Ini Pengakuan ‘Nyeleneh’ Sang Penggorok Leher Boru Sihombing

470

unnamed-14

M24.CO|SIDIMPUAN

Seperti ada pepatah mengatakan nasi sudah menjadi bubur itulah yang dialami oleh Zulfan Efendi Harahap (35) meski sudah membunuh Efriana br Sihombing (28), perempuan yang telah dinikahinya sejak empat tahun lalu itu, tapi dia masih sangat sayang sama almarhum.

Pria yang merupakan penjaga kantor Pos Indonesia di Pasar Pargarutan itu, apa yang dialaminya selama berumah tangga sungguh menyakitkan dia dan istri selalu berbeda pendapat.

Ketika M24.CO menemuinya di Ruang Sal III RSUD Kota Padangsidimpuan, Hari ini minggu (8/10), pria ini, mencurahkan kepedihan selama menjalani biduk rumah tangga dengan korban.

Ia mengaku sangat sedih. Sedihnya karena ada rasa cemburu, tidak dilayani dengan baik sebagai suami, sering menolak berhubungan badan. Akan tetapi disinggung soal kecemburuannya itu pun berpaling wajah dan menahan nafas lalu terdiam.

“Sakit kali lah, Tapi apa yang bisa kubuat karena cemburu terlalu tinggi, begitulah gak ngerti lagi aku. Cukuplah. Kalau nanti berkeluarga kau, jangan sampai seperti yang kubuat. Nanti harus damai kalian. Kalau aku, gak ada damainya. Satu ke kanan satu ke kiri,” katanya mengalihkan pertanyaan M24.CO.

Disinggung yang menjadi faktor kesedihannya itu, Zulfan hanya berucap sedikit dan kemudian terdiam lagi. “Wajarlah malam Jumat menyutubuhi istri,” ucapnya parau dengan suara yang tersendat sedih.

Katanya, mereka menikah Februari 2014. Hingga petaka terjadi, keduanya belum juga dikaruniai anak. Kembali pada pokok persoalan yang membuatnya tega menghabisi perempuan yang dinikahinya itu. Menurut Zulfan, selama menikah, sang istri sering meminta cerai.

“Pado ia manyorangkon au, dengganan rap rap tu hamatean (daripada dia menceraikan aku lebih baiklah sama-sama mati). Jalan keluar masalah keluarga kami, kata istriku, lebih baik menceraikan dia, tapi aku mana mau. Lebih baik mati bersama daripada bercerai,” ulas lelaki yang juga menenggak racun, kemudian menyayat nadi dan berusaha memotong jemarinya usai menghabisi nyawa istrinya.

Dengan nyeleneh, Zulfan malah menyesali dirinya karena tidak sampai mati. “Gak dikasih Tuhan (aku) mati. Berarti yang bagusnya niatku itu, dia tidak baik makanya dia mati kan. Kuminum, gak mempan. Kusayat tanganku, gak juga sampai ku potong jari. Ya gak mati-mati juga,” ujarnya mengaku masih banyak yang sulit untuk diterangkannya terkait persoalan yang menjadi lebih menguatkan niatnya membunuh sang istri.

Sebelumnya, Zulfan Efendi Harahap (36) tega menghabisi nyawa istrinya, Efriana Br Sihombing (27), Jumat (7/10) dini hari.

Penjaga kantor pos di Pargarutan Jae, Kecamatan Angkola Timur, yang sehari-hari juga bekerja sebagai petani ini, menggorok leher dan menikami beberapa bagian tubuh perempuan yang sudah dinikahinya selama empat tahun itu.

Informasi dihimpun dimana Zulfan meminta istrinya untuk membuatkannya secangkir kopi. Namun, istrinya yang sudah tertidur itu menolak. Tak berapa lama, Zulfan menagih istrinya berhubungan badan. Dan, hal itu juga ditolak korban.

Zulfan yang kalap dengan penolakan-penolakan sang istri, pergi ke dapur dan mengambil pisau. Lalu, kembali menghampiri istrinya yang tengah berbaring di ranjang. Di situ, pelaku menyerang istri dengan menggorok leher, menikam dada menyayat nadi istrinya hingga beberapa bagian luka mengeluarkan darah hingga membanjiri kamar.

Peristiwa sadis yang dilakukan Zulfan terhadap istrinya, pertama kali diketahui Hendra Gandi Harahap, Kepala Kantor Pos Pargarutan, Kecamatan Angkola Timur.(sabar)

Loading...