Cerita Petani Meranti di PN Balige “Ketika Binatang Lebih Berharga dari Manusia”

M24.CO|TOBASA
Dalam sidang lanjutan kasus 10 petani dari Desa Meranti Timur, Kec Pintu Pohan Meranti, Kab Tobasa, Prov Sumut terus bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Balige, Selasa (8/11/2016).sidang

Dua saksi yang dihadirkan oleh kuasa hukum para terdakwa, Nelson Siahaan dan Rosida Br Siagian, terkuak fakta miris yang menjadi perbincangan di tengah masyarakat Meranti Timur yang mengikuti persidangan. Hal itu saat JPU, Friska Sianipar mempertanyakan soal binatang yang dilindungi pemerintah di dalam kawasan Sigalapang, yang disebut pemerintah adalah kawasan Margasatwa.

“Setau saksi, binatang apa saja yang ada di lahan itu?” tanya JPU kepada Nelson.”Yang saya tau di sana ada babi hutan, musang dan moyet,” sebut saksi.”Anda tau jika beberapa binatang yang anda sebutkan dilindungi oleh pemerintah?” tanya JPU lagi.”Saya tidak tau soal itu,” jawab saksi.Mendengar pertanyaan JPU tersebut, wartawan metro24.co mendengar segelintir perbincangan warga yang mengikuti sidang.

“Itulah negara ini, binatang dilindungi, diberikan hutan untuk kehidupan binatang. Lalu masyarakat ngak punya lahan lagi untuk bertahan hidup. Akhirnya masyarakat dipenjarakan karna ngak punya lahan lagi supaya bisa bertahan hidup, soalnyakan di penjara dikasih makan,” sebut Sahat Simangunsong dengan nada kesal.

Sama halnya dengan Robin Sarumpaet, menurutnya kondisi saat ini sudah sangat miris. Luas lahan yang tersedia tidak lagi dapat menampung jumlah populasi manusia. Ditambah lagi lahan yang ada saat ini kian dipersempit.

Sebab lahan yang sudah dikelolah masyarakat selama ini telah dipatok menjadi lahan margasatwa, dan masyarakat yang selama ini mengelolah lahan itu digusur. Sebagai gantinya, di dalam kawasan margasatwa itu dilepaskan binatang untuk dijaga dan dilindungi demi melangsungkan hidup populasi binatang itu.

“Mereka tidak tau apa yang kami rasakan. Kami tidak punya lahan lagi, soalnya lahan yang selama ini kami kelolah sudah dijadikan rumah untuk binatang yang dilindungi oleh pemerintah. Namun karena kami ingin bertahan hidup, akhirnya kami memilih untuk mengelolah lahan itu, tetapi kemudian masyarakat justru dipenjara. Kami nggak tau lagi mau bilang apa, binatang sudah lebih berharga daripada kami,” sebut Robin usai persidangan.

Dalam sidang tersebut, saksi yang dihadirkan mengutarakan sejarah lahan itu, yang disebut telah kelolah sejak tahun 1800-an. Usai mendengarkan keterangan kedua saksi, ketua majelis hakim, Syafril Batubara menutup sidang dan akan dilanjutkan Rabu (16/11) mendatang.

Sebelumnya, 10 petani dari kelompok tani Ketanrantim, Desa Meranti Timur diadili di Pengadilan Negeri (PN) Balige. Dalam dakwaannya, JPU menyebut jika para terdakwa telah melakukan perusakan, pembakaran dan penebangan di Dusun Sigalapang, yang disebut masuk dalam kawasan margasatwa. (alex)

Loading...
author
Manusia biasa, Murah Senyum dan Ramah. Tapi, Benci Lihat Ketidak Adilan.