Briptu Marisi Meninggal Akibat Pendarahan Otak

254

M24.CO|MEDAN
Sidang lanjutan perampokan Briptu Marisi Silaen yang tewas dirampok menghadirkan saksi ahli dari ahli bedah forensik dr Surjit Sing. Dalam keterangan dr Surjit di ruang Candra II, lantai 3 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (10/10), anggota Brimob Poldasu itu tewas karena pendarahan di otak akibat hantaman benda tumpul.

Di hadapan ketua majelis hakim Nazar Efendi dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dewi Tarihoran, dr Surjit dengan gamblang menjelaskan semua hasil otopsi korban.

Surjit menjelaskan, dalam bedah forensik yang dilakukan didapati resapan darah yang luas pada bagian otak. Tak hanya itu, Surjit juga menyebut jika tulang tengkorak dari belakang hingga ke depan patah. Luka lain yang didapati pada tubuh korban adalah rahang kiri yang patah, kepala belakang mengalami luka memar, luka lecet di kening, pipi, mata, punggung tangan kiri dan kanan, luka lecet di lutut sebelah kiri.

Sedangkan di bagian pipi kiri juga ditemukan luka terbuka, serta gigi geraham sebelah kiri yang patah. Surjit juga menjelaskan, jika luka lecet yang dimaksud adalah hilangnya kulit bagian atas.
“Setelah kita buka tulang tengkorak kepala, terlihat resapan darah yang luas pada bagian otak,” sebut Surjit.

Surjit juga menyebutkan, jika bagian fosa kepala korban mengalami keretakan. Fosa tersebut adalah bagian kepala seperti mangkuk yang terbagi dalam 3 bagian, yang menjadi tempat duduknya otak.
“Jadi setelah otak itu kita angkat, bagian fosa itu sudah rusak. Terdapat retakan di sana. Dan dari hasil pemeriksaan forensik, itu akibat benturan benda tumpul,” lanjut Surjit.

Saat ketua majelis hakim bertanya, soal kemungkinan penyebab kematian korban, Surjit dengan tegas mengatakan jika korban meninggal akibat pendarahan pada otak. “Ya, akibat pendarahan pada otak. Pendarahan itu akibat gumpalan darah di bawah kulit kepala. Gumpalan itu terjadi akibat tekanan benturan yang cepat. Jadi benturan bisa saja terjadi dengan benda berat, katakan 10 Kg, namun jika benturan itu lambat, belum tentu berdampak seperti itu. Tapi bisa saja benda itu hanya 2 ons, namun karena kecepatannya tinggi, maka gumpalan itu terjadi. Contoh reel nya adalah peluru senpi, meski kecil tapi bisa menembus kepala, itu karena kecepatannya, bukan karena beratnya,” ujar Surjit menjelaskan lebih rinci.

Sementara kuasa hukum terdakwa saat itu mengatakan, jika fasilitas forensik di RS Bhayangkara tidak memadai. Usai mendengarkan keterangan saksi ahli, persidangan akhirnya ditutup dan dilanjutkan Kamis mendatang. Pantauan wartawan, pada persidangan kali ini tidak terlihat anggota brimob seperti sidang-sidang sebelumnya. (van)

Loading...