Rupiah Melemah Hari Ini, Harga Komoditas Meroket

72


JAKARTA|Kebijakan ekonomi Presiden Amerika Serikat Donald Trump ditunggu-tunggu pemerintah Indonesia. Beberapa peluang dan tantangan ekonomi yang ada pada tahun ini muncul dari kebijakan Donald Trump. Apa saja itu?

Menurut Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juda Agung, jika kebijakan fiskal yang akan dikeluarkan Trump sesuai dengan janji kampanyenya seperti pemangkasan pajak, ditambah kenaikan suku bunga The Fed, maka itu akan menguatkan nilai tukar dolar.

“Kalau fiskalnya ekspansif kemudian direspon oleh The Fed maka ini resep untuk penguatan dolar,” kata Juda Agung, dalam diskusi Economic Outlook, di Hotel Pullman, Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (31/1).

Jika dolar menguat, nantinya mata uang lain seperti rupiah diperkirakan melemah. Namun, ada kabar baiknya bagi Indonesia, yaitu harga-harga komoditas ekspor akan meroket.”Good newsn-ya adalah bahwa harga-harga komoditas khususnya ekspor kita mengalami kenaikan yang luar biasa,” ujar Juda.

Dia mengatakan, harga komoditas seperti batubara dari kuartal III hingga akhir tahun lalu mengalami kenaikan 30%.

Kenaikan itu terjadi karena China mengurangi produksi batu baranya. “Kuartal III sampai akhir tahun lalu saja batu bara naiknya hampir 30%, jadi ini sebuah peluang, apakah harga ini sustainable? Ada yang mengatakan ini karena penurunan produksi batu bara dari China yang kemudian China impor dan harga naik, China dari sisi rebalancing ekonomi, yang dia mau mengarah ke domestik ekonominya kelihatannya kembali kepada investasi ekspor sehingga membutuhkan natural resources yang diimpor dari luar negeri,” imbuhnya.

Di tahun 2017 ini, Juda memprediksi kenaikan harga seluruh komoditas mencapai 7,8%, sedangkan tahun lalu diperkirakan sekitar 4,2%.

“Perkiraan kita tahun lalu sekitar 4,2% kenaikan harga komoditas ekspor kita, tahun 2017 itu kami perkirakan sekitar 7,8%, angkanya beda-beda adanya yang coal, nikel berbeda,” ujar Juda.

Dia mengatakan, kenaikan harga komoditas ini diperkirakan akan meningkatkan nilai ekspor Indonesia ke negara lain, terutama bagi daerah penghasil batu bara seperti Kalimantan dan Sumatera akan meraih pendapatan yang meningkat.

Tren pengiriman kenaikan ekspor komoditas ini diperkirakan paling banyak ke China.

Juda menyebut jika harga komoditas meningkat maka akan memperbaiki sektor investasi. Sementara itu, konsumsi rumah tangga juga diperkirakan naik sehingga menjadi peluang Indonesia di tahun ini.

“Di sektor investasi, ada korelasi yang kuat di harga komoditas. Investasinya yang baik, walaupun volume ekspsor yang sama, sektor itu ada peluang, jadi dari segi ekspor baik, konsumsi baik, investasi baik,” ujarnya.

Juda mengatakan, Indonesia masih beruntung bila Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merealisasikan kebijakannya yang mengarah kepada proteksionisme di bidang perdagangan. Sementara Singapura dan Malaysia dinilai akan terkena dampak lebih buruk.

Dia menjelaskan, AS merupakan pangsa ekspor terbesar bagi China. Bila AS menutup pintu perdagangannya maka China menjadi sangat tertekan.

Tidak hanya itu, negara-negara yang selama ini ekspor ke AS namun harus melewati China akan terkena dampaknya.

Negara tersebut di antaranya adalah Singapura dan Malaysia. Sementara posisi Indonesia tidak dalam rantai perdagangan antara China dan Amerika Serikat (AS).

“Dampak langsung kebijakan Trump ke perdagangan Indonesia nggak terlalu besar,” ungkapnya.

Juda menuturkan, ekspor Indonesia ke China lebih banyak digunakan untuk masyarakat di negara itu sendiri. Bila kemudian diolah dan diekspor kembali ke negara lain, porsi untuk AS tidak terlalu besar.

“Misalnya pembuatan Apple atau produk elektronik lain. Kita itu nggak masuk dalam global value chain-nya dari China sedangkan kayak Singapura dan Malaysia, banyak memproduksi barang antara yang kemudian barang jadinya diekspor ke AS,” jelas Juda.

Meski demikian, baik regulator maupun kalangan dunia usaha juga tetap harus mewaspadai segala kemungkinan yang terjadi.

Ini karena kebijakan masih sebatas wacana, sehingga dianggap sebuah ketidakpastian.”Kalau Indonesia ada dampaknya itu minimal-lah,” tegas Juda. (ant/dtf)

Loading...