OJK Bilang Investor Lokal Indonesia Terendah di Asia Tenggara

investor-provisional-subclass-162-visaM24.CO|JAKRTA 

Jumlah investor dalam negeri di Bursa Efek Indonesia (BEI) di berbagai instrumen investasi masih terbilang kecil. Padahal, peran investor dalam negeri sangat dibutuhkan agar ketergantungan terhadap investor asing bisa berkurang.
Menurut Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad, jumlah investor lokal di BEI merupakan yang paling sedikit di regional Asia Tenggara.

“Jumlah investor di Indonesia dibanding jumlah penduduk kita masih sangat kecil, bahkan paling kecil di ASEAN,” ujar Muliaman di sela acara Perjanjian Kerja Sama antara Ditjen Kependudukan dan Catatan Sipil dengan 100 pelaku industri pasar modal di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.

Selama ini, investor pasar modal Indonesia hanya berasal dari dua kota besar, yaitu Jakarta dan Surabaya. Masih banyak daerah lain yang belum memiliki basis investor yang kuat.

Padahal, jika masing-masing daerah memiliki basis investor yang kuat, pembiayaan infrastruktur dalam negeri bisa diperoleh dari negeri sendiri.

“Kami ingin investor di pasar modal datang dari seluruh kota di Indonesia. Kalau ini dimobilisasi dananya rasanya kemampuan kita membiayai proyek infrastruktur atau proyek jangka panjang akan mudah,” tutur Muliaman.
Baru 400.000

Jumlah investor dalam negeri di BEI masih kalah dibandingkan investor luar negeri. Dari jumlah penduduk Indonesia sebanyak 250 juta, jumlah investor di BEI yang memiliki SID baru 400.000.

“Sebetulnya masih sangat kecil kan dibandingkan jumlah penduduk kita cuma 400.000. Saya kira ini kan dibandingkan 250 juta kan kecil sekali. Hitung saja persentasenya 400.000 dibandingkan 250 juta kecil sekali,” tutur Muliaman.

Peningkatan jumlah investor di dalam negeri yang semakin banyak bisa mengurangi ketergantungan pasar modal Indonesia dari investor asing. Selain itu, investor dalam negeri juga bisa mendongkrak kapitalisasi pasar modal Indonesia.
“Ya bagus dong, artinya mobilisasi dana domestik menjadi lebih besar, kemudian bisa menjadi penyeimbang investor asing. Apalagi kalau dengan kapasitas lebih besar, saya pikir dia bisa leading malah,” kata Muliaman.

“Iya salah satunya itu, terjadi buffer kalau ada yang jual, ada yang beli, kan begitu sehingga tidak tergantung perilaku asing. Bisa jadi buffer bisa membantu menjaga stabilitas,” tambah Muliaman. (dtf)

Loading...
author