Aneh! Tangannya Diborgol Kok! Polisi Bisa ‘Tembak Mati’ Rawi Ya?

340

*Kuasa Hukum Lapor Komnas HAM


MEDAN|Petugas gabungan dari Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Poldasu, Satreskrim Polrestabes Medan dan Polsek Medan Barat akhirnya berhasil mengungkap kasus pembunuhan terhadap Indra Gunawan alias Kuna (34) di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat beberapa waktu lalu.

Kapolda Sumut Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel dalam keterangan persnya di RS Bhayangkara Medan mengatakan kedelapan pelaku yang berahisl diamankan adalah Rawindra alias Rawi (40) warga Jalan Waru No. 63 Medan, Jo Hendal alias Zen (41) warga Jalan Sukaraja, Kabupaten Batubara, Putra (31), Chandra alias Ayen (38) warga Jalan Tulang Bawang No. 6 Kecamatan Medan Petisah dan John Marwan Lubis alias Ucok (62) warga Jalan Sei Deli Medan. Kemudian dua pelaku pembatu lainnya adalah Wahydudi alias Culun (32) warga Jalan Karya, Kecamatan Medan Johor dan M. Muslim (31) warga Jalan Sampali, Kecamatan Medan Area dan SJ alias Siwaji Raja, Warga Medan ditangkap di Jambi.

Polemik kematian Rawindra alias Rawi yang merupakan ketua salah satu Organisasi Kepemudaan (OKP) pada saat ditangkap petugas karena terlibat pembunuhan terhadap Kuna dinilai tidak wajar. Sebab, photo yang beredar di media sosial menunjukkan Rawi ditangkap dan tangannya diborgol. Namun beberapa saat kemudian, Rawi dikabarkan tewas karena melawan petugas saat akan ditangkap. Hal ini menjadi pertanyaan sejumlah pihak termasuk pengacaranya.

Kuasa hukum keluarga Rawindra alias Rawi, Zulheri Sinaga, salah seorang tersangka yang ditembak mati petugas karena dugaan keterlibatannya dalam pembunuhan pemilik toko Kuna, Indra Gunawan alias Kuna di Jalan A Yani Kelurhan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Rabu (18/1/2017) pekan lalu, akan menyurati Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas-Ham) terkait sejumlah kejanggalan atas kematian kliennya pada penangkapan yang dilakukan oleh tim gabungan dari Polda Sumut dan Polrestabes Medan, Minggu (22/1/2017) kemarin.

“Rawi ditangkap di kediamannya, Jalan Waru Medan. Namun ada yang melihat Rawi yang sudah diborgol dan tidak melakukan perlawanan ditembak di Jalan Majapahit Medan,” kata Zulheri.

Karena itu, Zulheri menjelaskan, pihaknya akan menyurati Komnas – HAM terkait sejumlah kejanggalan kematian kliennya. “Karena penegak hukum bukan untuk melanggar hukum. Saya inginkan hukum ditegakan juga seadil-adilnya untuk Rawi,” jelasnya.

Selain itu, Zulheri menambahkan, pihaknya juga akan mengawal proses perlindungan hukum terhadap kliennya itu. “Saya inginkan proses perlindungan hukum harus cepat diselesaikan oleh petugas,” tambahnya.

Awalnya, pihak keluarga dan rekan-rekan Rawi sempat bingung kenapa polisi tak juga menyerahkan jasad ketua organisasi kepemudaan itu. Terlebih, pihak keluarga sudah memohon agar jenazahnya tidak diauotopsi.

“Kami sudah dari pagi memohon agar mayat abang kami itu dibawa pulang. Tapi, kami dioper-oper terus saat datang ke Polrestabes Medan,” kata adik kandung Rawi, Radika dan Reka sembari menangis.

Reka mengatakan, mereka rela jika Rawi dinyatakan bersalah. Namun, semestinya polisi tidak memperlambat proses pemulangan jenazah. Apalagi, pihak keluarga sudah menyiapkan pemakaman Rawi.

“Mamak kami sampai enggak mau makan dan minum dari kemarin. Badannya sudah dingin. Dia bilang, kalau Rawi enggak pulang, dia mau ikut sama abang kami itu. Masak polisi tega kali pada kami. Apa nunggu mamak kami ikut mati,” kata Reka.

Terkait tewasnya Rawi, pihak keluarga juga turut menyesalkannya. Apalagi, ketika diamankan dari rumah, Rawi sehat. Anehnya Rawi dikabarkan pihak kepolisian dirinya tewas ditembak polisi padahal tangan diborgol polisi bagaimana dirinya bisa melawan? Apa benar Rawi yang merancang pembunuhan berseri ini?[red]

Loading...