring terus melonjaknya harga karet sejak awal tahun ini. Saat ini, harga rata-rata bulan berjalan karet jenis TSR 20 di pasar internasional telah menyentuh level US$2,23 per kg. Meningkat dibanding harga rata-rata tahun lalu sebesar US$1,37 per kg.

Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah mengungkapkan, dengan asumsi kinerja ekspor karet oleh perusahaan anggota sama dengan tahun lalu sekitar 421.670 ton, maka nilai ekspor karet dipastikan akan meningkat.

“Asumsinya, meski volume ekspor sama, tapi karena harga naik maka nilai ekspor akan terkerek naik,” katanya.

Adapun kenaikan harga karet saat ini dipicu oleh berkurangnya pasokan ke pasar ekspor. Produksi kebun karet di Sumut saat ini masih berada pada angka 420.000 ton per tahun, sedangkan permintaan cenderung mengalami kenaikan meski sedikit pelan.

Tanda-tanda penurunan produksi juga mulai terlihat sejak awal tahun ini, di mana sejumlah kebun karet di Sumut telah mengalami siklus tahunan gugur daun. Biasanya, siklus gugur daun akan mencapai puncaknya pada Maret dan April. Gugur daun ini akan berdampak pada penurunan produksi antara 5% hingga 10%.

“Kabupaten Batubara dan Simalungun sudah mulai gugur daun, dan nanti akan menuju ke Selatan hingga ke perbatasan Riau,” jelasnya.

Kenaikan harga itu juga dipicu oleh skema pembatasan volume ekspor atau Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) oleh tiga produsen utama karet dunia yakni Thailand, Indonesia dan Malaysia sejak Maret hingga Desember lalu. Pasar merespon dengan kepanikan akan kekurangan bahan baku sehingga mendorong terjadinya gejolak harga mulai awal tahun ini.

Pihaknya optimistis, harga karet bisa menembus level US$3 per kg dalam waktu dekat jika didukung oleh kenaikan harga minyak dunia minimal di level US$70 per barel. Minyak mentah sendiri merupakan bahan substitusi karet sehingga ikut memengaruhi harga.

Kenaikan harga karet juga dipengaruhi oleh permintaan dari negara konsumen seperti Amerika, Tiongkok, Jepang dan India. Kenaikan permintaan dari Tiongkok sendiri telah terjadi sejak tahun lalu, sementara Amerika, Jepang dan India sudah menunjukkan indikasi pemulihan ekonomi sehingga akan berdampak pada permintaan.

Sebagai catatan, saat ini harga bokar karet di tingkat pabrik di Sumut telah bermain di angka Rp24.000 hingga Rp25.000 per kg, sementara di tingkat petani telah menembus angka Rp12.000 per kg. Para petani mulai bersemangat karena dalam beberapa tahun terakhir harga karet sangat terpukul.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang tahun lalu, nilai ekspor karet dan bahan dari karet Sumut mencapai angka US$1,024 miliar. Angka ini mengalami penurunan sekitar 10,66% dibanding tahun sebelumnya dengan nilai sebesar US$1,146 miliar. Penurunan kinerja ekspor karet tersebut sangat terkait dengan pembatasan volume ekspor serta harga karet yang masih lemah.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Sumut Bismark Pardamean merinci, nilai ekspor karet ke Amerika mencapai US$217,92 juta, Jepang US$174,83 juta, Tiongkok US$99,51 juta dan India sebesar US$63,98 juta. Selain ke Tingkok, kinerja ekspor ke tiga negara lain mengalami penurunan.

“Begitupun, dengan kondisi saat ini, ada kemungkinan petani dan pengusaha akan menggenjot kinerja dan nilai ekspor,” katanya.[mbc]

Loading...