Petani Tobasa Keluhkan Anjloknya Harga Ubi

92695bb1-451b-41c9-9408-b15230e38328-copy

M24.CO|TOBASA

Awal berdirinya pabrik tepung tapioka di Pintu Bosi, Laguboti, Tobasa pada tahun 2009 membawa angin segar bagi para petani di Tobasa. Harga ubi yang saat itu mencapai Rp600/Kg nya membuat para petani memilih ubi sebagai opsi baru dalam dunia pertanian, karena harga itu dinilai masih menguntungkan.

Selain faktor harga yang dinilai layak, perawatan ubi juga dianggap tidak ruwet dan dapat dipanen kurun waktu 10 bulan. Tak sedikit para petani yang mengalihkan lahan nya dari tanaman kopi ke ubi, bahkan sebagian petani rela menyewa lahan untuk menanam ubi. Ditahun 2014 lalu, para petani sempat menerima harga Rp950/Kg.

Namun sejak 3 bulan terakhir, harga ubi anjlok hingga mencapai kisaran angka Rp590/Kg nya. Hal ini membuat para petani ubi merugi, bahkan sebagian petani lebih memilih membiarkan ubinya begitu saja daripada memanennya. Seperti pengakuan J Sihotang, warga Desa Pintu Bosi Kec Laguboti ini menganggap jika harga itu tidak lagi menguntungkan.

“Bayangkan saja, uang cabut Rp130/Kg, ongkos angkutan ke pabrik Rp100/Kg. Sementara harga ubi di pabrik hanya Rp590/Kg, itu tidak menguntungkan lagi,” ujarnya saat ditemui di perladangannya, Selasa (15/11) siang.

Meski begitu, Sihotang menilai jika anjloknya harga itu merupakan dampak perdagangan bebas. Sebab, harga tepung tapioka dari Thailand hanya Rp4000/Kg, sedangkan harga tepung tapioka dalam negeri mencapai Rp6000/Kg.

“Itulah perbandingan harga di pasar. Jelas konsumen akan membeli tepung produk luar karena lebih murah,” lanjutnya.Sihotang bahkan berkeyanikan jika impor tepung dari luar sarat kepentingan pribadi.

“Bisa saja ini permainan pribadi. Karena setahu saya, tepung tapioka hanya dari Thailand. Atau jangan-jangan tepung itu masuk ke pasar tanpa pajak, makanya harganya bisa semurah itu,” tambahnya.Karena itu Sihotang berharap agar pemerintah memperhatikan situasi petani ubi saat ini.

“Sampai sekarang ubi saya seluas 1,5 Ha tidak saya panen karena harga itu. Padahal saya menyewa lahan itu seharga Rp8 juta/5 tahun. Awalnya saya berharap bisa panen hingga 5 kali, tapi kalau seperti ini bisa-bisa hanya 2 atau 3 kali panen,” ujarnya.

Tak beda jauh dengan Sihotang, Br Pakpahan yang juga warga Laguboti mengaku membiarkan ubinya dan tidak dipanen. Faktor harga dinilai menjadi alasan. Padahal, lanjut Br Pakpahan, ia terpaksa meremajakan tanaman kopinya yang diganti dengan ubi.

“Kopi hilang, ubi pun tak menghasilkan,” ujarnya dengan nada pasrah. Ia berharap agar ke dapan pemerintah lebih mengutamakan tepung produk dalam negeri dari pada produk luar.

“Memang lebih murah tepung yang dari luar itu, makanya tepung dalam negeri mungkin ngak laku gara-gara itu,” lanjut Br Pakpahan mengakhiri.(alex)

Tags:
Loading...
author
Manusia biasa, Murah Senyum dan Ramah. Tapi, Benci Lihat Ketidak Adilan.