Kerahkan Dukun Cari Pelajar Tenggelam di Danau Toba

hanyutM24.CO|TOBASA

Pencarian Enjelika Manurung terus dilakukan. Tak hanya tim BPBD dan Basarnas, pihak keluarga juga menurunkan seorang dukun bermarga Simanjuntak, Kamis (1/12/2016).

Mengenakan kemeja putih yang sudah kumuh dan nyaris berwarna cokelat, sang dukun juga melilitkan sarung yang juga sudah terlihat kumuh ke pinggangnya. Selain itu, selendang ulos batak yang juga sudah terlihat usang dan kumuh juga disandang.

Aksi sang dukun di lokasi tak luput dari kerumunan warga. Sambil berbicara seorang diri (seolah sedang berbicara dengan penunggu danau toba), dukun itu terus memandangi danau toba sambil memegangi cawan warna putih yang terbuat dari keramik berisi air.

 

Di mana titik tenggelamnya Enjelika hanya berjarak sekira 500 meter ke hulu sungai Asahan yang melintasi Kecamatan Porsea, Kecamatan Pintu Pohan hingga ke Kabupaten Asahan dan berujung di Laut Tanjungbalai.

Sambil terus memandangi danau, sang dukun terus berbicara dengan penunggu danau sambil berjalan di seputaran bibir pantai hingga ke hulu Sungai Asahan.

Persis di hulu sungai itu, sang dukun kemudian berhenti. Ia duduk bersila dan memandangi ke arah sungai asahan yang langsung dikelilingi masyarakat dan meletakkan cawan putih itu dihadapannya.

“Ale dongan natua-natua, unang ma dibahen ho gabe sipukka ni apim dongan nami manisia na met-met i. Nataoni pe dipangido ho do marga Napitupulu na mulak mandulo opung na tu bona ni pasogit on. Alai ala hupangido, ditiop ho do nasida di toru ni parhiteani asa unang salpu tu topi dolok na daoi.

(Hey orang tua, jangan jadikan anak manusia itu jadi pembakaran api mu. Tahun lalu engkau juga mengambil marga Napitupulu yang pulang menemui nenek nya di kampung ini. Tetapi karena ku minta, kau tahan dia persis di bawah jembatan agar tidak hanyut hingga ke hilir sungai),” ujar dukun itu yang berbicara ke arah sungai.

“Ale dogan natua-natua, hu boto do na didolos tanduk ni horbo mi ho tu bagas ni tao on. Di bahen ho do on gabe bagas mu ate! Bagas ni Napitupulu do on ale natua-tua, dang bagas ni Manurung on. Hu pasahat pangidoan mi, alai paulak ma anak nami manisia i.

(Hey orang tua, aku tau engkau ditarik tanduk kerbau mu ke danau ini. Kau buat ini jadi rumah mu ya! Ini rumah marga Napitupulu, bukan rumah marga Manurung. Ku berikan yang kau minta, tetapi kembalikan lah anak manusia itu),” lanjut si dukun sambil memecahkan 3 butir telur ayam kampung pakai pisau yang dimasukkan ke dalam cawan putih.

Cawan itu kemudian ditaruh di pinggir sungai sebagai sesajen. Usai menyajikan telur itu, beliau kemudian meninggalkan lokasi.
“Nungga di son be nasida ale natua-natua. Unang lului hamu be hu hadaoan an, di son ma lului. (Dia sudah di sini, jangan lagi kalian cari di danau sana. Carilah di sini, dia sudah di sini),” ujar dukun kepada warga.

Usai menyajika sesajen itu, awak media ini kemudian coba bertanya kepada seorang pria bermarga Manurung, warga sekitar lokasi yang sudah berusia 55 tahun.

Dari pengakuan Manurung, yang dikatakan sang dukun memang benar. “Iya, berdasarkan cerita orang tua saya itu memang benar. Dulu di sini ada seorang laki-laki remaja yang menggembala kerbaunya. Tapi dia kemudian ditarik-tarik oleh kerbaunya itu hingga ke sungai ini hingga mati. Tapi sayapun nggak tau persis kapan kejadian itu, yang pasti itu sebelum saya lahir. Mungkin itu yang disebut Bapak (dukun) itu tadi,” sebutnya.

Namun pernyataan itu tidak diketahui oleh orang tua lain bermarga Simangunsong yang sudah berusia 71 tahun.”Kalau soal itu nggak ingat lagi aku bah, nggak taulah entah pas masa lajang saya dulu kejadiannya. Soalnya masa lajang saya diperantauan. Jadi nggak tau apa-apa yang terjadi di kampung ini,” ujar Simangunsong. (alex)

Tags:
Loading...
author
Manusia biasa, Murah Senyum dan Ramah. Tapi, Benci Lihat Ketidak Adilan.