MEDAN|Rupiah jaga tren penguatannya namun IHSG kembali melemah. Perdagangan nilai tukar Rupiah diawal pekan ini senin (30/1) tetap menjaga tren penguatannya. Tercatat sampi senin sore Rupiah menguat tipis terhadap US Dollar. Demikian dikatakan Pengamat Ekonomi Sumut, Gumawan Benyamin kepada M24.CO hari ini.

Dia menjelaskan nilai tukar Rupiah dibuka sama dengan harga penutupan sebelumnya dilevel 13.360. terpantau sampai senin sore nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar bergerak ke level 13.300 menguat 60 poin atau 0,449 persen. Penguatan nilai tukar Rupiah yang menguat ini tidak lepas dari sentiment terahadap US Dollar dan kebijakan proteksionis Trump. US Dollar yang melemah ini akibat dirilisnya data pertembuhan ekonomi AS yang sedikit mengecewakan bagi AS.

“Pertumbuhan ekonomi yang dirilis diantaranya seperti jumlah produk dan jasa yang dihasilkan dan tingkat pemesanan barang tahan lama. Jumlah produk dan jasa yang dihasilkan AS turun dari perkiraan yang sebelumnya 2,1 persen menjadi 1,9 persen sedangkan tingkat pemesanan barang tahan lama sama dengan perkiraan dan turun dari hasil rilisan sebelumnya 0,6 persen menjadi 0,5 persen.
Data ekonomi AS yang sedikit mengecewakan inilah yang mebuat US Dollar melemah. Jumlah produk dan jasa yang dihasilkan AS dan tingkat pemesanan barang tahan lama ini menbuat buruk bagi US Dollar dan baik Bagi Rupiah,” katanya.

Namun pergerakan nilai tukar Rupiah yang menguat ini bisa saja melamah karena US Dollar diperkirakan menguat jika indeks penjualan rumah tertunda di AS naik menjelang dirilisnya data sebenarnya. Indeks penjualan rumah tertunda di AS diperkirakan naik dari sebelumnya minus 2,5 persen menjadi 1,6 persen.

“Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar rate (JISDOR) nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar menguat 24 poin dari perdagangan sebelumnya 13.359 menjadi 13.335. Penguatan yang terjadi pada Rupiah tidak diikuti IHSG yang turun. IHSG kembali ditutup dizona merah. IHSG yang dibuka menguat dari harga penutupan sebelumnya yang berada 5.312,84 dibuka dilevel 5.321,55,” paparnya.

Dia menegaskan IHSG sempat menguat kelevel 5.331,51 namun IHSG akhirnya ditutup melemah ke level 5.302,66 melemah 10,17 poin atau 0,19 persen dengan tingkat pengembalian investasi tahun berjalan 0,51 persen. Perdagangan IHSG jika dilihat masih stagnan, ini akibat dari investor yang masih wait and see terkait dengan kebijakan kebijakan Donald Trump. Kebijakan-kebijakan Trump memang terlihat proteksionis namun kebijakan-kebijakan ia buat masih belum terlihat titik terangnya, belum detail terkait dengan ekonomi AS.

Dia menerangkan hal inilah yang membuat investor masih wait and see untuk berinvestasi di AS,investor masih menahan diri. Kaitannya dengan IHSG yang terlihat masih datar-datar saja,naik dan turunnya tidak terlalu tinggi karena investor masih menahan diri terkait dengan kebijakan Donald Trump nantinya berakitan dengan kebijkan ekonominya secara detail.

“Kebijakan Donala Trump yang ingin membangun tembok pemisah dengan Meksiko yang tidak disetujui pemerintah Meksiko karena biaya pembangunan tembok dibebabkan kepada Meksiko sepenuhnya. Kebijakan tersebut bisa berubah dengan menekan pada biaya pajak barang meksiko yang dinaikkan menjadi 20 persen. Namun ini hanya sekedar wacana karena belum ada kata kesepakatan antara 2 belah pihak,” tambahnya.

Loading...