Alamak! Foto Bocah Perempuan Mesum ‘Digilir’ Temannya Beredar

foto-mesum-bocah_20160726_144226
M24.CO|BANGKA
Pergaulan remaja semakin tak terkontrol. Anak baru gede (ABG) seolah tak malu lagi berbuat tak senonoh.Di Media Sosial beredar sejumlah foto seorang gadis ABG bersama sejumlah ABG pria.

Pada foto-foto itu, gadis ABG berulah berfoto bagaikan model majalah dewasa seluruh tubuhnya dirabah oleh teman lelakinya.

Perbuatan mesum yang tak seharusnya dilakukan parah bocah ini, sudah dianggap hal bisa bagi remaja masa kini, seakan perbuatannya itu menjadi kebanggaan bagi dirinya.

Foto-foto itu viral di dunia maya.

Pakar sosiologi dari Universitas Bangka Belitung, Sujadmi, mengatakan prilaku cenderung menyimpang oleh usia remaja terjadi karena proses sosial yang tak sempurna.

Keluarga menjadi agen sosial pertama yang mengajarkan nilai-nilai moral namun disaat tingkat kontrol oleh keluarga kurang berperan maka remaja pun cenderung mengikuti referensi agen sosial lain seperti kelompok pertemanan.

“Cenderung meniru perilaku kawan membuat remaja menemukan identitas lain untuk berperilaku. Redahnya tingkat kontrol dari keluarga dan masyarkat ditengah rasa penasaran tinggi dan butuh eksistensi. Penyimpangan perilaku remaja ini didasari ingin diangggap gaul, bukan orang rumahan dan bukan anak mama,” katanya.

Kecenderungan rendahnya kepedulian untuk merangkul dan memberi masukan pada kalangan usia remaja dianggap sebagai ciri masyarakat transisi.

“Tak ada kerjasama antara agen sosialisasi dari pihak orang tua, teman, sekolah, masyarakat dan media sosial membuat remaja mencari identitasnya sendiri,” katanya.

Solusinya keluarga dianggap sebagai institusi primer tempat anak bertumbuh kembang, Tingkat kontrol ini pun harus ditingkatkan jangan dibiarkan terlalu bebas apalagi untuk usia rawan seperti SMP dan SMA. “Orangtua harus memberi perhatian terhadap kegiatan anak meski sudah beranjak ke bangku perguruan tinggi.”

Kerjasama ini juga harus dilakukan dengan institusi pendidikan untuk menyeimbangkan pendidikan moral dan karakter di sekolah. Hingga kini pendidikan masih sarat berorientasi pada hard skill, hal ini mengakibatkan sekolah lupa peranan untuk mengembangkan soft skill yang sangat berguna untuk kualitas mental pertumbuhan anak.

 Sementara di tingkat pemerintah daerah mestinya menghidupkan kembali organisasi kepemudaan seperti karang taruna yang sempat diteliti Universitas Bangka Belitung (UBB) dalam kondisi mati suri. Pasalnya organisasi seperti ini hanya terlihat di momen tahunan seperti Hari Kemerdekaan.

Masyarakat pun yang terkesan cuek dan hanya memberi stigma negatif juga dapat mengambil peran dengan cara mencari tahu identitas remaja yang melakukan perilaku menyimpang kemudian melaporkannya ke perangkat RT dan RW agar sang anak mendapat binaan, penerapan pos kambling kembali untuk pengawasan dan meminimalisir spot nongkrong yang rawan tindak negatif dengan cara memberi penerangan.(bangkapos)

Loading...
author