Lanjutan Petani Meranti Timur, Para Terdakwa Ngaku tak Tahu Status Lahan

20c0a639-efef-4ace-9d52-1735d45ce8d5-copyM24.CO|TOBASA
Sidang lanjutan kasus 10 petani dari Desa Meranti Timur, Kec Pintu Pohan Meranti, Kab Tobasa terus bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Balige, Rabu (17/11/2016) sore. Sidang yang dipimpin ketua majelis hakim, Syafril P Batubara itu beragenda mendengarkan keterangan para terdakwa dengan status sebagai saksi sekaligus sebagai terdakwa.

Dalam keterangan para terdakwa, mereka mengaku jika lahan itu adalah lahan warisan dari orang tua mereka. Para terdakwa juga mengatakan jika lahan itu sudah dikelola dari jaman kakek mereka.

“Kami tidak tau jika itu adalah lahan margasatwa, yang kami tau itu adalah lahan yang diwariskan oleh orang tua kami, makanya kami kelolah,” sebut Gompar Sarumpaet, salah seorang terdakwa.

Tak hanya itu, para terdakwa mengaku tidak pernah melihat atau membaca SK Menteri Pertanian No 43/Kpts/Um/2/1977 berisi penunjukkan lahan itu menjadi kawasan margasatwa yang disodorkan oleh JPU (Jaksa Penuntut Umum), Friska Sianiapar. “Kami tidak pernah melihat atau membaca SK itu, Bu Jaksa,” ujar para terdakwa.

Bahkan, Gompar mengaku pernah meminta SK penunjukan itu kepada petugas kehutanan, namun tidak diberikan.”Bahkan saya pernah meminta SK penunjukkan itu, apakah itu benar ada atau tidak, tapi mereka nggak mau kasih sama saya,” ujar Gompar.

Tak hanya soal SK tersebut, para terdakwa juga mengaku tidak pernah melihat dan mengetahui soal tapal batas kawasan margasatwa tersebut.
“Kami tidak pernah lihat tapal batas itu,” ujar para terdakwa. Usai mendengar keterangan para terdakwa, ketua majelis hakim menutup persidangan dan akan dilanjutkan Rabu (23/11) mendatang dengan agenda mendengar keterangan saksi ahli dari terlapor. (alex)

Tags:
Loading...
author
Manusia biasa, Murah Senyum dan Ramah. Tapi, Benci Lihat Ketidak Adilan.