Tobasa | Tanpa memikirkan efek lingkungan dan tanpa memiliki izin, pemilik tanah bermarga Simanjuntak di Desa Tampahan Kec Tampahan, Kab Tobasa menggali lahannya dengan alasan untuk meratakan lahannya seluas kurang lebih 200 meter persegi. Hasil kerukan ini kemudian dibarter dengan jasa alat berat yang mengeruk tanah dan pasir dari lokasi itu.
“Ini hanya meratakan, tanahnya nggak dijual. Tapi dibarter dengan jasa alat berat yang menggeruk. Soalnya ongkos alat berat ini Rp1 juta/jam, jadi kita bayar pake tanah itu,” sebut seorang pria bermarga Simanjuntak yang mengaku sebagai pemilik lahan tersebut, saat ditemui kru media ini, Kamis (2/2/2017).
Meski begitu, Simanjuntak mengakui jika kegiatan pengerukan itu tidak memiliki izin dari dinas terkait. “Nggak ada memang, hanya izin dari kepala desa,” sebutnya. Pantauan wartawan, terlihat 2 unit alat berat tampak mengeruk tanah di lokasi tersebut, serta sedikitnya 7 unit mobil truk yang mengangkut pasir dan tanah hasil kerukan.
Kadis Lingkungan HidupTobasa, Mintar Manurung yang dihubungi kru media ini juga membenarkan jika pengerukan itu tidak memiliki izin. “Dimana itu? Ngak ada izinnya itu,” sebutnya saat dikonfirmasi kru media ini.
Sementara, tanah dan pasir hasil galian tersebut terlihat dikumpulkan ke pinggir Jalan Sisingamangaraja di Kelurahan Balige III Kec Balige, guna menimbun persawahan yang sepertinya akan dijadikan pertapakan. Hal tersebut diketahui dari hasil penelusuran wartawan yang mengikuti truk pengangkut hasil galian tersebut. (alex)
Loading...